Debar di Danau Kembar

Setelah singgah di perkebunan teh di Alahan Panjang, perjalanan kami pada hari ahad 24 Desember 2017 tersebut lalu kami lanjutkan ke danau kembar. Dua buah danau yang membuat jantung berdebar karena keindahannya. Rute kami seperti ditunjukan pada Gambar 1 di bawah ini. Tak terlalu jauh jarak dari perkebunan teh menuju danau ini. Ditambah lagi jalan yang mulus dan kepadatan yang rendah. Sebenarnya jalur ini adalah jalur lintas ke muara labuh lalu bisa membawa kita ke Kerinci Propinsi Jambi. Di kerinci inilah akan kita temukan sebuah gunung yang bernama kerinci yang merupakan gunung tertinggi di pulau sumatera.

Figure 1. Rute dari kebun teh alahan panjang menuju danau kembar.

 

Danau kembar ini bernama danau di atas dan danau di bawah. Danau di atas dinamakan demikian karena permukaan air danaunya (terhadapa permukaan laut) lebih tinggi dibandingkan danau di bawah. Walaupun secara topografi seolah olah danau di bawah berada pada permukaan tanah lebih tinggi sedangkan danau di atas berada pada permukaan tanah lebih rendah. Hal ini di karenakan pada danau di bawah air danaunya jauh di bawah lembah danau sedangkan pada danau di atas air danaunya hampir sejajar dengan tepian danau.

Berikut beberapa Gambar yang sempat saya abadikan di lokasi danau kembar ini.

Figure 2. Berpose sejenak di tepian danau di atas

Figure 3. Anak anak mandi di tepian bernama pasir panjang di danau di atas

Figure 4. Masjid nan bersih di daerah danau di atas

Figure 5. Panorama danau di atas

Figure 6. Panorama danau di bawah

Demikian sedikit ulasan tentang kunjungan kami di danau kembar ini.

 

 

 

Advertisements

Teh Membentang di Alahan Panjang

Setelah melepaskan lelah di penginapan di Danau Singkarak, maka pada Ahad 24 Desember 2017 Kami bertolak menuju Alahan Panjang. Alahan panjang adalah lokasi dingin yang berada di Lembah Gumanti-Solok.

Gambar di bawah ini menunjukan rute yang kami tempuh untuk mencapai alahan panjang.

Figure 1 Rute Singkarak ke Alahan Panjang

Secara garis besar waktu yang diperlukan dari singkarak adalah kurang dari 2 jam. Apa istimewanya Alahan Panjang? Salah satu atraksi yang mempesona adalah hambaran dan bentangan kebun teh yang menghijau dan sejuk dipandang mata. Ternyata tidak hanya kami yang berkeinginan menuju destinasi ini. Banyak pengunjung lain yang kami jumpai di sana. Cara termudah untuk menikmati bentangan kebun teh di alahan panjang ini adalah, dengan cara memparkir kendaraan kami di tepi jalan persis di pinggir kebun teh tersebut. Tak jauh dari lokasi parkir juga ada banyak pondokan yang menyediakan jagung bakar dan makanan ringan lainnya. Kami tidak sempat mencicipi kelezatan jagung bakar tersebut karena masih kenyang setelah sarapan di kota Solok nya.

Berikut beberapa Gambar yang menggambarkan keindahan dan kehijauan kebun teh nan terbentang di alahan panjang tersebut.

Figure 2 Wefie dengan istri tercinta

Figure 3 Anak anak berpose di bentangan teh di alahan panjang

Figure 4 Berpose dengan anak anak

Figure 5 Kebun teh hijau terbentang

Awan Berarak di Danau Singkarak

Perjalan kami sekeluarga cukup panjang. Dimulai sejak Sabtu tanggal 23 Desember sampai dengan Selasa 26 Desember 2017. Tujuan kami adalah propinsi tetangga, Sumatera Barat. Secara garis besar, tujuan yang kami lalui adalah Kelok 9, Danau Singkarak, kebun teh di Alahan Panjang, Danau Di Atas dan Danau di Bawah (Danau Kembar), Kota Padang, Pantai Caroline Padang, Kota Padang Panjang dan Lembah Harau.

