Menaikan H Index pada Google Scholar

Gambar di atas adalah screen shoot profil saya pada Google Scholar. Terlihat pada gambar di atas bahwa H index saya sudah mencapai 2. Semakin tinggi nilai H index seseorang maka diindikasikan bahwa semakin bagus profil kecendiakawan seseorang tersebut. Lalu bagaimana sebenarnya menghitung H index secara gamblang tanpa menggunakan rumus yang susah?

H Indeks adalah jumlah publikasi (n) yang masing masing publikasi tersebut dirujuk sebanyak minimal n kali. Maka dari definisi di atas, H indeks 2 berarti adalah ada 2 buah publikasi yang dirujuk minimal 2 kali. Pada screen shoot di atas saya memiliki 2 buah publikasi yang dirujuk 3 kali dan 7 kali (3 dan 7 > 2).

Artinya jika saya ingin meningkatkan H index Saya dari 2 menjadi 3 maka Saya harus memiliki sebanyak 3 buah publikasi yang sudah dirujuk minimal 3 kali. Agar hal ini bisa terealisasi maka publikasi saya pada tahun 2015 yang masih dirujuk 2 kali harus ditingkatkan menjadi 3 sehingga nantinya ada 3 buah publikasi yang masing masing dirujuk minimal 3 kali yaitu: 7 kali (2007), 3 kali (2015) dan 3 kali (2015).

Katakan jika Anda ingin memiliki H Index yang tinggi seperti yang diperingkatkan oleh Sinta di sini (misal H Index 23) maka anda harus punya 23 publikasi yang masing masing telah dirujuk minal sebanyak 23 kali.

Tentunya usaha yang perlu dilakukan agar publikasi kita dirujuk oleh penulis lain pada publikasi mereka adalah dengan berbagai cara. Pertama menulis publikasi yang sedang trend di bidang kita, kedua berusaha menulis publikasi kita dengan baik dan benar dan mudah dimengerti oleh penulis lain sehingga menggugah mereka merujuk publikasi kita.

Sebenarnya gampang bukan?

Selamat berkarya, biarkan hasilnya bercerita di kemudian hari. Jika publikasi anda belum dirujuk oleh penulis lain maka jangan kecewa dan bersabara sajalah. Bisa jadi suatu saat akan ada yang merujuknya.

Advertisements

Kisah Daun Duek

Orang dapur dan ibu ibu sangat karib dengan batang kayu yang berdaun halus rimbun ini seperti pada gambar di bawah ini. Dau inilah yang menambah cita rasa masakan. Kami menyebutnya daun duek atau daun salam. Ia ditanam oleh ayah berpuluh puluh tahun lampau.


Sudah jamak di kampung bahwa bumbu hasil tanam tanaman seperti ini dan semisalnya kunyit serai dan lengkuas, mereka yang berjiran tetangga tak pernah memperjual belikannya. Cukup dengan kata “minto atau bai” atau minta dan beri. Minto den dau duek ciok…atau saya minta dau salam ciok. Maka dengan sekali anggukan, daun salam itu akan sudah berada di genggaman yang meminta tersebut.

 

Pernah juga orang yang datang hendak membeli untuk dijual lagi ke pasar pasar. Harga tak ditetapkan namun sering kali saya perhatikan satu ikatan besar, amak hanya ditinggalin uang pengganti Rp 5000. Tak ia soalkan dan uang inipun ia sedekahkan lagi ke orang lain atau ke mesjid.

Begitulah daun duek ini sudah menjadi perekat orang berjiran dan bertetangga. Yang perlu kita hindari adalah jika tak bisa menjadi daun duek maka setidaknya janganlah menjadi pengadu domba orang yang sudah baik silaturrrahimnya. Jika masih juga begitu, malulah sama daun duek ini.

Salam dari negeri tua melayu.

Kisah batang durian dan buah kelapa

Ini kelapa di halaman rumah kami di kampung. Sama hal dengan durian kelapapun bertabiat yang sama. Walaupun iklim terjadi pergantian yang diduga penyebab la langke (sudah langka) buah durian khas Kampar tersebut, namun kuat dugaan pula semakin kedekut dan komersial yang punya batang maka semakin sulit durian berbuah. Sedikit sedikit mereka akan bilang “durian kampar mah, makanya mahal kami jual”.


