Cara Memandang

Anak anak bertumbuh, yang bayi beranjak usia dan makin mendapatkan jati diri mereka. Kesukaan mulai berubah dari biasanya dimomong sekarang lebih mandiri. Syafiq dan Alifah belumlah usia sekolah formal. Namun saya juga tak akan membatasi mereka jika minat mereka menuju itu, seperti membaca dan menulis.

Akhir akhir ini mereka lebih banyak bermain dengan pena, pensil dan kertas. Mereka, anak anak yang berusia 4 dan 2 tahun ini, begitu menikmati pekerjaan mereka dengan menguratkan secara cekatan apa apa yang ingin mereka gambarkan.

Sepintas saya tersenyum melihat mereka bermain dengan bahagia. Namun saya juga mengambil pelajaran dari dialog mereka berdua. Alifah bersikeras menggambar sebuah rumah, ia guratkan pena di atas kertas bekas itu sesuka hatinya. Syafiq kemudian menyela, “dek, itu buka gambar rumah, kalau gambar rumah ya begini”. Sembari ia menambahkan guratan penanya di kertas gambar adiknya. Alifah berang dan berkata “itu bukan gambar rumah, gambar rumah tidak pakai itu”.

Saya mendekati mereka berdua yang masih berdebat satu sama lainya. Tak ada gambar rumah yang saya dapati dan guratan tambahan dari Syafiq pun tidak merubah gambar Alifah menjadi sebuah gambar rumah.

Saya pernah menonton pertandingan Ali dan Foreman dan saya setuju dengan kesan orang orang yang dulunya pernah menonton pertandingan ini. Adalah hal yang berat bagi pendukung Ali melihat ronde ronde awal dan sebaliknya pendukung Foreman tentulah bersorak ria.

Alkisah ini di sebuah surau kecil di kampung kecil yang tak seberapa besar itu dan waktu itu belum banyak rumah yang bertelevisi. Guru mengaji dan para murid bersua di salah satu rumah warga. Hajatan besar adalah menonton pertandinga Ali dan Foreman. Guru mengaji berangkat dengan tekad bulat bahwa Ali harus didukung dan dia berasumsi bahwa tentunya murid murid mengaji yang dia asuh di surau akan mendukung Ali pula. Banyak ikatan emosional yang membuat mereka mendukung Ali, salah satunya Ali telah menyatakan dirinya menjadi Muslim dan tentunya itu berita gembira bagi muslim lainya dan mendukung Ali merupakan salah satu apresiasi dari wujud kegembiraan tersebut.

Selanjutnya, dironde ronde awal murid murid mengaji tak banyak bersorak. Mereka lebih banyak menahan nafas dan sesekali mengeluarkan desahan rasa iba. Tentulah murid murid mengaji yang sudah baligh ini tidak tahan melihat Ali babak belur dihantam Foreman. Namun sebaliknya sang guru mengaji ini berjingkrak jingkrak girang saat Ali dipukul di ronde ronde awal.

Masing masing, guru dan murid ini memendam syak wasangka satu sama lainya. Begitu guru dan begitu pula dengan murid. Sang guru mengaji bergumam dalam hati, “entah apa yang telah merasukan fikiran murid murid saya, bahkan mereka lebih mendukung Foreman ketimbang Ali”. “Mereka nampaknya tak suka saat Ali melayangkan pukulannya bertubi tubi ke tubuh Foreman”. Namun sebaliknya para murid berfikiran buruk terhadap guru mereka. Mereka tak habis fikir kenapa sang guru berjingkrak hebat saat Ali kena pukulan yang bertubi tubi dari Foreman. Bukankah mendukung Ali adalah wujud apresiasi terahadap Ali?.

Dan tahulah kita akhir ceritanya bahwa pada ronde ke delapan, Ali memukul telak, KO, Foreman dan di saat itulah para murid berlonjak dan berteriak girang sambil berjoget ria. Sang guru, pingsan karena dua hal: pertama karena Ali KO dan kedua karena murid muridnya sudah tidak benar lagi, mendukung orang yang tak perlu didukung.

Tahulah kita tak ada yang salah antara dua sang guru dan murid ini. Yang salah mungkin adalah bahwa sang guru tak tahu bahwa Ali adalah yang bercelana putih sedangkan Foreman adalah yang bercelana merah. Dia telah menyangka Ali adalah Foreman dan sebaliknya Foreman adalah Ali.

Begitulah terkadang cara pandang membuat kita berbeda dengan orang lain. Syafiq berbeda pandang dengan Alifah terkait seperti apa gambar rumah dan jika saya memandang gambar mereka berdua tersebut bagi saya itu hanya seperti coretan tak bermakna tak ada tanda tanda menyerupai gambar rumah.

Pendefinisian awal sebuah parameter haruslah benar sehingga bisa memutuskan apakah apa yang kita lihat sudah dinilai dengan ketentuan yang ada sehingga kisahnya tak berakhir seperti guru mengaji dan para muridnya.

Akhirnya, bahwa berargumen antara dua belah pihak untuk satu hal bisa saja mengandung beberapa makna. Bisa jadi argumen kedua belah pihak tidak ada yang betul atau bisa jadi salah satunya betul dan bisa jadi dua duanya betul. Untuk yang terakhir ini tentu bagi yang pernah membacanya, bisa merujuk ulang ke kisah sahabat rasul yang dianjurkan sholat setelah sampai ke sebuah kampung yang disebutkan oleh rasul. Satu pihak memutuskan bahwa mereka harus sholat walaupun belum sampai ke kampung yang disebutkan karena waktu sholat sudah masuk. Jika mereka memaksa sholat di kampung yang dituju niscaya waktu sholat akan habis. Sedangkan pihak lain mengatakan bahwa mereka bersikeras untuk melaksanakan sholatnya setelah sampai di kampung yang dituju karena itu adalah perintah rasul SAW. Untuk dua dua pilihan ini, rasul SAW membenarkan kedua pihaknya saat mereka mengadukan pilihan pihak mereka masing masing. Wallahu A’lam.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s