Perjalanan selama 4 hari 3 malam tersebut akan saya tuliskan secara tidak berurutan. Tulisan yang pertama ini akan di mulai dengan Danau Singkarak. Untuk menuju Danau Singkarak, saya melewati jalan utama lintas Riau ke Sumatera Barat. Dari rumah kami di Belfast Shop (Perumnas Unri jalan garuda sakti Pekanbaru), saya singgah 1 kali yaitu di kelok sembilan lalu dilanjutkan ke Danau Singkarak. Gambar di bawah ini menunjukan screenshoot yang saya ambil dari google map untuk menunjukan rute yang kami tempuh.

Secara garis besar, kota yang kami lewati dari Pekanbaru sampai ke Danau Singkarak, antara lain: Pekanbaru, Bangkinang, Kelok 9, Sarilamak, Payakumbuh, Masuk Simpang Piladang, Batusangkar dan akhirnya sampai ke Danau Singkarak.

Danau singkarak merupakan sebuah danau terbesar ke-2 setelah Danau Toba di Sumatera Utara. Awan berarak di Danau Singkarak akhirnya berubah menjadi gerimis yang cukup panjang namun hal tersebut tak menyurutkan saya dan anak anak untuk mandi di airnya yang segar tersebut. Karena hujan yang turun berapa hari berturut turut menyebabkan air danau menjadi naik sehingga tidak banyak lokasi yang dangkal yang tepat untuk berenang bagi anak anak. Kami akhirnya mendapatkan lokasi yang bernama tanjung mutiara. Tiket masuk Rp 5.000 per orang dan sewa ban dalam sebesar Rp 10.000 per buah. Berikut gambar saya dan anak anak saat menikamti segarnya air Danau Singkarak.

Figure 1. Mandi di Danau Singkarak

Figure 2. Berpose sejenak di Pesanggrahan Singkarak.

Perjalanan di Singkarak Kami tutup dengan istirahat malam di sebuah hotel melati yang tak jauh dari pinggir danau. Biaya penginapan sebesar Rp 375.000 termasuk harga yang terjangkau namun sarapan yang diberikan adalah minuman teh atau kopi dipadukan dengan roti bakar sederhana.

 

 

Menaikan H Index pada Google Scholar

Gambar di atas adalah screen shoot profil saya pada Google Scholar. Terlihat pada gambar di atas bahwa H index saya sudah mencapai 2. Semakin tinggi nilai H index seseorang maka diindikasikan bahwa semakin bagus profil kecendiakawan seseorang tersebut. Lalu bagaimana sebenarnya menghitung H index secara gamblang tanpa menggunakan rumus yang susah?

H Indeks adalah jumlah publikasi (n) yang masing masing publikasi tersebut dirujuk sebanyak minimal n kali. Maka dari definisi di atas, H indeks 2 berarti adalah ada 2 buah publikasi yang dirujuk minimal 2 kali. Pada screen shoot di atas saya memiliki 2 buah publikasi yang dirujuk 3 kali dan 7 kali (3 dan 7 > 2).

Artinya jika saya ingin meningkatkan H index Saya dari 2 menjadi 3 maka Saya harus memiliki sebanyak 3 buah publikasi yang sudah dirujuk minimal 3 kali. Agar hal ini bisa terealisasi maka publikasi saya pada tahun 2015 yang masih dirujuk 2 kali harus ditingkatkan menjadi 3 sehingga nantinya ada 3 buah publikasi yang masing masing dirujuk minimal 3 kali yaitu: 7 kali (2007), 3 kali (2015) dan 3 kali (2015).

