Berkunjung ke The Islamic Cultural Center and The London Central Mosque

Pada 14-17 Agustus lalu saya berkunjung ke London. Selain untuk berlibur dengan keluarga, saya juga menyempatkan untuk bersilaturrahim dengan warga Indonesia di London sana. Perjalan ke London saya tempuh menggunakan ferry dan bus. Memakan waktu yang cukup lama, kurang lebih selama 17 jam. Kisah perjalan ferry dan bus ini akan saya ceritakan pada kesempatan lain jika saya masih diberika umur panjang dan kesempatan.

Sampai di London hari jumat. Dari victoria coach station saya dan keluarga membersihkan badan. Anak anak merasa senang karena mereka menjambangi ibukota UK ini. Dari victoria coach station saya teruskan perjalanan ke train station untuk menggunakan transportasi bawah tanah, underground. Tidak diperlukan penyesuaian terlalu rumit untuk membawa 3 anak anak namun diperlukan ke hati hatian agar tidak ada anak yang tertinggal atau terlanjur masuk kereta apinya dan terpisah dari orang tuanya.

Karena sampai hari jumat, tujuan langsung saya arahkan ke The Islamic Cultural Center and The London Central Mosque. Sebuah masjid yang sangat besar menurut saya untuk sebuah negara yang islam adalah termasuk agama minoritas. Saya dan Muhammad sholat di bagian laki laki di luar gedung utama masjid, tepatnya di halaman masjid. Cukup nyaman karena waktu itu tidak terlalu dingin dan tidak pula terlalu panas. Hanya saja diujung khutbah dan menjelang sholat jumat, gerimis turun. Gerimis tentunya sangat lazim saya temui apalagi di Belfast karena hampir tidak pernah ada hari tanpa gerimis dan angin kencang.

Saya dan isteri di halaman masjid

Saya, Alifah dan isteri di halaman masjid

Istri dan anak anak perempuan saya sholat di sisi lain di masjid yang dikhususkan untuk perempuan. Agaknya mereka sholat di lantai 2. Beruntung kami ketemu dengan serombongan orang Indonesia yang sedang berkunjung ke London. Salah satunya seorang ibu yang berasal dari Bandung. Ibu dan seorang anak laki lakinya berkunjung selama 1 pekan ke London dalam rangka liburan yang diadakan oleh perusahaan MLM yang beliau geluti. Beliau hanya duduk di halaman masjid karena lagi berhalangan sholat. Kepadanyalah kami titipkan barang bawaan berupa sebuah tas travel, ransel dan kereta dorong Alifah.

Setelah sholat usai, kami mengambil barang barang tersebut. Selain menjaga barang bawaan kami ternyata kebaikan ibuk ini tak berhenti di situ. Beliaupun memberikan dua buah kartu oyster yang masih terisi penuh. Beliau katakan bahwa saya bisa menggunakannya karena besok paginya beliau akan pulang ke tanah air. Tentu beliau tidak akan membutuhkannya lagi.

Akhirnya oyster yang saya sudah punya sejak tahun 2012 tersebut tidak saya pakai. Oyster istri yang saya pinjam dari rekan riset mahasiswa China di Queen’s Belast pun tidak terpakai. Saat saya kembalikan oyster student China tersebut dan dia mengecek di internet berapa bill yang terpakai dia bertanya kok hanya sekali di pakai? Lalu saya ceritakan ke student China ini kisah saya bertemu dengan ibuk dari Bandung tersebut.

Istri, Azkiya, Muhammad dan Alifah di gerbang masjid

Istri, Azkiya, Muhammad dan Alifah di gerbang masjid

Dulu saya pernah bercita cita dan sampai sekarang tetap meniatkan dalam hati bahwa saya sangat ingin berkunjung ke dan beribadah di Masjid Istiqlal di Jakarta dan 3 Masjid besar di Dunia, Al Haram, Nabawi dan Al Aqso ternyata Allah SWT lebih awal memberikan saya kesempatan untuk berkunjung di salah satu masjid besar di UK semoga niat untuk masjid yang sisanya tercapai dalam waktu dekat hendaknya. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s