Bayar tidak Bayar

Minggu ini saya bersiap siap pindah ruangan. Dari lokasi lab power yang luas itu ke sebuah ruangan mungil di lantai delapan yang dihuni oleh beberapa Post Doctoral dan PhD student. Ruangan lab power akan direnovasi sejak bulan ini sampai dengan akhir musim panas nanti. Sebenarnya saya lebih suka tinggal di lab power karena dekat dengan lab yang 4 hari seminggu saya harus membantu menjadi demonstrator di sana namun tentuk dibalik itu ada hikmahnya.

Agaknya semua orang mencoba menjalankan fungsinya untuk kepindahan ini (yang pindah tidak saya saja-semua student yang berbasis di lab power pindah semua). Supervisor mengontak saya bahwa untuk pindah harus mendaftar computer dan laptop yang saya punya agar saya mendapat akses internet di ruang itu nantinya. Laboran di lab power yang sehari harinya saya bekerja dengannya untuk membantu mahasiswa degree praktikum juga mengantarkan saya ke lantai 8 untuk menunjukan kepada saya di mana meja yang akan saya tempati. Petugas jaringan computer kembali turun ke lab power di bawah untuk mendata komputer saya karena data sebelumnya yang saya berikan tidak lengkap.

Nampaknya bagi saya, mereka mencoba melaksanakan fungsinya masing masing…hal yang sederhana saja sebenarnya. Ruangan yang akan saya tempati di lantai 8 ini masih menggunakan anak kunci konvensional tidak seperti ruangan yang di lab power yang menggunakan kunci kode. Jadi untuk meminta kunci ini saya harus mengisi form. Form sudah saya isi, lalu saya serahkan ke klerik untuk diproses. Si klerik tersebut mengatakan ke saya bahwa saya harus menyiapkan 10 pound untuk deposit dan deposit ini bisa diminta kembali jika anak kunci ini tak diperlukan lagi atau dikembalikan lagi nantinya. Saya tidak membawa duit 10 pound dan dia sudah terlanjur membuatkan kwitansi tanda terima bahwa saya membayar uang 10 pound sebagai deposit anak kunci tersebut. “Iswadi saya kenal kamu dengan baik, namun ini prosedur dan kamu harus meletakan deposit sebesar 10 pound jika tidak ada sekarang maka kamu bisa mendapatkan anak kunci ini lain waktu saat kamu membawa 10 pound tersebut” sambil ia katakan “maaf ini adalah prosedurnya”. Saya tersenyum dalam hati walau tak mengumpat namun uang 10 pound ini sangatlah kecil jika dibandingkan dengan SPP yang telah dibayarkan oleh DIKTI Kemdiknas ke kampus tempat saya belajar. “Saya mengerti” jawab saya ringkas sembari saya janjikan nantinya saya akan kembali lagi dengan 10 pound dan dengan formulir tersebut.

Terkadang kita menjumpai hal yang berbeda dimana prosedur tak ditaati sebagai mana mestinya. Alkisah seorang kehilangan dompetnya dan tentunya barang berharga di dompetnyapun lesap semua, seperti: kartu ATM bank, KTP dan lain lain. Untuk membuat ulang dokumen tersebut tak jarang pihak bank ataupun kelurahan akan meminta surat keterangan kehilangan dari pihak yang berwajib, biasanya dari institusi POLRI. Setelah surat dibuat dan ditandatangani oleh yang berhak demi keabsahannya maka si petugas mulai mengatakan dengan berbisik bahwa surat tersebut harus berbayar walaupun tak ada aturan yang mengatur dan tak ada kwitansi tanda bukti bayar. “upah ketik” begitu terkadang yang selalu kita dengar, cara jitu yang digunakan oleh orang orang rendah untuk mengemis uang yang tak banyak sebenarnya (dibandingkan harga diri), 20 ribu rupiah uang Republik Indonesia.

Alkisah lainya, seorang penjaga wisma bertemu dengan kawan lama yang kebetulan sekampung denganya dan si kawan menginap di wisma itu untuk suatu keperluan di daerah yang sedang ia kunjungi. Saat akan check out dari wisma si penjaga mengatakan bahwa temannya yang menginap tersebut tak perlu bayar. Si teman yang menginap pamit dan berterimakasih. Padahal kita tahu bahwa wisma bukan milik si penjaga wisa itu tentunya dan tentunya ia tak berhak memberikan biaya gratis begitu saja kecuali ia menggunakan gajinya untuk dipotong sebagai pengganti biaya sewa si teman yang menginap tersebut itu. Namun begitulah terkadang kisah dan pengalaman yang ditemui di dalam hidup hidup kita. Prosedur tak lagi dijalankan sebagai mana mestinya.

Bagi semua orang yang mau, sebenarnya untuk taat hukum agaknya mudah saja dan untuk menghilangkan rasa sungkan jika si petugas penegak berasa sungkan pun sebenarnya gampang saja. Lakukan seperti yang saya rasakan beberapa hari yang lalu “saya kenal kamu Iswadi namun prosedurnya begitu” bukan sebaliknya, HAL YANG HARUS BAYAR MENJADI GRATIS DAN SEBALIKNYA HAL YANG GRATIS MENJADI BAYAR.

Semoga saya menjadi orang yang mudah mengikuti prosedur yang sebenarnya. Bagaimana dengan pengalaman Anda terkait prosedur ini??? Bolehlah dibagi di sini J

Happy weekend

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s