Katakan jika Anda ingin memiliki H Index yang tinggi seperti yang diperingkatkan oleh Sinta di sini (misal H Index 23) maka anda harus punya 23 publikasi yang masing masing telah dirujuk minal sebanyak 23 kali.

Tentunya usaha yang perlu dilakukan agar publikasi kita dirujuk oleh penulis lain pada publikasi mereka adalah dengan berbagai cara. Pertama menulis publikasi yang sedang trend di bidang kita, kedua berusaha menulis publikasi kita dengan baik dan benar dan mudah dimengerti oleh penulis lain sehingga menggugah mereka merujuk publikasi kita.

Sebenarnya gampang bukan?

Selamat berkarya, biarkan hasilnya bercerita di kemudian hari. Jika publikasi anda belum dirujuk oleh penulis lain maka jangan kecewa dan bersabara sajalah. Bisa jadi suatu saat akan ada yang merujuknya.

Kisah Daun Duek

Orang dapur dan ibu ibu sangat karib dengan batang kayu yang berdaun halus rimbun ini seperti pada gambar di bawah ini. Dau inilah yang menambah cita rasa masakan. Kami menyebutnya daun duek atau daun salam. Ia ditanam oleh ayah berpuluh puluh tahun lampau.


Sudah jamak di kampung bahwa bumbu hasil tanam tanaman seperti ini dan semisalnya kunyit serai dan lengkuas, mereka yang berjiran tetangga tak pernah memperjual belikannya. Cukup dengan kata “minto atau bai” atau minta dan beri. Minto den dau duek ciok…atau saya minta dau salam ciok. Maka dengan sekali anggukan, daun salam itu akan sudah berada di genggaman yang meminta tersebut.

 

Pernah juga orang yang datang hendak membeli untuk dijual lagi ke pasar pasar. Harga tak ditetapkan namun sering kali saya perhatikan satu ikatan besar, amak hanya ditinggalin uang pengganti Rp 5000. Tak ia soalkan dan uang inipun ia sedekahkan lagi ke orang lain atau ke mesjid.

Begitulah daun duek ini sudah menjadi perekat orang berjiran dan bertetangga. Yang perlu kita hindari adalah jika tak bisa menjadi daun duek maka setidaknya janganlah menjadi pengadu domba orang yang sudah baik silaturrrahimnya. Jika masih juga begitu, malulah sama daun duek ini.

Salam dari negeri tua melayu.

Kisah batang durian dan buah kelapa

Ini kelapa di halaman rumah kami di kampung. Sama hal dengan durian kelapapun bertabiat yang sama. Walaupun iklim terjadi pergantian yang diduga penyebab la langke (sudah langka) buah durian khas Kampar tersebut, namun kuat dugaan pula semakin kedekut dan komersial yang punya batang maka semakin sulit durian berbuah. Sedikit sedikit mereka akan bilang “durian kampar mah, makanya mahal kami jual”.


Saya narsis di dekat kelapa yang ditanam oleh Amak (6 Agustus 2017)

 

Pun demikian kelapa. Amak juga menjualnya ke orang orang kampung yang berhajatan besar semisal aqiqahan anak, berhelat nikah kawin dsb. Sebagian ia terima uangnya dan tak kurang dari 1/5 nya ia sedekahkan pula ke yang berhajat. Hasil penjualan kelapa dan buah buah lain yang tumbuh di halaman amak nan luas ini ia jadikan upah untuk orang yang menjual tenaga membersihkan lahan. Sebagian lagi ia jadikan uang daroma (dharma) pengisi bakul/kotak infaq di masjid dan surah di mana amak menjadi jamaah dan sekaligus penimba ilmu di rumah Allah swt. Tersebut.

Lebat jualah hendaknya tanam tanaman amak karena akan memberi manfaar ke khalayak.

Salam dari negeri tua melayu

Menerima surat yang “tak diinginkan”

Kemarin sore, saya menerima email singkat dari supervisor saya yang meneruskan email dari editor in chief nya IEEE Trans. On Power System sebuah jurnal yang menempati ranking teratas untuk bidang power system secara khusus dan nomor dua jika ditilik secara umum dalam kategori energy engineering and power technology.

