Menggambar Nabi Muhammad SAW

Saya baru saja menonton sebuah film singkat dari sini. Sebuah film yang berdurasi kurang lebih 4 menit. Sebuah film pendek yang sangat menyentuh menurut saya.

Dikisahkan di sebuah sekolah yang sederhana yang berlokasi di suatu daerah di Prancis. Murid yang jumlahnya tak seberapa itu diajari oleh seorang ibu guru. Setelah murid murid memberi hormat saat bu guru masuk ke ruang kelas, sang guru bertanya terkait apakah mereka ikut berdemo kemarin. Agaknya demo yang dimaksud adalah demo untuk mengutuk insiden penembakan para pekerja di Charlie hebdo.

Serta merta setelah murid dipersilahkan duduk, sang guru memberikan murid masing masing selembar kertas kosong. Murid diminta untuk menggambar nabi Muhammad SAW. Salah seorang murid laki laki di kelas mengangkat tangan hendak menyampaikan pertanyaannya, namun ditolak tegas oleh ibu guru dengan mengatakan tidak ada pertanyaan.

Para murid mulai menggambar sedangkan si murid laki laki ini masih terlihat gusar dan risau. Terlihat dari cara ia memainkan kalamnya pertanda ia kesukaran untuk menggambar nabi Muhammad SAW. Ia tidak kunjung jua memulai untuk menggambar sang nabi. Pada akhirnya waktu kelas dinyatakan berakhir semua murid mengumpulkan apa yang diperintahkan oleh bu guru tersebut. Menjelang akhir film dinarasikan begini.

Baginda nabi,

Hari ini di sekolah, bu guru meminta kami untuk menggambar wajahmu.

Aku sangat suka menggambar namun aku belum pernah bersua denganmu.

Karena itulah aku hanya memejamkan mataku.

Kulihat genangan air mata membasahi pipi ibunda ketika dia memaca kisahmu.

Kulihat ayah selalu melakukan sholat di setiap waktunya.

Kulihat lihat kakak masih tersenyum walau ia dicaci saat di jalanan.

Kulihat teman baiku memintaku untuk meminta maaf walaupun sebenarnya akulah yang disakiti.

Aku ingin menggambar semua yang kulihat.

Di sini orang orang ingin melihat secara nyata dan menyaksikan semuanya secara nyata pula.

Namun kembali kupejamkan mataku dan kulihat kau menghampiriku.

Dengan senyum yang paling menawan.

Bagaimana mungkin aku bisa menggambar senyum yang paling menawan begitu?

Ibu guru tidak memberikan aku kesempatan untuk berbicara saat aku ingin menjelaskan kepadanya.

Untuk itu, aku tak pula menyalahkannya.

Agaknya dia belum pernah mencoba untuk mencitai orang lain jika ia belum pernah melihat orang itu.

Namun bagiku, aku mencintaimu walaupun aku belum pernah bersua denganmu.

Aku tak terlalu pandai menggambar namun aku sangat menyukai menulis.

Aku sangat suka sekali menulis kepadamu ya rasulullah.

Seandainya engkau kembali kepada umat ini untuk beberapa jam saja, beberapa menit atau beberapa detik saja.

Tentulah bu guru akan memahami semua itu dengan seketika.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s