Terlihat Manis

Saya sedang berada dalam toilet. Lalu beberapa jenak kemudian saya mendengar langkah kaki lain masuk ke lokasi kamar mandi yang berisikan beberapa wastafel dan toilet itu. Terdengar oleh saya seseorang membuka kran di wastafel cukup kencang.
Agaknya kran murahan yang digunakannya menyebabkan ia membukanya secara tidak sempurna. Setelah itu kudengar langkah kaki menjauh. Air kran masih menetes deras walau tidak sekencang semula. Akupun selesai dari hajatku. Kuhampiri ruang kelas di sebelah kamar mandi itu. Tentunya salah satu mahasiswa temanku yang telah menggunakan kran itu, dugaku. Kutanya yang berdiri di dekat pintu masuk yang ternyata bukan dia yang telah menggunakannya.
Akhirnya salah satu mahasiswa yang tangannya masih basah keluar dari rombongan temannya di dalam kelas yang perkuliahannya belum mulai itu. Aku tak ingin menyapanya namun kukatakan kepadanya dengan sedikt tekanan, ” kau, matikan krannya”.
Akupun berlalu dan meninggalkan para mahasiswa itu. yang membuatku senang bukan dikarenakan ia menurut saja saat kusuruh mematikan krannya namun dikarenakan aku tak mau terlihat manis dan mendiamkan saja apa yang telah ia perbuat, terutama jila hal itu merugikan orang lain dan sesuatu yang jelas jelas salah.
Seandainya penguasa negeri ini tak ingin terlihat manis di depan pengusaha zhalim pembakar lahan gambut yang sulit padam itu, maka saya yakin penguasa inipun mampu menyuruh pengusaha zhalim ini untuk mematikan krannya, salah: kebakarannya.
Salam dari negeri tua melayu Riau yang berjerebu.

2 thoughts on “Terlihat Manis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s