Terusan emailnya sebenarnya panjang karena berisi komentar dari 4 orang penilai. Namun, kalimat pengantar yang diselipkan oleh supervisor saya di awal emailnya itu membuat saya menyimpulkan bahwa artikel kami yang kami masukan pada Februari 2017 lalu dinyatakan tidak layak untuk dipublikasikan di jurnal tersebut. Membaca komentar penilai membuat saya yakin bahwa beda penilai maka beda pula hasil penilaian yang mereka berikan. Penilai satu menuliskan kalimat yang pendek sekali “nice, well written, paper on interesting topic, with practical rresults in DigSilent/PowerFactory”. Namun penilai 2 s.d. penilai 4 memberikan komen yang cukup panjang bahkan berisi pertanyaan atas apa yang kami tulis (saya sebagai penulis 1). Skor menjadi 1 vs 3 agaknya menyebabkan artikel saya mendapatkan keterangan

” we regret to advise you that the reviewing Committees is unable to accept the subjet paper for publication as a PES Transaction paper” yang di bawahnya dibubuhkan nama editor in chief, Transcation on Power System, Prof. Nikos Hatziargyriou.

Terusan email dari supervisor itu lalu saya balas dengan ucapan terimakasih dan saya sampaikan ke tim penulis lainnya yang juga di c.c. kan bahwa saya mengambil pelajaran atas keberhasilan yang tertunda ini. Semoga bisa menjadi penunjuk arah untuk artikel saya mendatang.

Figure 1. IEEE Transaction on Power Systems berada pada urutan 2 kategori Energy Engineering and Power Technology

 

Masih di hari yang sama, saya berhasil pula memasukan 1 buah proposal penelitian PTUPT dan 1 buah proposal PKM. Pemasukan proposal ini saya usahakan sedapat mungkin untuk menghindari tanggal 21 Juni 2017 sebagai deadline. Biasanya hari deadline tersebut merupakan hari yang tersibuk dan biasanya portal simlitabmas Ristek DIKTI akan terasa begitu lambat. Lagi lagi setelah saya berhasil upload kedua proposal penelitian dan pengabdian tersebut, maka salah satu kolega di grup media sosial mengabarkan bahwa ada perpanjang sampai dengan 7 Juli 2017. Pengumuman ini mungkin yang dinantikan oleh kolega lain dengan suka cita dikarenakan yang bersangkutan mungkin belum merampungkan proposal mereka, namun tentu tidak bagi saya karena saya sudah mengupload seluruh proposal dan segala persyaratannya sesuai dengan pemahaman saya. Terkait apakah nantinya akan diterima maka hal itu akan terpulang ke keputusan tim penilai dikti nantinya. Tak sedikitpun saya risau akan hal itu.

Sejak aktip pada 1 Juni 2016, saya sudah menulis dan berpatisipasi pada 8 buah proposal penelitian dan pengabdian. 1 proposal penelitian fundamental Ristek DIKTI 2016 lalu sebesar 100jt ditolak, 2 buah proposal penelitian dari PNBP UR diterima dengan dana total 56 juta, 2 penelitian PTUPT Ristek DIKTI (masing masing sebagai ketua dan anggota 1) dengan total 660 per tahun masih dalam tahap seleksi, 1 proposal PKM Ristek DIKTI sebagai ketua sebesar 50jt masih dalam tahap seleksi, 2 proposal PertaminaFlip Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) PT. Pertamina pusat dan regional sumatera kedua nya sebagai ketua pengusul dengan total dana 1 M masih menunggu proses seleksi dari PT. Pertamina.

Setelah proposal tersebut terkirim maka tugas selanjutnya adalah berdoa dan bertawakkal kepada allah swt atas keputusan yang akan dihadapi.

