Belanja Baru, Uang Hantaran dan Isi Kamar

Akhirnya Amak membuka suara juga perihal uang yang ia hantarkan ke pihak perempuan itu, pihak bakal istriku. Betul, uang belanja baru, begitulah kami menyebutnya. Adat kami orang Kampar tak mengenal uang hantaran ataupun uang isi kamar yang harus ditanggung oleh pihak laki laki kepada pihak perempuan, uang belanja baru itulah yang kami karib dengannya.

Konon uang belanja baru ini dihantarkan sebelum pernikahan berlangsung. Inilah uang yang dijadikan oleh pasangan muda suami istri nantinya untuk membantu si mertua di pihak perempuan saat berbelanja ke pasar semasa pasangan muda ini masih menumpang di rumah mertuanya di awal awal mereka mendayung bahtera rumah tangga.

Cukup bijak agaknya cara menghantarkannya, uang belanja ini dihantarkan oleh kaum ibu dari pihak laki laki. Para ibu ibu yang memegang teguh adat matrilinear perpatih yang gigih ini akan berunding satu sama lain seberapa layaknya belanja baru yang harus dihantarkan sehingga jika tersedikit tak akan membuat malu dan jikapun berlebih tak membuat angkuh.

Amak merahasiakan itu kepadaku, sampai aku sudah memiliki anak baru iya, perempuan yang bersahaja itu, mau membuka suara. “Tak sampai setengah gaji CPNSmu”. Terbeliak mataku mendengarnya, karena aku sadari hampir 1 bulan pertama di rumah mertua aku tak menukuk uang belanja tersebut karena saya berfikiran tentulah amak akan memberikannya jumlah yang besar. Jika ia merasa duit yang saya berikan bakal belanja baru itu dulunya terasa sedikit tentulah ia akan menambahkannya agar ia tak merasa malu disebut sebagai orang kedekut oleh bakal bisan karena memberi uang belanja baru yang sangat sedikit.

Tahulah aku kenapa amak memberikan sejumlah itu. “Karena sebegitulah yang kita mampu, jangan sampai untuk menghindar malu dengan mencari malu”. “Menghindar cemooh orang takut dikatakan kesedikitan lalu berhutang kiri dan kanan tentu akan membuat malu, itulah namanya menghindar malu dengan membuat malu”

“Aku kenal dengan calon besanku” kata amak lagi. Ialah orang yang kalau merasakan kurang tak akan pernah minta tambah ataupun kalau merasa sedikit akan meminta imbuh. Betul juga, bertahun tahun tak pernah ku dengar desas desus orang kampung memperbincangkan akan perihal belanja baruku. Agaknya amak betul akan perkiraanya tentang mertuaku.

Lalu, sejurus kemudian aku memandang pemuda gagah yan terhitung keponakanku itu. Aku berujar kepadanya, “jika uang hantaran yang mereka minta dan uang isi kamar dan segala tetek bengeknya yang mereka hendak, artinya ia tak menginginkan engkau sebagai menantu lelaki di rumah gedangnya”.

Namun demikian akhirnya datang juga aku untuk merundingkan perihal persiapan nikah kawin keponakanku itu. Di rumah calon besan itulah aku berujar, “kami sanggupi permintaan Engku, perihal uang hantaran dan isi kamar itu” kataku, “namun jangan kalian risau dan herannya nantinya, jika sehari setelah helat berlangsung, tukang kredit datang untuk menagih, dan dua pasang pengantin ini selain sah nikah dan kawinya, maka sah pulah mereka sebagai pasangan yang berhutang, karena itulah satu satunya jalan bagi kami memutuskan soalan yang sulit dipecahkan ini, berhutang kepada tukang kredit, rentenir”.

Aku pun pergi dengan kepala tegak setelah puas memberi jawaban atas syarat yang berat itu. Nikah seharusnya dipermudah bukan? Batinku dalam hati. Tak tahu apa yang mereka, calon besan, rundingkan satu sama lain. Jika jodoh tentulah keponakanku akan menjadi menantu mereka, jika tidak tentulah tak sekuntum bunga di taman dan jika tak mengena kail di hilir mudiki lah sampan ke hulu untuk memasang umpan dan kail yang lain.

Lama aku tercenung, uang hantaran yang besar dan isi kamar yang lengkap ini sungguh telah sangat memberatkan sehingga seolah olah mengundang para pemuda seperti keponakanku untuk berbuat fasiq (baca: zina) padahal sudah dihalalkan nikah dan uang hantaran dan isi kamar ini bukanlah rukun nikah dan kawin hanyalah bunga dunia yang tak penting penghalang hal yang halal untuk terjadi. Lalu, alangkah beruntungnya diriku.

Catatan: Ini hanya cerita pendek.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s