Berpose pada hari pertama tahun baru 2012.
Cubodak Utan (Cempedak Hutan) Foto ini saya ambil 27 Desember 2011.
Filed under Cerita Tentang Kampar, Photo(s)
Foto ini saya ambil tanggal 27-12-2011. Orang Kampar menyebutnya buah pulasan/palasan/plasan. Daging buahnya mirip dengan buah rambutan namun cita rasanya sedikit berbeda. Sebahagaian orang mengatakan buah pulasan lebih lezat dibandingkan buah rambutan. Namun untuk membandingkannya lebih baik anda mencobanya langsung.
Filed under Cerita Tentang Kampar, Photo(s)
Sekarang di kampung halaman saya, di kabupaten Kampar sedang musim durian. Konon durian yang berasal dari kabupaten ini termasuk durian yang memiliki cita rasa yang sangat lezat. Banyak cara orang menikmati durian ini.
Bagi ibu-ibu, biasanya mereka membuat gulai durian. Bumbu gulai durian ini sama saja dengan bumbu gulai lainya (gulai daun ubi, gulai kacang, gulai terong) yaitu menggunakan santan kelapa serta bumbu dapur lainya sebagai kuah gulainya. Durian yang digunakan untuk digulai adalah durian mentah, namun sudah tua bahkan durian yang mengkal (mancimpu) pun sangat lezat untuk digulai.
Cara kedua menikmati durian, yaitu dengan melahap durian tersebut. Daging buahnya yang lezat langsung disantap. Namun harus waspada karena bisa menyebabkan efek samping kalau makan berlebihan. Selain itu orang Kampar memiliki kebiasaan tersendiri untuk menghilangkan aroma sendawa (sondo) yang cukup mengganggu tersebut dengan cari meminum air putuh yang dituangkan di kulit (ruang) durian tersebut. Saya tidak tahu apa kaitan minum dengan cara tersebut sehingga dapat menghilangkan sendawa.
Cara makan durian yang ketiga terbilang istimewa, yaitu makan durian dengan kombinasi nasi ketan (pulut) ataupun lemang (juga terbuat dari beras ketan). Kedua jajanan (makan kawah) ini cukup mudah untuk diperoleh. Ketan bisa dimasak seperti menanak nasi biasa sedangkan lemang bisa didapatkan di setiap pasar yang ada di negeri-negeri Kampar (di Kuok, Bangkinang, Air Tiris, Rumbio, pasar Kampar, Danau Bingkuang dan di pasar-pasar daerah Kampar Kiri).
Cara terakhir menyantap durian yaitu dengan mengubah durian menjadi asam durian. Daging durian dipisah dari bijinya kemudian diaduk rata lalu didiamkan beberapa hari dalam wadah tertutup maka jadilah asam durian (daerah lain menyebutnya dengan Tempoyak). Asam durian ini sangat lezat apabila dicampur dengan sambal lado menjadikan aroma sambal lado berasa durian. Bahkan ada yang menjadikan asam durian ini sebagai bumbu tambahan untuk gulai sayur, dll. Sekarang terserah anda ingin menikmati durian dengan cara apa. Sediakan uang, meluncur ke Kampar dan bersiap untuk wisata kuliner durian di Negeri serambi Makkah-nya Riau ini.
Filed under Cerita Tentang Kampar
Ini sudah periode ke-2 saya mendapat undangan (setelah menjadi alumni Pascasarjana di ITB tahun 2007) untuk mencoblos dalam pemilihan ketua IA-ITB. Di wilayah Riau pencoblosan dapat dilakukan pada hari ini sabtu dari jam 09.00-15.00 di salah satu hotel yang terletak di Pekanbaru dan Duri.
Undangannya saya terima dari ketua IA ITB Riau melalui sms. Jujur saya tidak punya pengetahuan tentang semua calon. Jadi belum tentu akan mencoblos hari ini.
Akhirnya, semoga terpilih ketua yang bisa mengurus IA ITB dan tentunya dapat merealisasikan program yang langsung menyentuh alumni itu sendiri.
Filed under Curhat
Prof.Dr. Amir Awaludin
Prof.Dr. Mashadi
Filed under Photo(s)
Ini Alifah Zhafirah waktu umur 1 bulan (tanggal yang tetera di photo tidak diset secara benar-harusnya 29 Oktober 2011)
Filed under Photo(s)
tms=[0.025 0.030 0.035];
for i=1:length(tms);
for j=1:125;
psm(j)=j+0.5;
t(i,j)= tms(i)*0.14/((psm(j).^(0.02))-1);
end
end
semilogx(psm,t(1,:), psm,t(2,:),psm,t(3,:))
grid on
xlabel(‘Current(PSM) – ampere’)
ylabel(‘Time (detik)’)
title(‘Time-Current Curve’)
legend(‘tms = 0.025′,‘tms = 0.030′,‘tms = 0.035′,1)

Filed under Artikel
Sejak umur 5 tahun saya sudah bisa berenang. Tidak ada yang mengajari. Biasanya orang-orang di pinggiran sungai Kampar belajar berenang secara alami. Saat air sungai Kampar surut (biasanya musim kemarau) adalah waktu yang tepat untuk belajar berenang. Permukaan air sungai yang setinggi dada membuat saya lebih mudah untuk belajar berenang dan ditambah lagi dorongan teman-teman sebaya yang sudah duluan bisa berenang.
Saat bisa berenang adalah saat yang membahagiakan. Frekeuensi mengunjung sungai Kampar pun menjadi bertambah. Kalau sebelumnya hanya pagi dan sore saja, sekarang bisa menjadi 4-5 kali seharinya. Jadwalnya tidak menentu. Terkadang berangkat dan pulang sekolah dan sebelum dan sesudah bermain.
Permainan disungai cukup banyak dan membahagiakan. Perang air, sadundo (gulat di tepian tebing sungai yang berlumpur dengan ketinggian tebing 2-5 m untuk menjatuhkan lawan ke dalam sungai), berpacu berenang ke seberang, menahan napas (menyelam selama mungkin) dan banyak lainnya.
Dari sekian banyak permainan tersebut ada sebuah permainan aneh dan menantang. Alkisah sebuah batang besar yang terendam di dasar sungai ternyata memiliki ketahanan khusus. Dalam waktu lama, batang tersebut perlahan akan terurai pada bagian dalamnya sedangkan bagian luarnya bertambah kuat. Lama kelamaan batang ini akan berlobang dan menjadi bentuk seolah seperti pipa besar yang panjang. Inilah tantangan yang tidak bisa dilupakan. Kami mengambil ancang-ancang untuk bernafas secara dalam lalu menyelam ke dasar sungai dimana batang yang berlobang tersebut sudah menunggu. Kepala diarahkan ke lobang tersebut yang diameternya hanya cukup untuk satu badan mungilku. Meliukan badan seperti belut berusaha untuk mencapai bahagian ujung dari batang tersebut dan kembali menuju permukaan sungai dengan secepat mungkin. Kalau tidak cepat maka akan kehabisan napas. Kalau tidak konsentrasi makan akan terjepit didalam lobang tersebut. Maka muncullah kisah batang makan orang. Alhamdulillah diantara kami yang telah mencoba untuk masuk ke batang tersebut tidak satupun yang terjepit walau diamaternya sempit dan panjang batang cukup panjang (kl 10 meter).
Filed under Cerita Tentang Kampar