Penulisan PhD Thesis: Lancar Kaji karena diulang, Pasal jalan karena dilalui

Suatu hal yang membuat kita selalu belajar adalah dengan selalu berinteraksi dengan sekitarnya. Cukup beruntung juga karena saya bukan tipe orang yang memilah dan memilih kawan. Saya berkawan dengan banyak orang baik di dunia nyata dan dunia internet.

Di research cluster, saya pun tidak pernah membatasi diri untuk bakal berkawan dengan siapa. Saya selalu ceria berdiskusi dengan kawan kawan lokal, Irish. Pun begitu dengan kawan kawan lain baik dari Nigeria, Prancis, Yunani, Norwegia maupun Spanyol dan tentu saja dengan orang Cina yang begitu banyak di Queen’s Belfast ini. Kawan dari berbagi Negara di lingkungan masjid tak terhitung banyanya, timur tengah, Asia terlebih lagi saudara se kawasan dari Indonesia dan juga pelajar Malaysia yang mendominasi wajah yang berasal dari gugusan nusantara itu.

Perkawanan kami tak terbatas dalam hal tertentu saja. Saya terbuka dengan segala hal. Baik itu aktifas kampus maupun di luar akademik. Hampir setiap sekali se pekan saya menyempatkan diri untuk berfutsal dengan kawan kawan. Dari sinilah saya merasakan bagaimana rasanya bermain bola saat jam 9 malam di waktu winter maupun di waktu summer. Sebuah kenangan yang menjadi simpanan saya untuk saya kenang di masa tua nantinya, jika umur panjang.

Obrolan dengan kawan di riset cluster saat berada di kampus tentunya didominasi hal hal terkait riset. Riset dan bagian bagiannya, seperti melakukan percobaan, pengukuran, pengambila data, menulis paper serta yang paling utama adalah penulisan PhD thesis. Kenapa thesis ini saya anggap paling utama, karena inilah salah satu syarat yang mutlak yang harus anda hasilkan agar anda punya kualifikasi untuk melaksanakan sidang viva, sidang doctor atau PhD.

Beragam coraknya kelakuan student yang sedang menulis ini. Ada yang merasakan kepayahan dan tak sedikit pula yang mengatakan bahwa menulis itu tak sulit sulit amat. Pembimbing saya adalah orang lokal dan tentunya ia penutur asli Bahasa inggris. Namun darinya saya belajar bahwa menulis butuh waktu. Lain waktu saya ketemu dengan orang Indonesia dan Nigeria, tak ada sedikitpun tanda tanda mereka kesulitan saaat proses penulisan ini, dalam hati saya katakana mungkin mereka sudah memiliki kemampuan mereka sebelum datang ke Queen’s ini walaupun mereka bukanlah penutur asli Bahasa inggris. Bagi saya, saat tulisan saya dikoreksi oleh pembimbing maka itu adalah momen yang sangat berarti untuk diambil pelajaran darinya. Dari umpan balik dan koreksi itulah saya tahu bagaimana cara membuat tulisan yang baik.

Tak ada kiat khusus agaknya untuk menjadi penulis akademik yang handal ini. Karena penulisan ini adalah sebuah skil, keahlian. Konon sebuah keahlian akan dapat kita kuasai jika kita sering sering berlatih. Layaknya pesilat, jika mereka sering berlatih di gelanggang dengan para pendekar lain maka dapatlah ia disebut sebagai ahli silat menunjukan ia ahli akan keahlian silatnya itu. Namun selain sering dilatih latih dan diulang ulang, dalam penulisan akademik menurut saya yang terpenting adalah mendapatkan terlebih dahulu sebuah hasil dari sebuah penelitian. Jika keinginan menulis ada padahal saat bersamaan tidak ada hasil atau topic yang hendak ditulis lalu akan menulis apa.

Yang saya rasakan kemungkinan sulitnya seseorang saat menulis adalah bahwa yang bersangkutan belum mencobanya berkali kali, lagi dan lagi, ulang dan ulang. Ingatlah ada pepatah: lancar kaji karena diulang ulang, pasalnya jalan karena ditempuhi. Atau kesulitan lainya disebabkan oeh yang bersangkutan belum memiliki bahan atau hasil yang memadai dari sebuah riset yang layak untuk dijadikan sebuah tulisan. Jika dua hal ini dipenuhi, agaknya proses penyelesaian sebuah tulisan sebuah karya ilmiah semisal PhD thesis tentu akhirnya akan mencapai titik akhirnya jua, percayalah, insyaallah.

Beberapa bab draft thesis saya pertama kali saya masukan ke pembimbing adalah pada bulan April 2015 lalu. Saya memerlukan waktu 1 bulan untuk menulis dua buah bab waktu itu. Tahukan anda setelah dua bab itu saya masukan ke pembimbing, yang saya dapati adalah tulisan saya mendapatkan banyak umpan balik yang seolah olah jika semuanya itu saya akomodir seolah olah saya seperti menulis bab yang sama namun dimulai dari awal lagi. Begitulah proses belajar semua membutuhkan waktu dan kesabaran.

Banyak orang yang ingin tergesa gesa menghasilkan sebuah tulisan, memang tulisan dibuat dengan kondisi ini akan selesai jua nantinya namun mungkin tidaklah semantap sebuah tulisan yang dibuat dengan proses secara layak dan patut di sebuah lingkungan akademik. Semua memiliki waktunya, bahkan untuk dituaipun, maka serumpun padi hendaklah ditanami dan dipelihara terlebih dahulu lalu setelah bernas dan menguning barulah mereka bisa dituai oleh yang empunya.

Bayi bayi dari seorang ibu lazimnya dilahirkan ke dunia yang fana ini setelah berada dalam Rahim si ibu selama 9 bulan. Tahukah anda bahwa anda dan pasangan anda tidak dapat menghasilkan seorang bayi dalam 1 bulan walaupun dikandung oleh 9 ibu bergotong royong. Itulah waktu normal sebuah kejadian. Jika menurut kebanyakan orang waktu normal menulis menghabiskan masa dari 6 bulan sampai 12 bulan maka jika anda berada dalam rentang itu maka tidak perlu kecewa dan bahkan jika berlebihpun jangan jua kecewa, pasti ada hikmah dibalik itu semua.

Buat rekan rekan yang sedang berjuang, selalu semangat. Kita tinggal selangkah lagi, insyaallah.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s