Merayakan Idul Fitri dengan Toleransi

Semenjak saya berangkat ke Belfast sejak 18 September 2012 beberapa tahun lalu dan menetap di sini, maka terhitung sudah 3 kali banyaknya saya dan keluarga melaksanakan idul fitri di rantau orang.

19827417562_fd43cb281b_o

Selepas Sholat Idul Fitri

Belfast, tidak seperti kota lain di belahan bumi barat, di mana kota ini sangat sedikit sekali muslimnya. Belfast adalah kota yang terbesar di Northern Ireland. Di antara penduduk NI sebanyak kurang lebih 1,8 juta jiwa ini sebahagian besar berdomisi di Belfast dan di antara jumlah tersebut diperkirakan hanya 3.000 orang saja yang muslim.

Saya dan keluarga adalah bagian dari yang 3.000 ribu jiwa itu tentunya. Secara kasat mata, muslim di Belfast ini di dominasi oleh orang orang yang datang dari timur tengah. Mereka ini bekerja sebagai tenaga terampil seperti dokter, perawat dan pengajar di perguruan tinggi. Tentu banyak juga yang berasal dari asia tengah dan selatan, seperti india, Pakistan dan Bangladesh. Pencari suaka dari Somalia dan Negara afrika utara lainnya seperti aljazair juga cukup banyak nampaknya.

Sedangkan di kalangan pelajar muslim, maka berdasarkan perkiraan saya yang terbanyak berasal dari Malaysia, namun dari timur tengah juga cukup banyak jika beberapa Negara berbahasa arab tersebut di gabung menjadi satu. Sedangkan dari Indonesia, hanya segelintir saja yang muslim.

Sebagai gambaran muslim di Indonesia di NI adalah: jika ada pengajian yang berkumpul tak lebih dari 10 anak anak dan 10 dewasa, cuma itu. Namun dari jumlah yang sedikit ini bisa membawa hikmah yang banyak karena saat inilah kedekatan dan ikhwah islamiyah tambah lebih terasa. Persaudaran islam itu terasa bukan karena banyaknya jumlah namun seberapa intens berinteraksi secara pertemuan, berkirim kabar dan salam dan lain sebagainya.

Dikarenakan 3 tahun berturut turut ini idul fitri jatuh pada musim liburan sekolah di Belfast, maka banyak pula diantara keluarga muslim Indonesia yang memanfaatkan liburan itu untuk sekaligus pulang kampung ke tanah air saat menjelang raya idul fitri. Alhasil dari jumlah kami yang sedikit ini, maka makin tambah sedikit lagi.

Namun itu tidak mengurangi rasa suka cita saat hari kemenangan. Tepat saat sholat idul fitri selesai saya dan keluarga dan beberapa warga Indonesia di NI diundang oleh pak Arief ke rumah beliau untuk menikmati hidangan yang beliau sajikan. Maka berkumpullah kami di sana sebanyak 5 orang dewasa dan 5 orang anak anak, terasa nikmat betul ukhuwwah islamiyahnya.

Hari pertama di rumah pak Arief.

Saya dan istri sudah jauh jauh hari bersiap untuk memeriahkan idul fitri ini di mana kami ingin membuat semacam open house di hari berikutnya, Sabtu. Memperkirakan tak banyak orang Indonesia yang bakal hadir, maka kebanyakan kenalan Malaysia dan Philipina saya undang untuk datang ke rumah. Walhasil, saya perkirakan yang hadir Sabtu lalu sebanyak 2 gelombang itu sebanyak 30 orang dewasa dan anak anak. Cukup lebih meriah dilihat dari segi jumlah. Namun rasa itu menjadi lebih meriah lagi dikarenakan sudara lain dari Negara lain menyempatkan hadir di acara di rumah kami tersebut. Orang orang Indonesia membawa makan khas Indonesia, rendang, bakso, ayam rica dan beberapa minuman kaleng/botol. Yang berpersangan dengan orang lokalpun membawa pasangan mereka ke rumah kami. Lalu, orang orang malaysia dan philipina memiliki kebudayaan yang sedikit sama pula dengan kita, yakni mereka datang ke rumah juga membawa juada khas mereka sendiri, tidak mau melenggang kangkung jika berkunjung ke rumah orang lain. Macam macam yang mereka bawa, lemang, abon, gulai ayam, dan ada juga yang bawa kado berisi tea set J
J .

19834920465_b62e6fce26_o

Hidangan yang menggugah selera saat di rumah

Orang orang Indonesia yang non muslim pun bergabung untuk membantu persiapan di rumah dan merekapun membawa makanan ringan yang bisa mereka bawa pula. Anak anak bermain di ruang atas yang sempit namun terasa lapang jika berlapang hati.

Mengingat betapa akrabnya muslim dari berbagai Negara dan muslim dan non muslim sesama tanah air saat idul fitri ini rasanya insiden intoleransi yang terjadi akhir akhir ini cukup mengiris hati. Tidak terbayang bagi saya jika ada orang semena mena melarang orang lain beribadah padahal ibadah tersebut tak ada sangkut pautnya dengan mereka. Akan lebih baik lagi saat orang lain beribadah maka beribadah pulalah sesuai dengan ibadah yang diajarkan oleh agama masing masing bukan mengganggu orang lain.

19212274644_38da0a25b4_o

Orang lokal

19646886878_9de88014aa_o

Indonesia, Malayisa dan Philipina.

19646887708_3e9d45cfd9_o

Indonesia, Malaysia, Philipina, Islam dan Non Islam bergabung.

Semoga toleransi di Indonesia tidak disalah artikan karena seingat saya mayoritas muslim di Indonesia akan setuju dan rela saja jika non muslim ingin beribadah menurut agama mereka dan sebaliknya sebuah pulau yang non muslimnya mayoritas harusnya tidak boleh kebakaran jenggot jika muslim minoritas di daerah anda melaksankan ibadah mereka.

Saya di sini adalah bagian minoritas 3000 orang di antara 1,8 juta jiwa dan sampai saat ini secara umum, mayoritas non muslim sangat bertoleransi dengan muslim yang tinggal di Northern Ireland ini, tak ada sedikitpun mereka terbetik ingin menyerang orang yang sedang sholat, misalnya. Sebuah sikap yang perlu dicontoh bukan?

2 thoughts on “Merayakan Idul Fitri dengan Toleransi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s