Saya narsis di dekat kelapa yang ditanam oleh Amak (6 Agustus 2017)

 

Pun demikian kelapa. Amak juga menjualnya ke orang orang kampung yang berhajatan besar semisal aqiqahan anak, berhelat nikah kawin dsb. Sebagian ia terima uangnya dan tak kurang dari 1/5 nya ia sedekahkan pula ke yang berhajat. Hasil penjualan kelapa dan buah buah lain yang tumbuh di halaman amak nan luas ini ia jadikan upah untuk orang yang menjual tenaga membersihkan lahan. Sebagian lagi ia jadikan uang daroma (dharma) pengisi bakul/kotak infaq di masjid dan surah di mana amak menjadi jamaah dan sekaligus penimba ilmu di rumah Allah swt. Tersebut.

Lebat jualah hendaknya tanam tanaman amak karena akan memberi manfaar ke khalayak.

Salam dari negeri tua melayu

Menerima surat yang “tak diinginkan”

Kemarin sore, saya menerima email singkat dari supervisor saya yang meneruskan email dari editor in chief nya IEEE Trans. On Power System sebuah jurnal yang menempati ranking teratas untuk bidang power system secara khusus dan nomor dua jika ditilik secara umum dalam kategori energy engineering and power technology.

Terusan emailnya sebenarnya panjang karena berisi komentar dari 4 orang penilai. Namun, kalimat pengantar yang diselipkan oleh supervisor saya di awal emailnya itu membuat saya menyimpulkan bahwa artikel kami yang kami masukan pada Februari 2017 lalu dinyatakan tidak layak untuk dipublikasikan di jurnal tersebut. Membaca komentar penilai membuat saya yakin bahwa beda penilai maka beda pula hasil penilaian yang mereka berikan. Penilai satu menuliskan kalimat yang pendek sekali “nice, well written, paper on interesting topic, with practical rresults in DigSilent/PowerFactory”. Namun penilai 2 s.d. penilai 4 memberikan komen yang cukup panjang bahkan berisi pertanyaan atas apa yang kami tulis (saya sebagai penulis 1). Skor menjadi 1 vs 3 agaknya menyebabkan artikel saya mendapatkan keterangan

” we regret to advise you that the reviewing Committees is unable to accept the subjet paper for publication as a PES Transaction paper” yang di bawahnya dibubuhkan nama editor in chief, Transcation on Power System, Prof. Nikos Hatziargyriou.

Terusan email dari supervisor itu lalu saya balas dengan ucapan terimakasih dan saya sampaikan ke tim penulis lainnya yang juga di c.c. kan bahwa saya mengambil pelajaran atas keberhasilan yang tertunda ini. Semoga bisa menjadi penunjuk arah untuk artikel saya mendatang.

Figure 1. IEEE Transaction on Power Systems berada pada urutan 2 kategori Energy Engineering and Power Technology

 

Masih di hari yang sama, saya berhasil pula memasukan 1 buah proposal penelitian PTUPT dan 1 buah proposal PKM. Pemasukan proposal ini saya usahakan sedapat mungkin untuk menghindari tanggal 21 Juni 2017 sebagai deadline. Biasanya hari deadline tersebut merupakan hari yang tersibuk dan biasanya portal simlitabmas Ristek DIKTI akan terasa begitu lambat. Lagi lagi setelah saya berhasil upload kedua proposal penelitian dan pengabdian tersebut, maka salah satu kolega di grup media sosial mengabarkan bahwa ada perpanjang sampai dengan 7 Juli 2017. Pengumuman ini mungkin yang dinantikan oleh kolega lain dengan suka cita dikarenakan yang bersangkutan mungkin belum merampungkan proposal mereka, namun tentu tidak bagi saya karena saya sudah mengupload seluruh proposal dan segala persyaratannya sesuai dengan pemahaman saya. Terkait apakah nantinya akan diterima maka hal itu akan terpulang ke keputusan tim penilai dikti nantinya. Tak sedikitpun saya risau akan hal itu.

Sejak aktip pada 1 Juni 2016, saya sudah menulis dan berpatisipasi pada 8 buah proposal penelitian dan pengabdian. 1 proposal penelitian fundamental Ristek DIKTI 2016 lalu sebesar 100jt ditolak, 2 buah proposal penelitian dari PNBP UR diterima dengan dana total 56 juta, 2 penelitian PTUPT Ristek DIKTI (masing masing sebagai ketua dan anggota 1) dengan total 660 per tahun masih dalam tahap seleksi, 1 proposal PKM Ristek DIKTI sebagai ketua sebesar 50jt masih dalam tahap seleksi, 2 proposal PertaminaFlip Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) PT. Pertamina pusat dan regional sumatera kedua nya sebagai ketua pengusul dengan total dana 1 M masih menunggu proses seleksi dari PT. Pertamina.

