Rihlah Keluarga 2019: Dari Rantauprapat dan mampir di masjid sebelum menuju ke Kisaran

Setelah melepas penat di salah satu hotel di kota Rantauprapat, maka pada jumat pagi tanggal 27 Desember 2019 kami pun melanjutkan perjalanan menuju Masjid Agung Ahmad Bakri di Kota Kisaran. Untuk jelasnya terkait masjid agung ini sila dicari di berbagai sumber yang ada.

Waktu perjalanan yang dibutuhkan kurang lebih 3 jam. Namun sebelum sampai ke tujuan, kami beberapa kali melakukan perhentian. Tujuannya adalah untuk menghilangkan kantuk dan lelah serta menikmati perjalanan untuk spot spot yang penting. Rute perjalan dapat dilihat pada screen shoot pada Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Rute Rantauprapat menuju Kisaran

Untuk perjalanan panjang memang dibutuhkan istirahat agar jarak jauh yang bakal ditempuh bisa dicapai. Sebelum sampai ke Kisaran, kami mampir di beberapa tempat. Masjid yang kami singgahi ini sangat nyaman dan cocok sekali untuk melepas lelah. Di masjid disediakan ruangan khusus bagi musafir. Dengan demikian maka para musafir akan lebih leluasa untuk beristirahat.

 

Gambar 2. Masjid yang kamis singgahi

Gambar 3. Ruang Istirahat yang ada di sisi lain halaman masjid

Di ruang istirahat ini kami sekeluarga bisa menikmati bekal yang telah disiapkan sebelumnya. Anak anak lebih memilih mi instant. Menggunakan air panas yang memang sudah disediakan sebelumnya dalam termos air maka anak anak membuat mi instant mereka masing masing. Saya lebih memilih untuk makan nasi yang sudah dimasak di rice cooker sebelumnya waktu di hotel. Lauk pauk yang memang disiapkan menjadi teman nasi tersebut. Setelah puas melepas lelah dan mengisi perut agar tidak keroncongan maka perjalanan kami lanjutkan menuju kota Kisaran yang akan saya tulis pada posting selanjutnya, insyaAllah.

 

 

Rihlah Keluarga: Ruas Tol Pekanbaru ke Minas

Pada tanggal 26 Desember sampai dengan 31 Desember tahun 2019 lalu saya melakukan perjalanan dengan keluarga. Tujuan utama kami sekeluarga adalah kota Medan dan Danau Toba.

Perjalanan sudah dipersiapkan beberapa hari sebelum 26 Desember tersebut. Istri dan anak perempuan mempersiapkan pakaian ganti serta bekal di perjalanan. Lauk yang bisa tahan untuk waktu lama dimasak oleh isteri, seperti rendang ikan salai patin serta goreng ikan teri kentang balado. Bekal ini dikemas dengan rapi agar terjaga kualitasnya. Tidak lupa kami membawa peralatan masak dan termos air untuk persediaan air panas. Termos ini sangat bermanfaat, terutama jika harus singgah di perjalanan sambil meneguk secangkir kopi panas serta mi instant.

Gambar 1. Gerbang tol Pekanbaru

Tanggal 23 Des sampai dengan 2 Januari 2020, pemerintah melakukan uji coba ruang jalan tol sepanjang 9 km dari gerbang pekanbaru menuju gerbang kota minas. Saya beruntuk bisa menjajal ruas jalan ini. Terlebih dahulu sehari sebelum berangkat saya suah membeli kartu non tunai, karena inilah syarat pengguna tol yang diinstruksikan oleh pemerintah. Beruntung, walaupun kita menggunakan kartu ini, namun saldo yang ada dalam kartu tidak dikurangi. Karena masih uji coba dan tentunya gratis.

Gambar 2. Ruas tol Pekanbaru ke Minas

Dengan adanya ruas tol ini, jarak sebenarnya sepanjang 13.5 km menjadi 9 km namun dengan waktu tempuh yang sangat singkat. Keberadaan tol ini tentunya bisa menjadi solusi untuk persoalan waktu tempuh dan kemacetan jika dibandingkan menggunakan jalan lintas pekanbaru minas.

