Salah Sangka

Ayah saya memiliki kebiasaan untuk menimbun jalan jalan dari rumah kami sampai ke lokasi peternakan kerbau beliau. Jalan jalan yang belum diaspal tersebut sangat mudah berlobang jika terkena hujan berturut turut beberapa hari. Jalan jalan itu agaknya sepanjang 3 km yang belum beraspal waktu itu (sekarang sudah diaspal).

Jika lobangnya mulai besar dan semakin dalam biasanya ayah akan mulai bekerja bakti sendiri. Ia angkut tanah tanah dan kerikil dari tepian sungai Kampar menggunakan angkong dan terkadang ia gunakan pula ember untuk memudahkan pemindahan dari angkong ke lokasi jalan yang berlubang yang tak membutuhkan begitu banyak timbunan kerikil maupun tanah galian.

Sembari melepas penat terkadang beliau duduk duduk di pinggir jalan sembari angkong dan ember pengangkut ia biarkan dan letakan begitu saja. Ada saja yang memelankan laju sepeda motor dan atau sepeda ontelnya sembari melemparkan beberapa lembar uang kertas ribuan ke dalam ember yang ada bekas tanah tersebut.

Mereka mengira ayah melakukan itu karena ingin meminta minta untuk diberi uang dikarenakan ia sudah menimbun jalan yang berlubang tersebut. Atau hal ini dilakukan oleh orang lalu dimungkinkan karena memang kebiasaan masyarakat lain melakukan hal demikian, memperbaiki jalan sambil menadahkan bakul meminta sumbangan? Entahlah.

Setahu saya jika memang akhirnya ada ataupun banyak duit tersebut yang terkumpul dikarenakan ada saja orang yang lalu melemparkan duit saat ayah beristirahat dari kerjabakti sendirinya maka tidaklah duit itu ia makan sendiri melainkan ia teruskan ke orang lain lagi. Entah ke kawannya atau ke sanak saudaranya yang secara ekonomi ia pandang layak untuk dibantu. Seolah olah ayah mengatakan, saya melakukan ini bukan karena ingin meminta uang namun karena risau melihat jalan yang selalu saya lalui banyak berlubang dan tak satupun orang yang hendak bergotong royong.

Jika pulang ke kampung istri di saat akhir pekan, saya selalu pula menemani ibu mertua (sewaktu hidupnya) saat ia berbelanja ke pasar pekanan yang berjalak 1 km dari kampung. Pasar di kampung cukup besar layaknya sebuah lapangan bola berbentuk segi empat. Pembeli tentunya bisa masuk di setiap sisinya karena tidak ada tembok pembatas, sebuah ciri hal pasar tradisional. Di dalam pasar akan ada beberapa los maupun lapak untuk menampung para penjual. Di antara los dan lapak biasanya ada gang gang kecil untuk pembeli bertransaksi dengan penjual.

Lalu, mertua saya lebih suka masuk dari sisi bagian belakang, karena semua penjual langganan beliau selalu membuka lapak dan menyewa los di bagian belakang pasar tersebut. Jika lewat dari belakang pasar dan saat hujan turun, jalanan sangat becek maka sudah dipastikan jika ke pasar menggunakan jasa ojek maka besar kemungkinan si tukang ojek enggan masuk dari sisi belakang tersebut. Mertua senang karena saya sudah dipastikan sedia mengantarkan beliau dari sisi mana saja ia mau. Seorang kawannya berujar sambil tersenyum dan tentunya tak mengenal saya, “oji (sapaan orang Kampar untuk hajjah/haji) beruntung karena tukang ojek mau mengantar oji melalui pintu belakang ini, nah saya, si tukang ojek hanya mau mengantarkan sampai sisi depan saja dan saya harus berjalan jauh ke belakang padahal asam urat saya kambuh”. Begitulah kata kawan beliau karena menduga saya adalah tukang ojek padahal bisa jadi saya adalah pengajar anak yang bersangkutan di kampus sana JJ. Layak adanya jika ia mengira saya tukang ojek. Mungkin dikarena saya selalu menggunakan jaket motor gratisan dari dealer sepeda motor yang lazim pula dikenakan oleh tukang ojek di kampung sana agaknya. Entahlah !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s