Bukan Juara Harapan

Jika musim lebaran datang maka amak tak pernah lupa membuat lemang dan ayahlah yang akan mencari buluhnya. Memotong dan mengerat buluh itu, membuat perapiannya serta mengapikan lemang dari awal hingga masaknya yang membutuhkan waktu tak kurang dari 8 jam itu lamanya.

Rendang rendang yang akan dimasak di dalam kancah besar yang bisa memuat berpuluh puluh kilo daging kerbau itu, maka ayahlah yang menyiapkan perapiannya dan membersihkan dagingnya dan mengaduk aduknya dari gulai pacak, menjadi kolio lalu mongering dan menghitam menjadi rendang.

Jika amak lagi mencuci pakaian, maka saat membilas ayahlah yang berdua dengan amak mengerjakannya. Di saat tangan amak tak kuat lagi memegang batu lagan untuk memipih cabe keriting maka ayahlah yang selalu menggilingkan untuknya dengan tangan lelakinya itu.

Jika jemuran tumbang karena patah tiang akibat lusuh dan lapuk, maka ayahlah yang akan membenarkannya. Jarang sekali kulihat mereka, bersuami istri, mengeluh atas apa yang mereka jalanani.

Tahun 2009an, suatu ketika ayah dan amak memaku dinding untuk memajang penghargaan orang tua teladan yang dianugrahi bupati Kampar Burhanudin Husin, SH bagi mereka berdua. Atas jasanya ke anak anaknya yang lelaki belaka itu mereka dianugrahi prediket juara harapan. Kubilang kepada mereka, perlombaan demikian selalu memperhitungkan dengan menggunakan kriteria tertentu jika nilainya tinggi maka dapat juara namun bagiku engkau berdualah juaranya walaupun bupati hanya menganugerahkan juara harapan bagi kalian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s