Pelepas Rindu

Dan begitulah kebiasaan Kami, tak cukup satu buah mobil terkadang bahkan sampai lima mobil dan mungkin lebih yang disewa untuk mengantar sang tamuNya ini menuju rumahNya. Walaupun itu hanya mengantar dari rumah dan hanya sampai ke lapangan terbang saja. Kami bergembira karena ada salah satu anggota keluarga besar yang memenuhi panggilannya untuk mengunjungi rumahNya, berhaji, melaksanakan rukun Islam yang ke lima.

Tak ada dunsanak dan family yang tak akan bergembira dengan berita kepergian ini, dan kegembiraan itu mereka tuangkan dengan berbagai cara. Sebahagian ada yang menyumbangkan uangnya untuk sekedar penambah pembeli lauk pauk bagi orang orang yang berkumpul saat memanjatkan doa selamat sebelum pergi. Sangat pantang bagi Kami jika orang menginjakan kaki ke rumah, jika tak ada nasi maka air putihpun harus kami suguhkan. Maka bergotong royonglah kami. Hajat besar adalah berbagi suka cita dan memanjatkan doa selamat karena salah satu anggotanya akan melengkapi rukun islamnya.

Yang lain tak mau kalah, ada pula yang menyumbang uangnya untuk mencarter mobil. Biasanya mobil mobil bak terbuka yang mereka carter, dengan demikian makin banyak yang dapat terangkut untuk mengantarkanya maka akan menambah semarak suasana menghantar.

Sedangkan mereka yang biasa di dapur akan pula mengeluarkan keahlianya. Maka dikeluarkankah lah kancah besi besar itu. Di situlah, di atas api yang menyala nyala itu rendang daging akan dimasak. Sebuah bekal lauk, kawan pemakan nasi (pakanasi/sambal), bekal di tanah suci. Rendang yang hitam inilah yang bisa bertahan berpuluh puluh hari bahkan hitungan bulan dan ia sangat sangat bisa diandalkan jikalau kalau perut kampung itu tak lagi sesuai dengan masakan yang dihidangkan perusahaan catering di sana.

Sedangkan aku, aku selalu menikmati setiap kejadian ini. Aku usahakan tak sekalipun alfa untuk menyambangi sesiapa yang mau berangkat. Jika tak sempat mengantarnya ke lapang terbang terkadang aku mendatangi rumah sesiapa yang akan berangkat beberapa hari sebelumnya. Terkadang dengan suara pelan kudoakan yang akan berangkat, agar selamat pergi dan sampai pula pulang dan titel mabrur bisa dipakaikan.

Akan halnya saya, setiap habis sholat ataupun sekedar di saat waktu luang maka pohonan yang selalu kupanjatkan adalah semoga beroleh hal yang sama dengan saudara saudara yang beruntung itu. Lalu, sedikit pelepas rindu, biarlah gambar buram ini penjadi penawarnya.

Tampak Atas Masjid Al Haram (Sumber maps.google.co.uk)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s