Musim Rendang Kampar

Entah karena alasan apa, maka selalu ada sebuah musim di suatu waktu. Lalu kapan pula musim merendang, khususnya di Kampar?. Rendang, adalah sebuah kuliner yang sangat terkenal di Kampar. Masing masing daerah di sepanjang daerah aliran sungai Kampar ini, baik di Kampar Kanan maupun Kampar Kiri, entah di bagian hulu maupun bagian hilirnya, akan mengklaim bahwa rendang dari daerah merekalah yang paling enak.

Orang orang Kampar terkenal dengan pandai memasaknya. Maka tidak aneh, jika anda bertandang ke ibukota provinsi Riau, di Pekanbaru sana maka rumah makan yang menjadi favorit beberapa darinya adalah rumah makan yang dikelola oleh orang Kampar. Sebut saja pondok patin haji yunus di daerah marpoyan sana ataupun rumah makan sinar Kampar di jalan arengka serta rumah makan haji abbas di arengka dua.

Mari kita tinggalkan rumah makan tersebut, karena takutnya saya beriklan untuk rumah makan tersebut padahal saya tidak “dibayar” bukan?

Musim merendang di Kampar ada hari harinya. Biasanya H-1 menjelang idul fitri atau tepatnya di akhir ramadhan. Rendang yang dimasak hari akhir ramadhan inilah yang akan digunakan lauk untuk bersantap saat pagi raya sebelum melaksanakan sholat idul fitri, baik di lapangan maupun di masjid masjid besar. Karena pasar besar hanya dilakukan sekali satu pekan, maka saat H-1 idul fitri ini maka sudah dipastikan setiap kampung ada saja sekelompok orang kampung yang menyembelih kerbau. Kelompok inilah yang menjadi penjual daging dadakan. Mereka akan menyembelih kerbau mereka di saat dini hari sekali dan menjelang jam 7 pagi sudah dipastikan daging daging kerbau tersebut habis lesap sudah.

Biasanya orang yang berduit dan berselera akan mengontak kelompok pembantai ini. Mereka jauh jauh hari akan memesan bagian daging mana yang akan mereka beli dan berapa kg berat yang diinginkan. Biasanya daging empuk akan lebih mahal bila dibanding dengan daging yang berkalimimiu (lemak). Ada juga yang memesan benak kerbau atau keseluruhan kepalanya. Dan adapula yang tak berduit banyak, hanya memesan sedikit saja. Asal bisa untuk direndang menjelang raya idul fitri jadilah, begitulah setidaknya alasan mereka.

Maka tidak bisa disangkal, kemanapun anda melangkah, di pelosok rumah rumah yang ada di Kampar saat H-1 idul fitri tersebut, sudah dipastikan mereka akan dikepung oleh asap karena hampir semua orang merendang daging di luar rumah mereka menggunakan kancah (kuali besar) dan menggunakan kayu api sebagai sumber panasnya.

Tak dipungkiri lagi, aroma harum rendang semerbak di segala penjuru menambah semarak takbir nanti malam dan idul fitri besok paginya. Pada hari akhir ramadhan ini pula para anak dan kemenakan berkumpul berbuka puasa terakhir di tahun itu untuk juga sembari mengikat silaturrahim satu sama lain.

Selamat musim merendang.

*catatan: kebanyakan di kampung kampung, daging dipilih untuk direndang adalah daging kerbau, namun bagi yang tak berkecukupan untuk membeli daging waktu itu, mereka biasa pula merendang ayam, dsb.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s