Pohon, Angin dan Gunung

Bidal orang orang tua di kampungku mengatakan orang yang tak punya pendirian adalah orang bak baling baling di atas bukit. Kemana angin lalu ke situlah ia berputar.

Orang orang seperti ini terlalu khawatir dan tidak tahan akan cobaan di saat apa yang tadinya ia kerjakan mulai dicibirkan orang, lalu ia mulai lemah semangat. Bukan menunjukan ke si pencibir bahwa ia berpotensi malahan sekarang beriring dan bergandengan dengan si pencibir.

Dokumentasi Pribadi: PLT Angin di Belfast Hill.

Saya pernah mendengar ada orang yang menebang kebun getahnya dikarenakan semua orang pada beralih ke kebun sawit. Orang orang berujar kepadanya bahwa getah tidak akan laku. Sebaiknya tanam sawit saja. Jadilah ia termodal dua kali. Kali pertama modal untuk menanam getah dan kali ke dua modal untuk menebang getah dan menanam sawitnya. Konon pas sawit turun barulah sesal timbul kemudian karena saat sawit siap dipanen harganya sedang turun turunnya pula.

Aku tahu bahwa beberapa dunsanaku tak mau berulang ke hutan untuk membuka lahan sawit. Beberapa dari mereka masih tekun berladang tadah hujan. Iming iming harga jual buah sawit yang mahal waktu itu tak menyurutkan mereka untuk berladang. Mereka agaknya tidak rela ladangnya berubah jadi perkebunan sawit yang di setiap tahap menguras segalanya daya dan biaya itu.

Akhirnya kudengar beberapa dunsanaku yang tunak berladang tersebut, pas menjelang idul fitri kemarin sebahian mereka tidak ada yang perlu membeli beras ke pasar apatah lagi memerlukan raskin yang tak layak makan itu. Yang membuatku gembira adalah, dari teguh pendirian mereka untuk bersawah ladang itulah akhirnya mereka berzakat pula saat musim menuai besar datang.

Kawan untuk teguh pendirian kalian tak cukup jadi pohon. Karena pohon yang tinggi sekalipun ia akan digoyangkan oleh angin dan badai topan. Hendaklah kalian jadi gunung, seberapa ributpun angin, ia tetap kokoh berdiri.

 

3 thoughts on “Pohon, Angin dan Gunung

  1. Gak apa-apa jadi kincir angin pak, asal bisa menerangi kegelapan, karena bisa dirubah jadi energi listrik hehe. Kapan pak bikin pembangkit listrik tenaga baling-baling di pelosok-pelosok negeri yang anginya kenceng?

    • it is not easy Cak. Untuk mewujudkan itu, perlu belajar lagi dan terutama dukungan dari orang kiri dan kanan serta orang bijak lainnya. Akanhalnya kincir angin skala lab dan kecil sudah ada di lab TE UNRI sejak lama dan juga dipasang di beberapa lokasi oleh rekan TM dan TE. Namun untuk menjadikannya sebagai sumber energi listrik yang dominan, memang perlu dukungan besar lagi terutama dukungan pemerintah. Doakan semoga terwujud.

      • it means put theory into practice is never easy ya Pak? Sangat berhrap, orang2 seperti Pak Iswadi ini bisa membaca potensi daerahnya masing2, dan bisa mewujudkan mandiri energi, tidak harus menunggu dari pusat. Kita bisa mbangun dari pinggiran desa kita masing2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s