Asupan Jiwa dan Raga yang Halal dan Baik

Kisah ini mudah ditemukan di internet, mungkin ada yang meragukan keabshaannya namun sebuah kisah baik yang dapat membuat orang lain untuk berbuat baik tentu baik pula untuk dibagikan.

Beginilah kisahnya:

Beberapa tahun lampau, seorang Imam pindah ke kota London. Dia selalu menggunakan bus umum dari rumahnya menuju pinggir kota. Beberapa pekan setelah ia bermukin di London, dia berkebetulan menaiki bus yang sama. Ketika dia duduk di bangku penumpang, dia tersadar bawa sang sopir telah tak sengaja memberikan kembalian sebesar 20 pence lebih banyak dari yang seharusnya.

Ketika dia menimbang apa yang harus dilakukan, dia berfikir dalam hati, bahwa sebaiknya ia mengembalikan 20 pence tersebut ke sang supir. Akan menjadi sebuah kesalahan jika menyimpan dan mengambilnya walau itu hanya 20 pence. Lalu sesaat kemudian di berfikir lagi dalam hati, ah lupakan saja, hanya 20 pence saja, tak ada yang akan khawatir dengan jumlah uang yang kecil ini? Lagian pula perusahaan bus sudah mendapatkan uang yang banyak dari tiket tiket yang mereka dapatkan dari penumpang lain, mereka (para pemilik bus itu) tidak akan menyadari bahwa pendapatan mereka hari itu telah berkurang 20 pence. Terima saja kembalian lebihan itu layaknya hadiah dari Allah SWT dan diamkan saja.

Ketika mendekati halte bus di dekat masjid yang ia menjadi imam di sana, tiba tiba sang imam berhenti di pintu bus, dan menyerahkan 20 pence lebihan tersebut ke sang pengemudi. “Ini saya berikan kembali kepadamu, kembalian yang kamu berikan ada lebihannya sebesar 20 pence dari kembalian yang seharusnya”. Sang supir dengan senyum yang mengembang, berujar “Bukankah Anda adalah salah satu imam masjid di area sini? Saya berfikir belakangan ini tentang keinginan saya untuk mendatangi masjid Anda. Saya hanya ingin mencobai Anda terkait apakah yang Anda lakukan jika saya memberikan lebihan kembalian kepada Anda.”

Ketika imam melangkah keluar dari pintu bus, kakinya dan lututnya menjadi lemah dan gemetaran, dan harus berpegangan ke tiang listrik yang tak jauh darinya agar ia tak terjatuh dan terjerembab, sembari memandang ke langit ia berteriak “Ya Allah, aku hampir menjulMu dan AgamaMu seharga 20 pence”.

Ini kisah saya dan tidak sedikitpun untuk saya bagikan kecual untuk menjadi pengingat diri bagi saya sendri:

Selama di Belfast, jika berjalan jarak dekat maka saya membeli day tiket seharga 3.2 pound dewasa dan anak anak di bawah umur 5 tahun tanpa biaya/gratis. Dari tiga anak kami, haya Azkiya lah yang berusia lebih dari 5 tahun. Atau dengan kata lain ia harus membayar tiket anak anak. Tak pernah sekaliapun supir menanyakan apakah saya juga membutuhkan tiket untuk Azkiya. Tentu sulit bagi sang supir mengira apakah ada diantara salah satu anak anak saya sudah berusia  lebih dari 5 tahun mengingat semua postur tubuh anak anak saya kecil semua, seperti masih berusia di bawah 5 tahun sahaja. Namun tak sekalipun saya tidak membelikan tiket untuk Azkiya. Jika saya katakan ke supir atau ke kondektur kereta api bahwa saya butuh tiket untuknya maka supir akan berujar balik “berapa usianya nampaknya dia gak perlu bayar”. Azkiya dan saya terkadang berbarengan berujar “ 7 tahun”. Jika demikian barulah supir menerima duit kami.

Awal januari 2016 kemarin saya harus berpergian lagi ke Bangor, kurang lebih 35 menit dari Belfast menggunakan kereta api. Rombongan yang terdiri dari pengajian warga muslim Indonesia di NI itu berjumlah cukup banyak. Kalau gak salah 9-12 orang. Kesalahan saya waktu itu adalah tidak bertanya ke ketua rombongan apakah tiket saya sudah dibelikan atau tidak. Ternyata setelah diusut dari sekian banyak orang maka tiket saya tidak termasuk dalam tiket yang dikoordinir oleh salah satu rombongan tersebut. Di dalam kereta sang kondektur pun tidak menanyakan apakah saya punya tiket atau tidak karena melihat saya masuk bersama rombongan besar itu maka mungkin ia juga mengira tiket saya sudah dibelikan oleh ketua rombongan (catatan: jika anda naik dari stasiun besar dan berwajah pendatang maka jarang sekali kondektur menanyakan tiket, mereka mengira bahwa asing/turis pastilah punya tiket. Sebenarnya saya bukan turiskan, wong sudah 3.5 tahun di Belfast kok). Kesalahan inilah yang selalu saya sesali karena tidak berusaha mencari tahu sebelum mengambil kesimpulan dan ternyata kesimpulan saya itu adalah salah.

25580369815_836cfb804b_o.jpg

Tiket botanic ke victoria £ 1.5

Sadar bahwa tiket dari Belfast ke Bangor tidak bayar, akhirnya saat kembali dari Bangor ke Belfast saya membeli tiket dan mengatakan ke kondektur saya butuh tiket. Tiket sekali jalan sebesar 5 pound karena perjalanan hari ahad maka tiket tersebut murah dari harga normalnya. Namun jika dibeli tiket pergi pulang akan terasa murah lagi yaitu sebesar 5.5 pound saja. Entah bisikan dari mana yang masuk ke hati saya, saat sang kodektur menanyakan apakah saya butuh sekali jalan atau pergi pulang saya dengan lugunya menjawab sekali jalan yang harganya 5 pound (untuk 0.5 pound = 50 pence). Sesampai di rumah saya sadar bahwa seharusnya saya membeli tiket pergi pulang karena perjalanan pergi tadi saya tidak punya tiket. Risau akan hal itu, akhirnya saya pada Ahad di minggu-minggu depannya pergi ke stasiun botanic untuk membeli tiket pulang pergi dari botanic ke Victoria station. Harga tiket yang sengaja tak saya gunakan tersebut sebesar 1.5 pound sebagai pengganti 0.5 pound yang masih tersisa. Jadi total tiket yang saya beli menjadi 5 pound sekali jalan dan 1.5 pound pulang pergi yang tak jadi saya gunakan, 6.5 pound yang harganya sudah lebih besar dari tiket pergi pulang dari Belfast ke Bangor sebesar 5.5 pound.

Ya allah swt, kuatkan lah hati kami untuk selalu berusaha memberi raga dan jiwa kami asupan yang halal dan lagi baik.

1 pound = 100 pence = Rp 19.300,-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s