…hanya ikan yang matilah yang berenang ke hilir


Sungai Kampar, sumber  http://rianopio.blogspot.co.uk)

…lalu, “ikan mudik ikan mudik”….begitulah gemuruh suara sahut menyahut. Seketika bergegas mereka, orang orang kampungku yang berhidup di daerah aliran sungai Kampar itu, menuju sungai yang terkenal sejak dahulu kala itu. Sungai inilah yang menghubungkan dunia pesisir timur sumatra sampai ke pedalaman sumatra baik masa jayanya Sriwijaya, Pekantua, Kampar, Pelalawan di Kampar maupun saat jayanya pagaruyung di mudiknya Kampar, Minangkabau. 

Sudah tabiat ikan ikan melawan arus, namun ada waktu waktu tertentu, khususnya ikan ikan kecil yang kami beri nama “anak ikan” yaitu sejenis ikan yang memiliki rasa yang sangat sangat gurih jika dipunju (pepes). Ikan inilah yang bergerombol melawan arus menuju mudik (barat) berawal dari hilir menuju hulunya nun di barat sana.

Kumpulan ikan yang mudik ini sangat besar jumlahnya karena saat dia ke mudik akan kentara, air yang tadinya terlihat bening di bagian dekat tebing sungai akan terlihat seperti seekor ular besar karena kumpulan ikan ikan kecil ini berkumpul padu satu sama lain yang berenang rapi dan berjejer memanjang dan kumpulan mereka sangat panjang itu, mungkin sepanjang jarak antara kampung yang satu dengan kampung berikutnya, mungkin hitungan ratusan meter kalau tidak kilo meter pula panjangnya.

Tahukah kalian kenapa ikan ikan berenang memudiki (menghulu) sungai??? Entahlah saya tak tahu jawabannya. Mungkin ada yang mereka cari di hulu sana. Lalu apakah sejak ada Dam PLTA di hulu sana mereka masih memudiki sungai. Aku tak tahu juga. Sudah 17 tahun aku tak pernah lagi meliukan tubuhku untuk sekedar berenang menikmati segarnya air sungai Kampar itu. Semoga suatu waktu akan bersua lagi.

Namun saya pernah mendengar pribahasa begini “hanya ikan yang matilah yang berenang ke hilir”. Kataku, “entahlah, mungkin tepatnya hanyut”.

Mereka mereka yang menurut saja apa kata orang agaknya mereka ini berenang ke hilir. Bergerak namun hakikatnya sudah mati. Hanya arus sungai saja yang menyeret mereka ke hilir.

Bergerak wahai diri yang belum mati kalau tidak kalian seperti ikan yang berenang ke hilir.

5115:22/05/2014.

2 thoughts on “…hanya ikan yang matilah yang berenang ke hilir

  1. kok berasa kayak baca novel ya pak.
    btw: itu sungai kampar masih banyak ikan nya ndak pak?
    Dulu di belakang rumah saya ada sungai, waktu kecil banyak sekali berbagai jenis ikan tawar, termasuk udang sungai.
    sekarang tinggal cerita😀. sudah tercemar airnya.

    • ha2x🙂 itu kisah nyata Cak…
      Ikannya masih banyak namun tentu tak sebanyak dulu. Di sebuah titik, sungai ini bercabang, maka menjadilah sungai Kampar kanan dan Kampar kiri. Rasa ikan di Kampar kanan untuk jenis ikan yang sama belum tentu sama dengan di Kampar kiri semisal ikan baung dan tapah (2 ikan yang lezatnya tiada tara). Ada yang bilang ikan dari kampar kanan lebih lezat dan yang lain bilang di Kampar kiri enak. Bagi saya, selama ikan ikan itu dimasak oleh amak, rasanya tetap enak, tak peduli dari kanan maupun kiri🙂

      Kalau sungai ini di depan rumah Cak, karena kebiasaan orang Kampar membuat rumah menghadap sungai (mungkin water front city kali ya).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s