Ke depan, target pemerintah, ruas tol ini akan diperpanjang dan diharapkan rampung pada Maret 2020 sehingga bisa menggapai kota Dumai yang berada di pesisir timur propinsi Riau (dekat selat Melaka). Rute selanjutnya yang akan kami lewati adalah kota Duri, Bagan Batu, lalu masuk ke provinsi Sumatera Utara yang akan saya tuliskan untuk postingan berikutnya. Selamat menikmati serial rihlah keluarga kami.

 

Perbedaan Jalan Cerita dan Cita

Alexander Trent-Arnold adalah produk lokal Liverpool. Kota yang saya singgahi setidaknya 2 kali. Sekali bersama anak saya Syafiq dan sekali lagi saya sendirian. Kami berdua beranak berlayar dengan Ferry dari Belfast ke Liverpool. Dalam hal sepak bola, Trent mengidolakan Gerrad. Ia ingin menjadi Gerrad sebagai pemain lapangan tengah. Hari ini dia tidak bermain di posisi yang ia impikan saat masa kecil. Namun capaian menjadi pemain belakang kanan dalam usianya yang masih 21 tahun mungkin adalah salah satu yang terbaik di saat ini. Agaknya prestasi Marcelo dari Madrid yang saat ini berusia 31 tahun mungkin bisa saja dicapai oleh Trent sebelum ia berusia 31 tahun. Bisa dibayangkan jika Liverpool bisa menjuarai liga. Maka akan luar biasalah gapaianya. Menyatakan impian jutaan pengagum Liverpool yang terpendam selama 30 tahun tentulah kegembiraan tiada tara.

Gambar 1. Berada di Ferry Penyeberangan Ambarita (Pulau Samosir) menuju Ajibata (Prapat)

Setamat dari SMANSa, saya lansung balik kampung. Tidak sedikitpun membeli formulir UMPTN apalagi ingin mendaftar PTS. Satu satunya ikhtiar waktu itu adalah mengisi berkas Penerimaan Siswa Siswi Berprestasi (PSSB) Undip. SMANSa tak membolehkan seorang siswa mengisi 2 formulir undangan atau lebih. Jika tak ada PTN yang menerima maka saya tentu akan mendaftar ke BLK di Jalan Terubuk di belakang rumah kakak yang saya tinggal selama 3 tahun di situ, ingin menjadi migrant worker di Taiwan. Itulah singkat fikirku waktu itu. Lalu saya teringat di tahun 2008an saya malah pernah menjadi pengajar di BLK tersebut. FT UNRI mempunyai kerjasama di bidang pengajaran dengan BLK. Akhirnya, Allah, He who knows best what suits you.

Zero waste wisdom

Kami orang kampar sudah punya kearifan disebut. Yaitu, sebuah kebudaan yang terbiasa dengan kondisi tanpa sampah.

Sedangkan kebutuhan sehari hari berusaha disiasati dari usaha sendiri. Maka tak heranlah, kalau orang orang kampar yang ada di pedalaman memiliki cara sendiri untuk memenuhinya.

Untuk kebutuhan air, mereka akan menampung air hujan dengan cara membuat talangan air yang mengelilingi penjuru cucuran atap di sekeliling rumah. Muara dari talang air ini akan diarahkan ke kula duduk (sumur duduk) yang berdimensi besar. Agaknya, kula duduok ini bisa berukuran s.d. 50 m3. Ukuran ini tentu cukup untuk kebutuhan air sampai dengan turunnya hujan pada hari hari berikutnya.

