Ayah adalah salah satu pahlawanku

Ayah menjadi peternak penggembala kerbau sejak mudanya jauh sebelum ia menikahi ibu. Dari ternak ternak itulah ia menafkahi kami, kebutuhan harian, pendidikan dan perumahan bagi keluarganya. Seorang pemuda dari kampung sebelah yang tak mengenalku menceritakan betapa susahnya pemuda itu sebelum ia menjadi pengusaha sukses seperti yang pemuda itu geluti saat ini.

Kehidupanku susah dan aku harus menjadi penggembala kambing sejak usia SD sampai masa SMA ku katanya. Aku hampir tidak memiliki waktu bermain sedangkan orang lain sebayaku bersenda gurau dan bercanda riang dengan kawanku sebaya, katanya. Namun walaupun begitu,  karena aku merantau maka aku bisa meninggalkan pekerjaan menggembala kambing itu dan jadilah sekarang aku berbisnis hal lain yang lebih menjanjikan, ada ungkap sombong yang saya tangkap dari obrolannya itu. Walaupun mungkin pemuda itu tak bermaksud begitu adanya.

Setelah lama berbual barulah pemuda itu tersadar bahwa ia telah lupa menanyakan namaku dan siapa orang tuaku padahal kami sudah bertukar cakap yang cukup lama, lebih sepuluh menit agaknya. Aku tak menjawab langsung pertanyaanya itu. Aku katakan, aku berasal dari kampung sebelah sedangkan ayahku memiliki pekerjaan seperti dirinya. Namun bedanya ayahku dengan pemuda itu adalah: ayah sudah memulai pekerjaan peternak penggembala jauh jauh hari  sebelum pemuda itu menjadi penggembala dan ayah belum berhenti menekuni itu padahal pemuda itu sudah lama tak lagi menjadi penggembala.

Pemuda itu terdiam, berubah wajahnya, sembari mengatakan ke saya, pastilah kamu anak pak Hasyim. Aku tersenyum, sekarang pemuda itu tak lagi mendramatisir kehidupan masalah lalunya karena ia berasa malu dengan kerja keras ayahyang ternyata menjadi peternak penggembala lebih lama dari pemuda itu, hampir seumur hidup ayah jika hendak dikatakan begitu. Agaknya ia harus malu layaknya sebuah progran di tivi yang bertajuk mancing mania dimana tangkapan pemancing diliput sedemikiannya padahal kita tahu di timur sana, orang lamalera sana jangankan ikan sebesar empu jari bahkan ikan paus sebesar rumah pun bisa mereka tangkap dengan sekali lompatan dimana tombak tergenggam di tangan. Namun orang lamalera tak pernah mendramatisir keberhasilan mereka menaklukan makhluk terbesar di dunia itu.

Amak Hj. Rosma binti Abdullah Nodo Kay, Saya dan Almarhum Ayah H. Abdullah Hasyim bin Ma'ruf

Amak Hj. Rosma binti Abdullah Nodo Kayo, Saya dan Almarhum Ayah H. Abdullah Hasyim bin Ma’ruf

Suatu ketika ayah berkunjung ke saudara sesusuanya di Pekanbaru. Itulah orang yang selalu tak pernah lupa ia jenguk jika ia berkunjung ke pekanbaru. Saudara sesusuannya ini orang berada, baik budi dan bahasanya serta memiliki kedudukan penting. Ia berujar ke ayah, engkau inilah orang yang aneh Hasyim, perjalanan mencari nafkahmu tak jauh benar, hanya keliling hutan masuk hutan di sekitar tepian kampung untuk menggembalakan ternakmu namun kau begitu beruntung. Saat orang lain ke Mekkah kaupun bisa berhaji. Saat orang lain punya rumah di kota kaupun punya beberapa rumah petak di Pekanbaru. Saat orang lain pergi ke Jawa kaupun sudah hadir di Jakarta, Semarang dan Bandung untuk wisuda anakmu. Kaulah orang yang jarang keluar kampung namun ditakdirkan untuk berjalan jauh di waktu tertentu. Jika dikatakan demikian ayah hanya tersenyum. Kau pun juga beruntung, itulah jawab ayah.

Jika teringat ayah, doa doaku untuk mendiang arwahnya kugandakan dibanding hari hari lainnya. Bagiku, ia adalah salah satu pahlawanku dari sekian banyak pahlawan lainya.

Walaupun terlambat, Selamat Hari Pahlawan 10 Nopember 2015.

6 thoughts on “Ayah adalah salah satu pahlawanku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s