Bangga Menjadi Anak Jati Nusantara dan Selalu mencoba untuk PEDE Menjadi Muslim

Tanggal 30 June kemarin saya harus melapalkan ulang bahan yang harus dipresentasikan untuk hari ini 1 July-nya. Tanpa terasa waktu berlalu dan untuk melangkah ke masjid sudah cukup telat. Akhirnya saya putuskan untuk berbuka di penginapan saja.

Penjaga hotel yang bernama Henny itu, seorang pria paruh baya, sangat bersemangat sejak saya check in di Penginapannya di Corwn Inn Hotel Eindhoven. “Apa di Indonesia masih banyak teroris seperti barusan yang terjadi Tunisia”. Saya tergagap dengan pertanyaannya itu. Bisa jadi ia termakan oleh berita bahwa Indonesia bukan negara aman. Saya katakan bahwa teroris tidak milik agama atau bangsa apapun. Ia milik orang yang tak berhati. Saya mendefiniskan teroris adalah tindak tanduk yang membuat orang lain tak tenang. Membunyikan knalpot kendaraan dengan suara keraspun menurut saya adalah teroris. Apalagi orang yang tega mengambil nyawa orang lain dengan menembak membabi buta. Sebenarnya ingin pula saya tambahkan begini, Pertanyaan anda yang membuat saya merasa tergagap itupun saya rasa adalah tindak teroris, namun tak saya sampaikan walaupun ia telah meneror saya. Cukup lama saya berbincang dengannya. Namun dari bincang kami saya ingin memperlihatkan bahwa saya setuju sebagian dari obrolan kami dan ada pula sebagian yang tak saya setujui. Sikap seperti inilah yang ingin saya bangun. Mengatakan yang haq adalah haq dan bathil adalah bathil. Jangan di simpan dalam hati dikarenakan ketakutan dan rasa toleransi. Akhirnya ia mahfum dengan sikap saya. Agaknya sebagai tanda persahabatan ia berbuat baik kepada saya dengan memprintkan 6 lembar petunjuk lokasi yang harus saya kunjungi yang berjarak 25 km dari Eindhoven. Lokasi orang Maluku yang ada di kamp tahun 1944. Setelah saya baca print out yang ia berikan. Saya hanya menyimpan di laci meja. Bisa saja saya kunjungi dan mungkin pula tidak.

Darinya saya dapat info bahwa ada restoran besar Indonesia yang berjarak 3 menit dari penginapan. Saat saya tanyakan apakah mereka menjual makanan halal dia tak kunjung menganggukan kepalanya. Namun ia berucap, “Anda muslim? jika ingin makanan halal datang saja ke restoran turki di sana mereka menjual makanan halalnya”.

Saya adalah orang yang bangga menjadi anak nusantara, dan tentu pula segala hal hal baik yang ada di dalamanya. Terbayang di mata saya, apa pula rasanya jika makan di restoran Indonesia yang berada di rantau. Mungkin lezatnya tiada tara. Namun, niat tersebut saya urungkan karena dari brosur yang Henny berikan, sudah saya pastikan bahwa restoran ini bukanlah restoran halal terlihat dari makanan yang ada dalam menu mereka. Biarlah saya mengalahkan rasa bangga saya untuk ingin menikmati hidangan restoran yang mungkin rasa enaknya hanya sampai kerongkongan itu. Akhirnya saya langkahkan kaki ke resotaran turki yang dijaga oleh pendatang afghan tersebut. Mereka fasih berbahasa belanda dan saya tentu tak mengerti sedikitpun. Hal yang saya tanyakanan adalah, “Apakah makanan yang anda jual makanan halal?”. Dia jawab “halal” dan ditambahkan kalimat “ramadahan karim” karena pastilah ia menduga saya seorang muslim dikarenakan menanyakan kehalalan makanannya itu.

Akhirnya seporsi besar makanan lengkap saya pesan. Makanan inilah yang dijadikan pengganjal untuk ifthar dan sahur nantinya. Buatlah makanan kalian sebagai pengganjal perut namun jangan diganjal terlalu besar sehingga menyebabkan rukuk dalam sholat anda tak lagi tegak lurus antara kaki dan punggung.

Dalam hati saya berujar, cukuplah saya dikatakan sombong dikarenakan masih menurutkan kata hati untuk berbangga menjadi orang nusantara sedangkan saya tak peduli apakah makanan yang akan masuk ke perut saya sudah sesuai dengan kehendakNya. Biarlah saya tetap mencoba bangga menjadi orang Nusantara namun dalam waktu bersamaan perlahan lahan membangun rasa PEDE menjadi seorang muslim yang berusaha untuk menjalankan perintahnya (yang tentu tak ada satupun yang sulit, karena agama ini tak pernah mempersulit) satu demi satu semampunya saya.

Eindhoven 1 July 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s