Akhirnya sekilas, saya menerima surat atau pemberitahuan yang tak ingin saya terima isinya, yaitu: surat penolakan dari Editor in Chief karena saya berharap artikel ini di terima dan kedua surat perpanjangan pemasukan proposal dari Ristek DIKTI karena saya sudah memasukan proposal jadi tak membutuhkan perpanjangan.

Apapun jenis keputusan yang menghapiri kita maka sebaik baik reaksi adalah tawakkal ilallahu.

 

 

Rihlah 4: Warung Lesehan Sampan Ngarai Sianok

Penjelajahan kami sekeluarga pada tanggal 29 Desember 2016 hari itu ditutup dengan sholat magrib di masjid raya bukittinggi. Setelah selesai sholat kamipun mencari makanan dikarenakan lapar sudah mulai terasa.

Sembari mencari makan dan penginapan rute perjalanan dari jam gadang bukittinggi kembali kami arahkan ke arah luar kota bukittinggi menuju kota payakumbuh. Akhirnya kami mampir di km 4 ruas jalan bukittinggi – payakumbuh di sebuah tempat makan. Tempat makan ini menyediakan masakan khas yang didominasi oleh menu ayam namun juga terdapat nasi goreng.

Malam telah menunjukan jam 10.30an, hotel di sekitaran jam gadang penuh dikarenakan mungkin banyak pelancong yang ingin berwisata ke kota wisata itu. Akhirnya kami beruntung mendapatkan hotel yang tersedia di km 4 tersebut.

Akhirnya kami menginap di sana untuk kembali melepas lelah setelah seharian mampir dari satu titik ke titik lainnya.

Setelah sarapan pagi akhirnya kami menuju Ngarai Sianok. Ngarai/Lembah/Canyon ini sangat terkenal dengan keindahan dan keunikannya.

Sebelum menyusuri sungai dan tebing curam di ngarai sianok tersebut terlebih dahulu kami kembali mengisi perut untuk sarapan pagi pada 30 Desember 2016 tersebut. Pilihan kami tertuju ke warung lesehan sampan. Tata letak warung ini sangt indah dan pemandangan di belakang lokasi warung yang menunya sangat murah tersebut juga sangat indah. Berikut beberapa photo di lokasi warung lesehan sampan.

Bagian Kasir Warung Lesehan Sampan (Courtesy of Iswadi)

Warung Lesehan Sampan dengan ornamen sampannya (Courtesy of Iswadi)

Berphoto bersama di bagian dalam warung lesehan sampan (Courtesy of Iswadi)

Saya narsis di bagian belakang warung lesehan sampan (Courtesy of Iswadi)

Rihlah 3: Jam Gadang di Bukittinggi

Setelah beberapa jam menikmati indahnya pemandangan pagi hingga siang itu di lembah harau, kamipun beranjak menunju kota bukittinggi. Jam gadang adalah ikon kota yang hampir tak pernah dilewatkan oleh para pelancong baik lokal maupun manca negara.

Rute dari haru ke bukittingi seperti ditunjukan oleh google map di bawah ini. Kurang dari 1.5 jam kami pun berada di kota bukittinggi.

Kami tiba di kota bukittinggi pada Kamis 29 Desember 2016 di sore menjelang magrib. Setelah berphoto beberapa saat di waktu temaramnya senja kami pun beranjak untuk menunaikan sholat Magrib yang dijamak dengan sholat isya di masjid raya bukittinggi. Masjid raya ini sangat dekat sekali dari Jam gadang nan terkenal itu.

Kendaraan kami parkir di halaman kantor PDAM. Bukan barang rahasia lagi, area parkir di sekitar jam gadang sangat terbatas, mengingat begitu banyaknya pengunjung nan tumpah ruah. Bagi sebagaian orang kondisi yang padat ini membuat kebersahajaan jam gadang terasa berkurang. Biaya parkir tidak dipatok namun biasanya petugas parkir akan meminta sebesar 5.000 rupiah per sekali parkir. Bagi saya biaya sebesar itu, cukup wajar mengingat terkadang pengendara bisa saja parkir berjam jam lamanya semisal sampai dengan 4 jam.

