KEHILANGAN

Jika hilang di belantara bisa dirintis rimbanya.

Jika hilang di kedalaman bisa pula digali timbunannya .

Jika hilang di lautan bisa di timba asin airnya.

Jika hilang di balik dinding kokoh bisa disibak hancurkan penghalangnya.

Namun jika dan jika kau hilang di mata, kemana pula hendak kucari.

 

Aku lihat Amak dan Ayah masih menyimpan duka. Duka yang tak pernah ia perlihatkan melalui roman maupun genangan air matanya. Nun mungkin karena kesedihannya itu, air mata tak hendak keluar namun jatuh ke dalam saja agaknya, tak terlihat dan tak tergenang namun tergetar ke hatiku. Begitulah yang mereka rasakan semenjak abang pergi.

 

Jangankan oleh Amak dan Ayah, yang telah membesarkan dan mendidik kami adik beradik sejak telapak kaki kami sebesar empu jari sampai kami dewasa ini, bahkan aku dan beberapa kawan dekat abang pun merasa kehilangan saat kepergiannya di waktu mudanya mendahului kami. Mungkin karena beliau menempuh pendidikan agama banyak orang yang suka kepadanya. Ia habiskan 7 tahun di pondok pesantren, lalu melanjutkan pendidikan tinggi ke IAIA dan LIPIA di Jakarta sana. Jika ia pulang kampung, orang orang menyuruhnya jadi khatib jumat. Jika hari raya fitri dan haji datang ia akan didatangi oleh tetua kampung untuk menjadi imam dan khatib serap jika dan hanya jika khatib utama yang biasanya dari Pekanbaru berhalangan hadir untuk berkunjung ke pelosok kampung kami. Ia rela saja dijadikan khatib serap. Karena ia bekerja bukan buat mereka namun buatNya.

 

Selama tahun 2002-2005, saya dapati ia mengajar orang mengaji, menulis dan membaca al-qur’an. Murid muridnya, anak anak kecil namun tak sedikit pula ibuk ibuk arisan yang ia ajari untuk mengaji. Saya bertanya kenapa di sela sela penat waktumu yang kau habiskan seharian menjadi pengajar di sekolah seharian penuh SDIT engkau masih menyempatkan mengajar mereka mengaji. “Saya mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan jika nanti rabbku bertanya apakah aku sudah membagi ilmuku maka aku bisa menjawabnya dengan melakukan ini”.

 

Pendidikan al qur’an itu ia berikan gratis. Suatu ketika ibuk ibuk yang menjadi murid beliau berunding satu sama lain tentang berapa baiknya mereka harus memberi honor karena mereka tidak enak jika tidak dipungut bayaran begitu. Akhirnya amplop pembayaran sampai juga ke tangan abang namun sehari selepas itu, amplop tersebut dikembalikan lagi oleh abang ke ibuk ibuk tersebut. Lalu sehari kemudian, ibuk ibuk tersebut mengembalikan ulang ke abang dengan jumlah 2 kali lipat. Mereka menyangka abang mengembalikan amplop karena jumlahnya sedikit sehingga mereka pulangkan kembali amplop itu dengan dua kali lipat uang di dalamnya. Hanya tuhan yang tahu kenapa abang mengembalikan amplop amplop itu.

 

Waktu ia pergi aku tak ada di sisi. Orang orang menghubungiku meminta kata dariku. Kebumikan segera, jangan tunggu aku. Begitulah kebiasaan di kampung kami yang dilandaskan islam itu aku utara agar jenazahnya diselenggarakan. Ia beroleh kawan banyak, baik di kampung maupun saat menimba ilmu di beberapa kampung dan kota. Baik saat ia masih menjadi pelajar maupun saat ia menjadi pengajar. Dialah satu satu mayat di kampung kami yang dihantarkan oleh banyak pelayat ke nisannya. Aku tidak melihat langsung karena aku masih di rantau dan pulau terburu buru berusaha mengejar sua mayatnya walaupun tak kesampaian.

 

Kepergiaanya bertepatan saat menjelang sholat Jumat, hari baik untuk sebuah kematian namun lagi lagi hari itu tetaplah hari yang terberat untuk berduka dan berkabung bagi keluarga dan handai taulannya.

 

Salah seorang kawan dekatnya, imam besar di sebuah masjid di Pekanbaru, hafal 30 juzz al quran berujar kepadaku saat berta’ziah di hari ke tiga kepergiannya. Ia menyampaikan rasa kehilangan dan kesedihannya yang mendalam. Ia katakan pula karena saking sedihnya ia terisak isak dan sulit menyelesaikan bacaan al fatiha dan surah saat mengimami sholat jumat waktu itu.

 

Lalu aku dengar pula, salah seorang kawannya tidak mampu mendatangi kampungku walaupun abang sudah lama tiadanya. Katanya jika ia berkunjung ke kampungku dan bersua dengan orang tuaku maka ia akan merasakan sedih mendalam karena akan terbayang wajah abang saat melihat orangtuaku. Biarlah agar kesedihan itu tak bertambah tamabh ia urungkan niat untuk bersua dengan amak dan ayah.

 

Banyak kesedihan, namun sebaiknya kesedihan yaitu diratapi sebolehnya saja. Dan sebaik baiknya pewaris dan keluarga dan muslim yang ditinggalkan adalah dengan memanjatkan doa keampunan bagi siapapun baik itu keluarga, handai taulan dan kaum muslim yang telah mendahului menghadaptNya. Sebuah doa yang tentunya sama sama sudah kita hafal karena sudah sering dan kerapnya dilafazkan oleh khatib khatib di mimbar mimbar jumat di setiap masjid masjid.

 

Mati ini dua kali dan hidupun demikian pula. Sebuah perbekalan haruslah dipersiapkan untuk kehidupan yang ke-dua yang panjang dan tak berbatas itu. Percayalah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s