Setelah proposal tersebut terkirim maka tugas selanjutnya adalah berdoa dan bertawakkal kepada allah swt atas keputusan yang akan dihadapi.

Akhirnya sekilas, saya menerima surat atau pemberitahuan yang tak ingin saya terima isinya, yaitu: surat penolakan dari Editor in Chief karena saya berharap artikel ini di terima dan kedua surat perpanjangan pemasukan proposal dari Ristek DIKTI karena saya sudah memasukan proposal jadi tak membutuhkan perpanjangan.

Apapun jenis keputusan yang menghapiri kita maka sebaik baik reaksi adalah tawakkal ilallahu.

 

 

Rihlah 4: Warung Lesehan Sampan Ngarai Sianok

Penjelajahan kami sekeluarga pada tanggal 29 Desember 2016 hari itu ditutup dengan sholat magrib di masjid raya bukittinggi. Setelah selesai sholat kamipun mencari makanan dikarenakan lapar sudah mulai terasa.

Sembari mencari makan dan penginapan rute perjalanan dari jam gadang bukittinggi kembali kami arahkan ke arah luar kota bukittinggi menuju kota payakumbuh. Akhirnya kami mampir di km 4 ruas jalan bukittinggi – payakumbuh di sebuah tempat makan. Tempat makan ini menyediakan masakan khas yang didominasi oleh menu ayam namun juga terdapat nasi goreng.

Malam telah menunjukan jam 10.30an, hotel di sekitaran jam gadang penuh dikarenakan mungkin banyak pelancong yang ingin berwisata ke kota wisata itu. Akhirnya kami beruntung mendapatkan hotel yang tersedia di km 4 tersebut.

Akhirnya kami menginap di sana untuk kembali melepas lelah setelah seharian mampir dari satu titik ke titik lainnya.

Setelah sarapan pagi akhirnya kami menuju Ngarai Sianok. Ngarai/Lembah/Canyon ini sangat terkenal dengan keindahan dan keunikannya.

Sebelum menyusuri sungai dan tebing curam di ngarai sianok tersebut terlebih dahulu kami kembali mengisi perut untuk sarapan pagi pada 30 Desember 2016 tersebut. Pilihan kami tertuju ke warung lesehan sampan. Tata letak warung ini sangt indah dan pemandangan di belakang lokasi warung yang menunya sangat murah tersebut juga sangat indah. Berikut beberapa photo di lokasi warung lesehan sampan.

Bagian Kasir Warung Lesehan Sampan (Courtesy of Iswadi)

Warung Lesehan Sampan dengan ornamen sampannya (Courtesy of Iswadi)

Berphoto bersama di bagian dalam warung lesehan sampan (Courtesy of Iswadi)

Saya narsis di bagian belakang warung lesehan sampan (Courtesy of Iswadi)

Rihlah 3: Jam Gadang di Bukittinggi

Setelah beberapa jam menikmati indahnya pemandangan pagi hingga siang itu di lembah harau, kamipun beranjak menunju kota bukittinggi. Jam gadang adalah ikon kota yang hampir tak pernah dilewatkan oleh para pelancong baik lokal maupun manca negara.

Rute dari haru ke bukittingi seperti ditunjukan oleh google map di bawah ini. Kurang dari 1.5 jam kami pun berada di kota bukittinggi.

Kami tiba di kota bukittinggi pada Kamis 29 Desember 2016 di sore menjelang magrib. Setelah berphoto beberapa saat di waktu temaramnya senja kami pun beranjak untuk menunaikan sholat Magrib yang dijamak dengan sholat isya di masjid raya bukittinggi. Masjid raya ini sangat dekat sekali dari Jam gadang nan terkenal itu.

Kendaraan kami parkir di halaman kantor PDAM. Bukan barang rahasia lagi, area parkir di sekitar jam gadang sangat terbatas, mengingat begitu banyaknya pengunjung nan tumpah ruah. Bagi sebagaian orang kondisi yang padat ini membuat kebersahajaan jam gadang terasa berkurang. Biaya parkir tidak dipatok namun biasanya petugas parkir akan meminta sebesar 5.000 rupiah per sekali parkir. Bagi saya biaya sebesar itu, cukup wajar mengingat terkadang pengendara bisa saja parkir berjam jam lamanya semisal sampai dengan 4 jam.

