Berjalan dan beribadah

Berjalan di sudut sudut desa dan kota di Northern Ireland ketika musim semi dan panas cukup menyenangkan. Siang menjadi panjang membuat perjalanan menjadi lebih bisa dinikmati karena tidak perlu berkejaran dengan datangnya kegelapan malam. Cuaca juga cukup mendukung karena jika di luar musim itu maka gerimis selalu hadir tiba tiba dan angina dingin yang terkadang bertiup kencang bisa membuat badan menggigil.

Di musim semi atau musim panas ini suhu maksimum bisa mencapai 16 c. Suhu yang membuat penduduk lokal membuka jendela rumah mereka lebar lebar dan mulai mengeluarkan kursi dan meja meja untuk diletakan di halaman depan. Maka saat inilah ruang keluarga akan di pindah ke halaman sembari menikmati mentari yang begitu pelitnya hadir di negeri ini.

Jika beruntung, terkadang bisa mendapatkan mentari cerah penuh selama 1 bulan dalam kurun 1 tahun. Jika musim lagi tidak beruntung maka cahaya mentari cerah penuh hanya didapatkan dalam hitungan belasan hari saja.

Jika berjalan dengan keluarga, walaupun dalam jarak dekat maupun jauh, saya dan istri selalu mempersiapkan segala halnya dengan benar. Jika berangkat pagi, maka makan siang sudah dipersiapkan dan biasanya di makan di lapangan terbuka ataupun bangku bangku di sudut sudut kota yang masih terasa indah dan rapi.

Saya selalu memberikan contoh ke anak anak dalam usia dininya bahwa menjaga kewajiban kita sebagai hamba ini haruslah betul betul diperhatikan. Maka, selain makanan tersebut alas tikar dan alas sholat sudah pasti menemani perjalanan kami. Favorit saya adalah lapangan terbuka, namun jika tidak menemukan yang layak maka saya akan sholat dimanapun selagi di rasa bersih.

Akhir Desember 2014 lalu saya sempat berkunjung ke city center. Ternyata di sana lagi ada pasar natal. Di sepanjang bangunan dan jalan jalan yang biasanya sepi itu kini dipenuhi oleh orang dengan wajah ceria yang berlalu lalang. Agak sulit sholat dengan kondisi seperti ini. Salah satunya cara yang saya lakukan adalah, saya masuk ke halaman city hall, nah ternyata juga sangat sangat padat. Namun niat tidak boleh diurungkan. Saya menemukan celah di sudut belakang city center di situlah saya sholat dengan keluarga, sedangkan saat bersamaan di halaman depan city center orang berdesak desakan layaknya pasar senggol di tanah air.

Sebagian orang yang melihat, tidak keberatan jika saya sholat. Ada yang menunjuk saya sambil berujar ke anaknya bahwa kami sedang sholat. Setidaknya begitulah kata istri yang memperhatikan orang lalu lalang saat kami melakukan sholat tersebut yang kebetulan istri kebagian tidak sholat.

Jika di taman, hanya bentang tikar dan sholat bisa dilakukan tanpa perlu khawatir akan dilihat aneh oleh orang. Toh, walaupun aneh di mata mereka saya wajib melakukannya sebagai ungkapan syukur kepadaNya dan sebagai penambah tabungan amal nantinya. Doakan selalu istiqomah ya.

Figure 1. Sholat di lapangan terbuka serasa hari raya JJ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s