Sedangkan untuk limbah pembuangan/air cucian akan ditampung pada sebuah tobek (tebat) yang di dalamnya sudaj diisi dengan ikan ikan kalui. Ikan ikan ini sangat kuat dan bisa bertahan pada kondisi cuaca yang dinamis. Biasanya ikan akan diberi makan dari potongan daun dan batang talas. Mereka akan dipanen jika ada yang berminat untuk membeli ataupun ada kenduri si pemilik rumah

Batang kelapa adalah komoditas penting di masyarakat kampar. Masakan dan pangan aslinya yang berbahankan dari santan kelapa menyebabkan pohon ini jadi penting. Produksi kelapa bermanfaat untuk semua aktifitas. Santanya sebagai bahan utama, ampasnya bisa digunakan untuk makanan kalui di tobek dan sabut&tempurungnya bisa dijadikan sumber bahan bakar dan pemanas pada setrikaan.

Air bekas cucian piring biasanya akan menjadi pupuk alami. Terbukti siraman air ini ke pokok kelapa akan membuat kelapa menjadi berbuah tambah lebat.

Sampah sampah yang berasal dari dedaunan akan disapuh secara rutin dan akan dimasukan ke dalam pilubang (lobang) seukuran yang pas untuk menanam pohon pohonan seperti pisang, mangga dan kelapa. Jika dedaunan tersebut penuh maka sampau tersebut akan dibakar, abu abunya akan menjadi pupuk yang menumpuk di pilubang tersebut. Sedangkan asap asap yang mengeluarkan Karbon makin membuat tanaman sekitar rumah menjadi bertambah subur dan berbuah lebat.

Di halaman depan dan belakang biasanya akan ditanam beberapa batang ubi kayu. Ukay ukay ini sekaligus bisa dijadikan pagar untuk tanaman kecil lainya (kunyit, serai, dll) sehingga terhindar dari serangan hama pengganggu. Selain itu, pucuknya bisa dijadikan sumber sayuran untuk direbus atau digulai dengan ikan salai.

Reban reban ayam diletakan di belakang rumah. Terkadang juga ditempatkan di boma (kolong) rumah. Di reban inilah beberapa ekor ayam bertelur dan beranak pinak sebagai pengisi kebutuhan gizi (daging). Kotoran ternak ayam ini sekali lagi dapat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk.

Jangan Pernah Menyerah

Saya berulang kali mengunjungi liverpool baik bersama Syafiq maupun sendirian. Ini momen saya ke kota pelabuhan saat berkunjung 12 Maret 2016. Saya izin ke pemilik restoran untuk tidak masuk kerja karena ada helat besar yang diikuti di kota tersebut.


Kunjungan ini tetap dinikmati walau pada tanggal 24 Maret 2016 nya viva saya sudah dijadwalkan. Tidak perlu larut dengan persiapan berlebihan sehingga sesuatu selain viva PhD tetap jalan. Perjalanan panjang hanya bisa diakhiri dengan sekangat pantang menyerah dan taqdir ilahi.


Itulah yang tertulis di kaos oblong yang dipakai oleh Muhammad Salah, striker yang tak turun di semi final itu. Untuk menuju tujuan final ada jalan terjal yang harus dihadapi yaitu, membunuh raksasa catalan bagaikan sebuah misi wajib namun mustahil.


Entahlah, mungkin semangat “pantang menyerah” yang membuat mereka terus berharap sehingga akhirnya kekalahan telak 0 vs 3 di Camp Nou dibalas tunai 4 vs 0 di Anfield.

Welldone lads. Harapan menjadi double champion tentu terbuka lebar. “Pantang Menyerah ya”.

Memanfaatkan OSF untuk sarana publikasi Anda

Oktober 2017 dan Desember 2017 lalu saya memasukan 3 buah konferensi nasional di Aceh (sebagai co-author) dan di Pekanbaru (sebagai co-author). Konferensi ini masih bersifat konvensional di mana publikasi conference papernya masih berupa print out prosiding sehingga kecil kemungkinan pembaca lain akan mengaksesnya jika tidak ikut konferensi tersebut atau tidak memiliki print out kumpulan prosidingnya.

