Berhenti Berlatih TOEFL

Setelah diumumkan hasil TPA dan TOEFL, maka saya termasuk salah satu dosen yang berhasil untuk mendapatkan pelatihan TOEFL gratis dari DIKTI selama 3 bulan mulai di bulan Oktober 2010. Saya mengontak salah seorang rekan yang menjadi pengajar di UNSRI Palembang untuk minta bantuan beliau mencarikan rumah kontrakan/kamar sewa selama pelatihan berlangsung nantinya. Beliau ini adalah kakak kelas saya di SMA 1 Pekanbaru dan sekaligus sesama alumni UNDIP. Buah bantuan beliau inilah akhirnya saya mendapatkan rumah yang tidak jauh dari kampus bukit Palembang.

Serba kebetulan, rumah ini adalah milik pasangan suami istri yang memiliki anak dua anak perempuan. Kedua anaknya sedang belajar di Jawa dan di Korea sehingga mereka hanya berdua saja di rumah tersebut. Kebetulannya lagi, suami istri ini berasal dari Kampar, se negeri dengan saya. Tentu bagi mereka yang sudah merantau lama ke Palembang, merasa senang mendapatkan saya menyewa di sana. Setidaknya mereka bisa kembali berbahasa Kampar dengan saya J . Sang istri adalah pengajar di UNSRI dan kebetulan pula alumni UR Pekanbaru dan sang suami adalah pensiunan pegawai agama. Sehari hari sang suami adalah imam di salah satu masjid yang cukup besar di kompleks tersebut. Dengan berada di rumah ini, saya merasa selalu ada yang mengingatkan. Setiap lima waktu beliau sholat di masjid. Jika saya lagi tidak di kampus maka kami berjalan beriringan untuk menuju masjid berasama.

Momen ini hanya berselang seminggu. Di awal Nopember 2010 saya mendapat telepon dari adik dan amak. Ayah sakit, namun saya disarankan untuk tidak pulang agar pelatihan tidak terganggu. Akhirnya setelah sholat jumat di masjid raya Palembang, detik itu juga saya putuskan untuk membeli tiket pulang ke Pekanbaru, hati saya resah. Akhirnya saya sampai di Pekanbaru, dengan menaiki superben yang kecepatan tinggi saya tuju kota Bangkinang, tepatnya sebuah rumah sakit umum di mana ayah dirawat. Beliau akhirnya berkat keponakannya yang juga petugas rumah sakit, kami pindahkan di rumah sakit Pekanbaru. Hampir sebulan beliau dirawat dan akhirnya menghadap Sang Empunya pada hari jumat yang mulia pada tanggal 3 Desember 2010.

Sebenarnya di tengah bulan saat beliau dirawat. Direktur bahasa UNSRI sempat mengontak saya mengenai apakah saya akan meneruskan pelatihan atau tidak. Saya katakana ke beliau, jika sakit ayah masih seperti ini jua, maka saya tidak akan kembali ke Palembang. Baik kalau begitu, itulah yang dikatakan oleh direktur, jika begitu pak Iswadi setuju agar namanya dicoret dari pelatihan ini. Dengan desahan nafas ikhlas saya iyakan, setuju.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s