Berbohong

Saya dapat bekal dari khutbah jumat kemarin di Belfast Islamic Center terkait hal kebohongan. Salah satu yang harus dilakukan adalah bahwa kita harus melawan tindak kebohongan itu baik pelaku kebohonganya maupun berita bohong yang disebarkannya.

Namun sayangnya, terkadang kita malah terseret dari bagian itu, baik sengaja ataupun tidak. Misalnya, dengan buru buru mempercayai berita itu sebelum dicek kebenarannya. Jadilah kita asal share berita, asal forward informasi sehingga seolah olah berita itu benar adanya.

Berbohong dalam skala kecil dan bahkan pada diri sendiripun dilarang apatah lagi berbohong dalam skala besar. Narasinya kira kira begini: suatu ketika, ibunda Abdullah bin Umar memanggil Abdullah untuk dijanjikan beberapa butir kurma. Lalu rasul bertanya apakah benar engkau akan memberinya kurma atau hanya main main/pura pura saja? Jika itu hanya pura pura maka itu sudah termasuk berbohong.

Disinggung juga akan hal berbohong terhadap diri sendiri. Misalnya, saat bertamu ke rumah seseorang lalu ditawarkan sesuatu oleh si tuan rumah. Sang tamu menolaknya dan berkata terimakasih lain waktu saja. Padahal disaat itu sang tamu sebenarnya menyukai tawaran si tuan rumah tersebut namun entah karena alasan apa iya menjadi menolaknya (mungkin basa basi, ewuh pakewuh,etc), maka itupun sudah dianggap berbobong dan itupun dilarang, kata khatib jumat kemarin.

Akhir akhir ini banyak berita yang tidak hanya membuat kebohongan yang merugikan dirinya namun juga merugikan orang lain dengan pencemaran nama baik dan menjurus ke fitnah. Akan hal seperti ini, kata khatib, tinggalkan berita itu dan media itu dan jangan dibaca dan jauhi penulisnya. Sanksi ini baik bagi si pembuat berita dan baik pula buat si pembaca. Si pembuat berita akan tahu jika ada yang melawan kebohongannya dan diharapkan ia merubah pola tingkahnya. Bagi si pembaca berita juga baik, karena ia tak akan termakan oleh berita bohong itu.

Sudah saatnya kita membutuhkan berita yang enak enak dibaca dan bernilai kebenaran namun sumbernya di mana ya? Atau tidak usah baca berita saja? Atau mungkin baca berita olah raga saja karena setahu saya berita olah raga tak pernah bohong akan hasilnya, misalnya jika PSPS Pekanbaru menang atas Persija 5-0, maka memang seperti itu adanya (ini juga masuk berita bohong karena PSPS belum pernah menang sebanyak itu melaawan Persija, namun ini kan misal toh). Eeeiit tunggu dulu, terkadang berita olah raga juga suka bohong, misalnya waktu dulu Indonesia kalah dari Malaysia saat helat AFF, lihatlah judulnya, “Garuda Tewas Diterkam Harimau Malaya” dan lain waktu akan keluar lagi sebuah judul “Seperti tak berkuku, Harimau Malaya habis dicabik cabik Garuda”. Ya betul itu adalah hiperbolis bagian dari kekayaan kesustraan dan bahasa. J
J
J

Selamat akhir pekan dan menunggu berita yang baik dan benar dari sahabat semua. Yuk boikot berita dan politisi penulis bohong dan pembohong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s