Saat Anda Mulai Mempertanyakan keputusan Melakukan Studi PhD?

Saat ini saya menjalani akhir tahun ke-3 studi PhD saya. Ada ada saja yang saya perhatikan di sekeliling saya terutama perhatian saya tertuju ke mahasiswa PhD baru. Konon ada untungnya bagi mahasiswa yang berasal dari S1 lalu lanjut ke PhD semisalnya: otak mereka masih segar, namun melanjutkan PhD setelah melaksanakan studi master degree atau setelah bekerja menimba pengalaman beberapa tahun juga membawa keuntungan yaitu terbiasa menjadi lebih mandiri, sebuah syarat yang sangat dituntut untuk seorang mahasiswa PhD bukan?. Bagi yang berasal dari S1 lalu menuju ke PhD mereka masih merasa bahwa supervisor adalah orang yang siap membantu mereka seperti saat mereka S1 dahulu, sehingga ketergantungan ke supervisor akan menjadi lebih tinggi lagi. Anda masih harus bersyukur jika supervisornya bersedia memperlakukan anda seperti anda S1 dahulu yaitu disuapkan, jika tidak maka anda akan bermasalah dengan kemandirian, karena mahasiswa PhD ya memang harus mandiri.

Dari sekian tantangan yang saya rasakan menjalani awal awal masa PhD dan terkadang sekarang juga masih terasa adalah bahwa saat apa yang kita teliti tak kunjung membuahkan hasil maka kita kembali bertanya, betulkah saya ingin melakukan ini? Meninggalkan pekerjaan yang dulu, meninggalkan keluarga besar dan meninggalkan tanah air demi pendidikan? Maka saat itu anda akan merasakan bahwa keputusan melanjutkan ke PhD adalah keputusan yang salah dan melihat orang lain membangun karirnya di dunia pekerjaan di industri anda akan merasa bagaimana gitu?.

Sebelum berangkat S3 dulu, seorang kawan bertanya ke saya, apakah saya tidak takut jika suatu saat tidak berhasil menyelesaikan studi S3 saya. Saya tidak langsung menjawab pertanyaan itu, konon ini juga metode Akbar Tanjung jika ada orang yang bertanya kepadanya-beliau tidak langsung menjawab dengan tergesa gesa. Lalu, saya katakan kepada kawan tersebut bahwa saya harus bisa menyelesaikan studi saya tersebut dan jikapun nanti takdir mengatakan lain maka setidaknya saya pernah mencobanya, itulah yang saya katakan ke rekan tersebut yang ia sambut dengan doanya agar saya lancar adanya. Sayapun menyahutnya dengan lafadz, aamiin.

Lalu, jika melihat rekan lain baik sesama riset kluster atau di bidang lain mulai membuahkan hasil dari penelitiannya berupa publikasi misalnya, maka anda akan merasa, ah saya sudah ketinggalan jauh dan merasa bahwa bidang anda adalah bukan bidang yang layak untuk diteliti karena tidak ada jurnal/berkala yang memilihnya sebagai call for article.

Jika itu yang terjadi, jangan khawatir. Memang seperti itulah riset, terkadang memberikan hasil cepat namun ada juga yang membutuhkan waktu yang lama. Saya ketemu dengan seorang alumni riset kluster saya yang menjadi asisten professor di abu dabi saat konferensi di Dublin 2 tahun lalu. Saat PhD beliau menghasilkan 6 konferen paper dari apa yang ia kerjakan. Empat di antaranya ia tulis sebagai penulis 1 sedangkan dua paper sisanya, ia adalah sebagai penulis pendamping. Baru 4 tahun kemudian di tahun 2015 ia mempublikasikan risetnya di jurnal setelah ia lulus di tahun 2011.

Pembimbing saya lebih muda usianya dari saya. Saat ia melakukan studi PhDnya ia anak muda 20 tahunan sedangkan saya adalah seorang ayah 30 tahunan. Ia adalah tipikal orang yang sedikit melakukan konferensi namun berusaha focus di jurnal artikel yang akhirnya bisa ia publikasikan. Namun tahukah anda bahwa 3 jurnal artikelnya yang lain baru ia publikasikan setelah ia memiliki waktu senggang, yaitu saat ia telah lulus PhD.

Konferensi paper di bidang elektro terutama yang disponsori oleh IEEE, semisal PES GM ataupun PowerTech bukan konferensi main main. Mereka harus melewati meja reviewer. Jika saya reratakan maka jarak diantara memasukan abstrak, memasukan full paper dan lalu melakukan presentasi di depan orang hebat lainya sampai terindek oleh ieeexplore setidaknya membutuhkan waktu selama 6 bulan. Jadi, jika anda lancar lancar saja maka selama 3 tahun mungkin bisa membawakan 6 konferensi paper jika menggunakan perhitungan saya dan itu tentunya saat di tahun pertama anda sudah membuahkan hasil dan sudah kerasan untuk menyandang status mahasiswa PhD.

Agaknya kuliah PhD adalah perjalanan yang panjang namun ia haruslah dinikmati agar tidak menyebabkan hal lain terabaikan. Jika anda bukan tipikal orang yang biasa bekerja belasan jam sehari, maka jika itu sudah waktunya pulang maka pulanglah segera, temui keluarga bagi yang sudah berkeluarga, masak makanan kesukaan bersama istri atau suami anda, hadiri kajian islam di setiap kesempatan yang ada di sela kesibukan PhD anda, dsb. Sampai saat ini saya masih menyempatkan mengajar anak anak untuk mengaji di rumah, masih bermain futsal kesukaan saya tiap pekannya, masih membuat majlis taklim di Belfast dan yang jelas masih membantu istri untuk membereskan pekerjaan rumah tangga yang tak kunjung beres dan membesarkan anak anak kami dengan kasih sayang yang tulus, insyaallah.

 

9 thoughts on “Saat Anda Mulai Mempertanyakan keputusan Melakukan Studi PhD?

  1. makasih tulisannya….. suka dengan alinea terakhirnya….
    jadi tambah semangat…..

    sukses ya, Pak….

  2. hal yang sama telah saya rasakan pak, kuncinya kesabaran, optimisme dan doa..,,semoga berhasil melewati tahap ini pak….

    • Pak Amun, akan saya praktikan kiat dan kunci dari pak Amun. Sangat bermanfaat dan terimakasih atas doanya. Sukses selalu untuk pak Amun dan keluarha besar. Salam takzim.

  3. sesama mahasiswa PhD I do Understand what you wrote, Sir! hehe…. saling mendoakan ya pak, kita bisa lulus,hopefully secepatnya. Kesibukan PhD memang tak mesti harus merayakan anugerah kehidupan yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s