Berikut beberapa photo photo di lokasi jam gadang di kota bukittinggi nan elok ini.

Dengan latar jam gadang (Courtesy of Iswadi )

Dengan latar jam gadang (Courtesy of Iswadi )

Rihlah 2: Lembah Harau Nan Memukau

Waktu singgah di kelok 9 selain menikmati panorama jalan layang kelok 9 nan megah itu kami juga melepas penat sembari menikmati hidangan jajanan khas daerah setempat. Sate khas minangkabau, kopi serja jajanan murah adalah sasaran kami. Berbagai gorengan dijual seharga yang sama di tempat tempat lainnya. Setiap gorengan dihargai 1.000 rupiah sedangkan secangkir kopi dihargai 5.000 rupiah. Anak anak saya makan sate ayam khas minangkabau dengan seporsinya seharga 12.000 rupiah.

Setelah rehat sejenak dan mengisi perut pada pagi jam 10 tersebut perjalanan kami lanjutkan kembali. Kali ini tujuan kami adalah lembah harau, Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat. Sebuah lembah (Valley) yang sangat menawan dan indah yang berada di Kabupaten 50 Kota. Sarilamak adalah ibukota kabupaten ini. Lokasi lembah harau dari kelok 9 kurang lebih 13 km dan sangat dekat dengan kantor bupati 50 Kota yang terletak di sarilamak.

Rute yang kami tempuh persis sama dengan rute yang ditunjukan oleh google maps di bawah ini. Mengendarai kendaraan dengan santai, maka kami tiba di sana setelah menempuh perjalanan selama setengah jam dari kelok 9.

Tiket masuk ke lembah harau ini didapatkan di gapura masuk yang dijaga oleh anak muda tempatan. Harga tiket tidak terlalu mahal, 5.000 rupiah per kepala. Kami berlima beranak hanya diminta membayar 20.000 karena dapat diskon 1 orang. Sedangkan biaya parkir kendaraan dipatok seharga 5.000 rupiah, harga yang sangat murah menurut saya mengingat kami menghabiskan waktu hampir 4 jam di sana.

Kami membeli bekal lauk di rumah makan yang tak jauh dari gerbang masuk yang bertuliskan Harau Resort. Istri membeli 4 potong lauk dan 1 bungkus nasi ramas khas minangkabau. Seingat saya porsi nasi ramas bungkus ini cukup besar mungkin setara dengan 1.5 porsi normal. Nasi putih yang kami bawa dari rumah di Pekanbaru masih tersisa di dalam mobil karena itulah istri hanya menambah 4 porsi lauk saja dan 1 bungkus nasi ramas.

Menikmati makan siang di daerah yang tenang dan sejuk ini sangatlah menentramkan. Saya dan keluarga makan berebutan namun masih tetap tertib. Kami makan di tengah taman yang dikelilingi oleh kolam yang dijadikan wahana untuk bersampan. Asyik juga menikamti makanan sembari melihat orang lalu lalu dan melihat perahu kecil didayung oleh penggunan serta melihat belahan dua tebing yang menjulang tinggi itu.

Berikut beberapa photo yang saya abadikan saat singgah di harau pada Kamis 29 Desember 2016 lalu.

Di Lembah harau (Courtesy of Iswadi)

Makan di tengah Lembah harau (Courtesy of Iswadi)

Wahana perahu dayung di tengah Lembah harau (Courtesy of Iswadi)

Ikan ikan emas di tengah Lembah harau (Courtesy of Iswadi)

Rumah gadang di tengah Lembah harau (Courtesy of Iswadi)

Mushalla di tengah Lembah harau (Courtesy of Iswadi)

Berpose di tengah Lembah harau (Courtesy of Iswadi)