DONGENG AMAK DAN TELUR PECAH

“…Entah kenapa dan sudah berapa ulang kali seringnya Amak membawa telur telur yang sudah pecah itu setiap pulang belanja di gelanggang yang hanya digelar sekali sepekan itu. Ternyata untuk berhemat, telur telur yang retak dan sudah pecah itu berharga sedikit lebih murah dibandingkan dengan yang utuh. Lalu setiba dirumah amak harus bergegas untuk memasaknya untuk memberi makan kami adik beradik yang berjumlah 13 itu. Dengan berhemat pulalah amak berharap agar aku tak putus sekolah. Butuh belasan tahun bagiku untuk mendapatkan jawaban atas kebiasaan Amak. Dan setiap waktu aku dipuji puji sebenarnya aku selalu menangis, mengingat betapa jasa Amak dan Ayah kepadaku yang tak terbalaskan itu”. Begitulah ia, sang kawan dekatku itu, kudengar berbisik perlahan lahan kepada dirinya. Sekarang aku merasa diriku seperti kawan dekatku itu pula.

 

Dan pejuang adalah pahlawan pahlawan yang rela darahnya untuk melawan penjajah dan guru guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa namun orang tua adalah pahlawan yang tak pernah meminta jasa dan jika ia minta jangankan setengahnya bahkan secuilpun tak akan terlansaikan oleh anak anak untuk membalasnya.

2 thoughts on “DONGENG AMAK DAN TELUR PECAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s