Namun dengan begitu banyaknya media online yang menyediakan ruang untuk meletakkan paper kita tersebut sekarang membuatnya menjadi mudah untuk diakses orang pembaca lain. Saya menggunakan OSF ini untuk membagi paper saya yan tidak diterbitkan dalam prosiding atau masih dalam prosiding namun berbentuk print out. Linknya dapat diakses di sini: https://osf.io/?goodbye=true

Tampilan website OSF seperti pada gambar di bawah ini.

 

OSF tidak hanya menawarkan ruang untuk berbagi file publikasi namun juga bisa mengenerate DOI untuk publikasi kita yang belum memiliki DOI. Keunggulan lain dari OSF ini adalah prosesnya sangat cepat. Hanya kurang dari 3 hari, publikasi yang diupload akan terindeks oleh google scholar dan selanjutnya bisa anda tambahkan di google scholar profile anda. DOI juga bisa digenerate serta merta.

Screen shoot di bawah ini menunjukan 2 buah publikasi saya (rangkaian listrik dan analisis kalibrasi) yang sudah terindeks oleh google scholar dan bisa di add pada google scholar profile saya dalam waktu kurang dari 3 hari sejak dua file tersebut diupload pada OSF.

Selamat mencoba.

 

Keunggulan menjalani program magister setelah mendapatkan ijazah sarjana

Senang juga hati saya bahwa beberapa mahasiswa yang sudah saya bimbing sudah lulus sesuai lama waktu yang diperkirakan (yaitu: melebihi satu tahun). Saya tak akan berani mengklaim bahwa keberhasilan mahasiswa adalah andil saya karena skripsi hanyalah 4 sks dari 148 sks yang harus diselesaikan untuk menjadi seorang sarjana teknik elektro.

Tak banyak nasihat yang dapat saya sampaikan kecuali saran berupa segelintir pengalaman yang pernah saya lalui. Saya kebetulan seorang yang cukup serius saat menekunin sesuatu. Walaupun dalam tahap belajar, saya sudah berkecimpung menjadi asisten laboratorium di jurusan teknik elektro Undip sejak semester 5 sampai saya tamat di Undip. Pengalaman ini menjadi bekal bagi saya saat diterima menjadi dosen di Unri dan cukup membantu proses belajar dan mengajar baik pertemuan di kelas maupun praktikum di laboratorium.

Seorang mahasiswa sebaiknya harus serius saat menekuni sesuatu, karena keseriusan tersebut akan membuat si mahasiswa menjadi lebih paham akan yang dikerjakan. Kepahamannya itu nanti akan berguna. Saya cukup tekun menemani mahasiswa praktikum di lab mesin mesin listrik Unri sehingga waktu melanjutkan S3 di Queen’s University Belfast saya kebagian menjadi asisten perancangan trafo dan mesin listrik selama 3,5 tahun lamanya.

Jika mahasiswa bertanya, apa yang sebaiknya mereka kerjakan setamat dari program sarjana? Biasanya bagi mahasiswa yang saya lihat memiliki perhatian lebih terhadap perkuliahan maka akan saya sarankan untuk melanjutkan dengan memburu beasiswa. Menjadi mahasiswa juga pekerjaan dan status bukan? Saat ini pemerintah menyediakan begitu banyak beasiswa untuk itu. Lalu, jika berminat melanjutkan ke program magister maka usahakan agar semua syarat terpenuhi, semisal bahasa inggris, nila TPA membuat artikel ringkas dsb.

Melaksanakan program magister akan memberi manfaat jika si mahasiswa ingin melanjutkan program doktoral dengan beberapa keuntungan berikut.

  1. Pada program doktoral mahasiswa akan melaksanakan riset yang panjang, sehingga program magister yang dipadupadankan dengan thesis magister akan membentuk mahasiswa agar terbiasa melaksankan riset.
  2. Jika bidang doktoral yang dipilih memiliki topik besar yang sama dengan program magister yang ditelah ditamatkan, tentu hal ini nakan membantu. Setidaknya hal ini menjadikan si mahasiswa familiar dengan sumber sumber terkait topik tersebut.
  3. Bekal waktu di program magister membuat si mahasiswa memiliki pandangan yang luas sehingga ketika sedang dalam proses pencarian supervisor dan program S3 yang akan dituju akan terasa lebih mudah. Kasus topik A dibimbing oleh supervisor yang tidak memiliki kemampuan tentang A tidak akan terjadi karena si calon mahasiswa sudah selektif diawal melamar sebuah program PhD.

