Setumpuk Mainan menjelang Natal

Health visitor mengunjungi kediaman kami. Setelah mengecek kesehatan si bungu terkait penglihatan, pendengaran, berat dan tinggi badan lalu beliau bercerita lain hal. Mengenai suka duka saya di sini. Saya bilang dengan jujur, tidak ada duka selain rasa rindu di kampung halaman dan sedikit diburu target karena studi saya berkontrak 3 tahun.

Sampai akhirnya ia menanyakan juga tentang ekonomi, dan apakah di rumah cukup tersedia mainan untuk membuat 3 anak anak kami merasa gembira. Saya katakana lumayan cukup. Terkadang saya mendapatkan mainan anak anak dari warga Indonesia yang di Belfast. Bekas pakai yang masih berkualitas sangat sangat bagus ujar saya.

Dengan ragu ragu ia menanyakan apakah membutuhkan mainan lain atau kebutuhan lain. Saya bukan orang suka berbasa basi. Saya katakan kepadanya, jika ada, maka saya tidak akan menolaknya. Menjelang penutup pertemuan kami waktu itu, akhirnya beliau menjanjikan akan membawakan mainan tersebut ke rumah pada pekan depannya.

Saat ia berkunjung ke rumah di pekan depannya saya tidak ada di rumah. Istri yang menerima beliau. Sekantong plastik hitam mainan beliau bawakan. Jangan dibuka sekarang, katakan itu dari santa dan buka di hari natal nanti di depan anak anak, begitu selorohnya.

Yang namanya anak anak. Sepulang dua anak saya yang lain dari sekolah dan melihat bungkusan hitam besar tertegak di ruang tamu anak anak menjadi ingin tahu. Istri tak sempat menyimpannya sehingga anak anak keburu tahu dan membuka bungkusan itu sembari ibu mereka masak di dapur untuk bekal makan malam.

Cukup banyak mainan yang dibawakan. Prakiraan saya kali ini meleset 100 persen. Saya kira, mainan bekas dari charity atau lainnya. Ternyata semua mainannya baru dan bersegel semua. Saya iseng cek di situs online. Saya rata ratakan harganya berkisar ratusan poundsterling. Jumlah yang besar tentunya.

Dua hari kemudian saya ketemu dengan beliau di health center. Beliau menanyakan kabarku. Tidak sempat saya jawab karena saya keburu buru ingin berucap terimakasih atas apa yang ia lakukan dua hari sebelumnya. Dijawab dengan ringkas, no..no problem.

Menuruni tangga health center saya bertemu dengan pasien lain yang ingin berobat pula agaknya. Dia tersenyum sembari melirik ke si bungsu sembari berujar, this must be your Christmas present. Saya tersenyum lagi mendengar ucapan itu. Semua orang di lab di Queen’s University Belfast berucap selamat natal ke saya. Ada dua undangan makan natal yang tak bisa saya hadiri karena saya tahu bahwa saya tak akan bisa menikmatinya dikarenakan acaranya agak malam dan restoran yang mereka pilih tidak memungkinkan saya untuk bisa menikmati makanannya yang kelihatannya dari menu yang dikirim via email itu begitu enaknya. Dengan tegas saya katakanan, saya tidak bisa datang. Tidak ada raut kecewa karena toh saya tidak berniat mengecewakan mereka.

Namun satu yang menjadi catatan kecil bagi saya, bahwa natal bagi sekelumit orang yang saya jumpa di sini adalah: berbagi.

Salam dari Beal Fierste.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s