Berikut beberapa photo photo di lokasi jam gadang di kota bukittinggi nan elok ini.

Dengan latar jam gadang (Courtesy of Iswadi )

Dengan latar jam gadang (Courtesy of Iswadi )

Rihlah 2: Lembah Harau Nan Memukau

Waktu singgah di kelok 9 selain menikmati panorama jalan layang kelok 9 nan megah itu kami juga melepas penat sembari menikmati hidangan jajanan khas daerah setempat. Sate khas minangkabau, kopi serja jajanan murah adalah sasaran kami. Berbagai gorengan dijual seharga yang sama di tempat tempat lainnya. Setiap gorengan dihargai 1.000 rupiah sedangkan secangkir kopi dihargai 5.000 rupiah. Anak anak saya makan sate ayam khas minangkabau dengan seporsinya seharga 12.000 rupiah.

Setelah rehat sejenak dan mengisi perut pada pagi jam 10 tersebut perjalanan kami lanjutkan kembali. Kali ini tujuan kami adalah lembah harau, Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat. Sebuah lembah (Valley) yang sangat menawan dan indah yang berada di Kabupaten 50 Kota. Sarilamak adalah ibukota kabupaten ini. Lokasi lembah harau dari kelok 9 kurang lebih 13 km dan sangat dekat dengan kantor bupati 50 Kota yang terletak di sarilamak.

Rute yang kami tempuh persis sama dengan rute yang ditunjukan oleh google maps di bawah ini. Mengendarai kendaraan dengan santai, maka kami tiba di sana setelah menempuh perjalanan selama setengah jam dari kelok 9.

Tiket masuk ke lembah harau ini didapatkan di gapura masuk yang dijaga oleh anak muda tempatan. Harga tiket tidak terlalu mahal, 5.000 rupiah per kepala. Kami berlima beranak hanya diminta membayar 20.000 karena dapat diskon 1 orang. Sedangkan biaya parkir kendaraan dipatok seharga 5.000 rupiah, harga yang sangat murah menurut saya mengingat kami menghabiskan waktu hampir 4 jam di sana.

Kami membeli bekal lauk di rumah makan yang tak jauh dari gerbang masuk yang bertuliskan Harau Resort. Istri membeli 4 potong lauk dan 1 bungkus nasi ramas khas minangkabau. Seingat saya porsi nasi ramas bungkus ini cukup besar mungkin setara dengan 1.5 porsi normal. Nasi putih yang kami bawa dari rumah di Pekanbaru masih tersisa di dalam mobil karena itulah istri hanya menambah 4 porsi lauk saja dan 1 bungkus nasi ramas.

Menikmati makan siang di daerah yang tenang dan sejuk ini sangatlah menentramkan. Saya dan keluarga makan berebutan namun masih tetap tertib. Kami makan di tengah taman yang dikelilingi oleh kolam yang dijadikan wahana untuk bersampan. Asyik juga menikamti makanan sembari melihat orang lalu lalu dan melihat perahu kecil didayung oleh penggunan serta melihat belahan dua tebing yang menjulang tinggi itu.

Berikut beberapa photo yang saya abadikan saat singgah di harau pada Kamis 29 Desember 2016 lalu.

Di Lembah harau (Courtesy of Iswadi)

Makan di tengah Lembah harau (Courtesy of Iswadi)

Wahana perahu dayung di tengah Lembah harau (Courtesy of Iswadi)

Ikan ikan emas di tengah Lembah harau (Courtesy of Iswadi)

Rumah gadang di tengah Lembah harau (Courtesy of Iswadi)

Mushalla di tengah Lembah harau (Courtesy of Iswadi)

Berpose di tengah Lembah harau (Courtesy of Iswadi)

Rihlah 1: Sensasi Tikungan Kelok 9

Rilah 1: Sensasi Tikungan Kelok 9

Pada saat liburan panjang anak sekolahan pekan lalu, saya manfaatkan untuk melakukan rihlah keluarga. Walaupun persiapan tidak terlalu sempurna maka setelah saya memoderatori penyampaian program kerja calon dekan FT UR pada Rabu 28 Desember 2016 lalu saya, istri dan anak anak sepakat bahwa kami akan melakukan rihlah ke kawasan sumatera barat.