Bagi mahasiswa yang baru lulus, giatlah mencari peluang beasiswa dan program pendidikan yang lebih tinggi (magister dan doktoral) dan saya rasa suatu saat ijazah yang kalian dapat pasti akan berguna, telepas kalian ingin menjadi dosen, birokrat, peneliti maupun bekerja di perusahaan skala nasional dan internasional.

 

 

 

 

Berkunjung ke Hatjai

Pekerjaan di UiTM Perlis sebagai juri usai sudah pada tanggal 25 April nya. Pada tanggal 26 April adalah waktu penutupan dan pengumuman pemenang. Panitia mengabari ke kami bahwa jika ada hal lain yang ingin dikerjakan maka tak perlulah kami hadir pada acara penutupan tersebut. Kenangan dan bersua dengan kolega se profesi menambah wawasan. Saya bersua dengan kolega dari UIR dan UIN Pekanbaru. Tim dari UIR salah satunya prof. Hasan Basri Jumin rektor UIR sebelumnya yang juga bertugas jadi juri. Beliau sudah berkiprah menjadi juri sejak i-IDeA 2016 lalu jadi memiliki pengalaman yang banyak.

Tim UNRI memutuskan untuk menggunakan hari tanggal 26 April 2018 tersebut untuk berkunjung ke Thailand. Untuk menuju ke sana, kami menggunakan taksi dari penginapan kami di hotel putra regency ke stasiun kerata api Arau yang membutuhkan waktu kurang lebih 10-15 menit perjalanan. Jalan raya sangat mulus pun begitu dengan stasiun Arau. Sekilas stasiun di kota kota kecil di Malaysia memiliki rancangan bangun yang mirip dengan stasiun di UK seperti di Irlandia Utara. Suasana stasiun nyaman. Antrain tetap terjaga dan terlebih lagi, harga tiket cukup murah dan kedatangan dan keberangkatan kereta tepat waktu.

Photo: Loket Tiket di Stasiun Arau

Untuk menuju thailand, kami harus berhenti di stasiun padang besar. Harga tiket dari Arau ke Padang besar sebesar 3,2 Malaysia Ringgit dan memerlukan waktu tempuh selama 19 menit. Sesampai di Padang besar kami harus melapor ke imigrasi Malaysia untuk meninggalkan negara malaysia lalu dilanjutkan ke kantor imigrasi thailand untuk memasuki negara thailand. Pendatang yang memasuki thailand diminta untuk membayar sebesar 5 bath namun jika menggunakan ringgit biasanya dibulatkan menjadi 1 ringgit malaysia. Kita akan diberikan kartu ketibaan dan dikartu tersebut akan diminta dituliskan tujuan kunjungan ke thailand. Saya menuliskan one day trip karena pada sorenya saya berencana akan balik ke perlis malaysia.

 

Photo: Stasiun Arau

Setelah paspor dicap di imigrasi thailand perjalanan selanjutnya adalah menuju stasiun angkutan darat yang menggunakan vans dengan penungpang sebanyak 9 orang. Suasana van sangat nyaman dan jalanan sangat mulus mulai dari stasiun van tersebut sampai ke pemberhentian di kota hatjai, thailand. Target kami tim UNRI selanjutnya adalah mencari taksi sewa yang bisa membawa kami keliling kota hatjai, thailand. Akan saya sambung pada tulisan mendatang. Insyaallah.

 

Menjadi juri pada acara i-IDeA di UiTM Perlis, Malaysia

Perjalan saya pada tanggal 24-27 April 2018 ini bermula dari telepon bu Dr. Sofia selaku sekretaris KUI UNRI Pekanbaru. Beliau menyampaikan bahwa UiTM Perlis membutuhkan beberapa orang juri utusan dari UNRI untuk menilai beberapa kompetisi yang dihelat oleh UiTM Perlis. Informasi terkait i-IDeA dapat diperoleh di web ini: http://i-idea.org/

Utusan UNRI yang ditunjuk sebagai juri selain dari saya sendiri adalah Dr. Deni dari Fakultas Perikanan dan Kelautan serta Prof. Ria dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNRi. Beliau berdualah yang banyak membantu sehingga keberangkatan kami dari UNRI menuju UiTM Perlis berjalan lancar. Tentu kerja keras dari pihak KUI UNRI sangat berperan dalam hal ini.

Photo: Saya, Prof. Ria dan Dr. Deni

Kegiatan jadi juri berlangsung pada tanggal 25 April sedangkan penutupan dan pengumuman juara i-IDeA dilangsungkan pada 26 April. Saya kebagian menjadi juri dari sesi pagi dan sesi siang. Sesi pagi dimulai pada jam 09.30 dan saya diberikan 4 buah borang yang akan menilai 4 buah produk inovasi dari 4 tim penelitia/industri/mahasiswa. Sedangkan pada sesi siang yang dimulai dari jam 14.30 waktu Malaysia tersebut saya juga mendapatkan 4 buah produk buah karya dari 4 tim yang akan dinilai. Tiap tiap produk akan dinilai orang 4 orang juri yang bekerja secara terpisah (namun ada juga yang bekerja berkelompok dimana ke 4 orang juri langsung menilai 1 produk secara bersamaan). Saat penilaian produk, bahasa yang digunakan adalah bahasa inggris terkadang diselipkan dengan bahasa melayu. Saya sendiri lebih suka jika menggunakan bahasa inggris sembari melatih kembali lidah ini karena sudah 2 tahun meninggalkan tanah irlandia utara.

Photo: mejeng di depan backdrop i-IDeA 2018 UiTM Perlis Malaysia.

Photo: Suasana Lomba

Photo: Suasana Lomba

Photo: Suasana Lomba

Debar di Danau Kembar

Setelah singgah di perkebunan teh di Alahan Panjang, perjalanan kami pada hari ahad 24 Desember 2017 tersebut lalu kami lanjutkan ke danau kembar. Dua buah danau yang membuat jantung berdebar karena keindahannya. Rute kami seperti ditunjukan pada Gambar 1 di bawah ini. Tak terlalu jauh jarak dari perkebunan teh menuju danau ini. Ditambah lagi jalan yang mulus dan kepadatan yang rendah. Sebenarnya jalur ini adalah jalur lintas ke muara labuh lalu bisa membawa kita ke Kerinci Propinsi Jambi. Di kerinci inilah akan kita temukan sebuah gunung yang bernama kerinci yang merupakan gunung tertinggi di pulau sumatera.

Figure 1. Rute dari kebun teh alahan panjang menuju danau kembar.

 

Danau kembar ini bernama danau di atas dan danau di bawah. Danau di atas dinamakan demikian karena permukaan air danaunya (terhadapa permukaan laut) lebih tinggi dibandingkan danau di bawah. Walaupun secara topografi seolah olah danau di bawah berada pada permukaan tanah lebih tinggi sedangkan danau di atas berada pada permukaan tanah lebih rendah. Hal ini di karenakan pada danau di bawah air danaunya jauh di bawah lembah danau sedangkan pada danau di atas air danaunya hampir sejajar dengan tepian danau.

Berikut beberapa Gambar yang sempat saya abadikan di lokasi danau kembar ini.

Figure 2. Berpose sejenak di tepian danau di atas

Figure 3. Anak anak mandi di tepian bernama pasir panjang di danau di atas

Figure 4. Masjid nan bersih di daerah danau di atas

Figure 5. Panorama danau di atas

Figure 6. Panorama danau di bawah

Demikian sedikit ulasan tentang kunjungan kami di danau kembar ini.