Keberangkatan ke provinsi tetangga ini kami mulai pada kamis pagi tanggal 29 Desember 2016. Keberangkatan kami mulai dari tempat tinggal kami di komplek perumahan bina widya UNRI Panam dan ditargetkan berhenti di lokasi kelok 9 yang terkenal dengan sensasi tikungannya itu.

Perjalanan akan menghabiskan waktu selamat 3.5 jam jika berjalan santai. Saya memang tidak memaksakan mengendarai kendaraan dengan terburu buruh karena rihlah/perjalan kali ini tidak mengejar waktu tertentu namun lebih fokus sebagai momen untuk berlibur bersama keluarga.

Peta dari google map dibawah ini menunjukan rute sebenarnya yang kami lalu. Akan melewati kabupaten Kampar lalu menuju perbatasan Riau-Sumbar dan beberapa menit dari perbatasan tersebut akan bersua dengan kelok Sembilan tersebut.

Secara garis besar, kelok 9 sebenarnya merupakan jalan penghubung utama antara Riau dan Sumbar namun karena sensai tikungannya yang tajam dan memiliki 9 tikungan maka dikenal pula dengan kelok 9. Namun seiring dibangunnya jalan layang di lokasi tersebut maka pengendara bisa mempunya alternatip lain antara tetap menggunakan kelok 9 yang lama atau menggunakan jalan layang tersebut.

Akan halnya jalan layang ini, sekarang menjadi objek wisata baru di kawasan ini dikarena konstruksinya yang sangat bagus. Lihatlah photo di bawah ini atau photo photo yang sudah tersebut di media internet. Jalan layang kelok 9 ini saya tempuh saat menuju ke sumatera barat dan saat pulang menuju Riau pada tanggal 1 Januari 2017 nya saya juga berkesempatan untuk menempuh kelok 9 yang lama. Azkiya, anak saya mencoba menghitung jumlah tikungan di kelok 9 yang lama untuk memastikan apakah benar benar jumlah tikungannya 9. Secara garis besar tikungan tajamnya memang ada 9 walaupun jika diikutkan tikungan yang tak tajam maka jumlah tikungannya akan lebih dari 9 tikungan.

Jalan layang kelok 9 (Courtesy of Iswadi)

Foto keluarga dengan latar jalan layang di kelok 9 (Courtesy of Iswadi)

Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya

Kesalahan seseorang adalah saat ia mengalami kegagalan maka ia merasakan akhir dari segalanya.

Ujian sarjana saya dinyatakan gagal dan baru untuk ujian kedua saya lulus dan berhak menjadi sarjana di Undip. Di undip, bisa saja anda ujian sarjana lebih dari satu kali walau kejadian itu tak banyak.

Entah berapa kali saya gagal memenuhi skor TOEFL untuk syarat wajib kelulusan di magister ITB yang meminta 475 itu, namun akhirnya saya lewati juga dengan mengambil opsi mata kuliah bahasa inggris sebagai pengganti skor tersebut asalkan nilainya B maka dianggap setara. Sayang saya dapat C dan akhirnya harus test TOEFL lagi. Tes terakhir di pusat bahasa ITB dan beralaskan meja pimpong sebagai meja akhirnya sampai juga skor yang diinginkan.

Lamaran beasiswa S3 berulang ulang saya siapkan dari mulai kesiapan bahasa, berkas yang diminta dan kampus tujuan. Juga banyak kegagalan.

Jikalah kegagalan demi kegagalan itu menghentikan saya untuk berusaha maka sudah pasti saya takkan pernah sampai ke cita yang dituju.

Janganlah takut gagal namun takutlah jika anda harus berbuat curang dalam meraih tujuan.

Peringkat scopus tanah air

Berikut peringkat scopus institusi pendidikan tinggi dan penelitian yang ada di Indonesia berdasarkan jumlah publikasi yang terindeks oleh scopus.com.

Universitas Riau, tempat saya mengabdi, saat ini (22/07/2016) menduduki posisi 25 dengan jumlah publikasi sebanyak 329 buah.

Silahkan lihat di mana posisi institusi anda pada daftar di bawah ini.

Sengaja saya posting yang beginian ini dikarenakan DIKTI selalu mengucapkan scopus, scopus dan scopus.