Diulang Ulang

Pergi ke Pekanbaru dari pedalaman negeri di Rumbio sana, bagi anak seusia kami waktu itu adalah saat yang sangat menyenangkan. Aku waktu itu kelas 1 SD sedangkan Uwo kelas 3 SD dan adik yang kecil 4 tahun di bawah saya.

Pergi ke ibukota, berati kami akan naik mobil, dimana sangat jarang orang bisa naik mobil waktu itu walaupun dengan mobil tambang (angkutan umum) apatah lagi dengan mobil pribadi. Lalu, bersua pula dengan lebuh hitam yang jalanya licin dan rata itu. Sehingga perjalan ini tentunya kelak akan menjadi bahan bercerita kepada kawan sebaya di sekolah SD maupaun sekolah agama ataupun di surau Piliang Malintang sekembalinya kami di kampung halaman lagi nantinya. Singkat ceritanya, bisa berbangga terhadap kawan kawan sebaya, kawan kawan sesama bermain dan sahabat sesama bergelut.

Tak kuasa menunggu hari esok, hari yang dijanjikan oleh ayah dan amak bahwa kami diajak untuk berkunjung ke rumah keluarga di Pekanbaru pada hari Ahadnya. Matahari di hari sabtu itu terasa begitu lama bergerak ke barat dan malam begitu panjangnya hanya untuk menjelang dan menjemput Ahad pagi yang dinanti nanti itu. Sehingga mata tak bisa dipicingkan dan tidur tak bisa dilelapkan dengan nyenyak.

Sebenarnya jarak tempuh dari kampung kami ke Pekanbaru tentulah tak terlalu jauh, namun kondisi waktu itu sangat jauh berbeda jika dibandingkan saat sekarang ini. Ayah harus mengayuh kereta untonyo menuju kampung sebelah. Sesampai di kampung tersebut ayah akan menumpangkan keretanya itu kepada salah seorang yang memang memiliki pekerjaan untuk penitipan sepeda. Lalu perjalan akan dilanjutkan dengan menyeberangi sungai Kampar karena lebuh hitam yang menghubungkan kenegrian rumbio dan pekanbaru berada di seberang sana. Lebuh hitam ini jualah yang menghubungkan propinsi Riau dan Sumbar sana. Tak ada jembatan gantung apatah lagi jembatan yang kokoh. Hanya menggunakan rakit saja, yang bergerak berdasarkan hukum fisika akibat hantaman aliran air sungai yang senantiasa mengalir menuju muaranya di selat malaka sana.

Harus menunggu tak kurang dari 2 jam lamanya untuk mendapatkan angkutan umum yang membawa kami ke pekanbaru. Lama menanti terkadang tak membuahkan hasil suka. Terkadang angkutan umum sudah terisi penuh sehingga kami tak bisa menumpang. Supir supir memegang kendali, mereka menjadi orang penting yang dinanti nanti. Mereka tak perlu berteriak mencari penumpang seperti kernet metro mini di Jakarta sana. Jumlah mobil menambang yang sedikit dan penumpang yang banyak membuat para penggiat perusahaan otobis ini sedikit berada di atas angin.

Mereka lebih menyukai mengambil penumpang dari rute yang terjauh karena biaya tambang yang akan mereka dapat akan lebih besar lagi. Namun demikian akhirnya dapat jua kami menaiki mobil tambang di waktu itu. Ayah mendapat kursi, sedangkan saya dipangku oleh ayah lalu Uwo berdiri di sela sempit diantara lutut ayah dan sandaran kursi penumpang di depan kami. Sedangkan adik saya tak ikut bersama kami waktu itu yang tinggal di rumah bersama amak.

Uwo sangat senang berdiri sebenarnya. Karena dengan berdiri ia bisa melihat pemandangan di depan sana. Bisa melihat dengan jelas mobil yang memacu melewati kami ataupun mobil mobil besar yang datang berselisih menuju kami.

Mobil bergerak dengan kecepatan rata rata. Supir tak perlu tergesa gesa karena penumpang sudah memenuhi semua bangku bahkan bangku tempel sekalipun sudah pula terisi penuh. Jarak tempuh menjadi 1.5 jam ke Pekanbaru. Sepanjang jalan tak henti hentinya kami bertanya ke ayah. Terutama Uwo, karena dia berdiri maka bisa melihat sesuatu di luar sana dengan leluasa. Setiap mobil yang lewat yang membalap ataupun berselisih dengan kami, maka Uwo akan bertanya kepada ayah apa merek mobil itu. Dengan sabar ayah akan menjawab satu persatu. Itu namanya sedan. Oh, yang ini namanya Fuso. Yang itu namanya, truk dsb dsb.

Sekarang saya teringat dan tersadar kembali bahwa apa apa yang kami tanya kepada ayah adalah pertanyaan yang sama dan diulang ulang. Mobil itu apa warnanya. Yang itu mereknya apa. Mobil itu rodanya berapa. Mobil itu bisa muat penumpang berapa orang. Selalu kami ulang ulang dan selalu pula ayah menjawabnya tanpa ada perasaan yang jenuh dan kesal. Iya akan mendekapku yang ada dipangkuanya dengan tangan yang satunya sedangkan sekali kali ia akan mengelus pundak dan kepala Uwo dengan tangan yang lainya pertanda ayah senang dengan pertanyaan kami. Walau kami bertanya sejak mobil melajak dari negeri sampai berhenti di pekanbaru yang menghabiskan 1.5 jam perjalanan itu.

Hari hari saat sudah menjadi ayah maka giliran anak anak bertanya ke saya dan mereka mengulang pertanyaan yang sama. Letih dan penat dari kegiatan utama menyebabkan terkadang tak sempat menjawab mereka dengan sempurna. Jika teringat kenangan perjalan dengan mobil tambang ini, sepenat apapun badan, maka saya selalu mengusahakan untuk menjawab mereka dengan sabar. Walau saya tahu bahwa mereka mengulang ulang pertanyaan yang sama.

Semenjak jauh dari amak, saya selalu menghubungi beliau melalui telepon. Setiap sekali sehari dan terkadang sekali dalam dua atau tiga hari. Tidak terlalu lama sebenarnya saya menelepon beliau. Terkadang 2 menit namun sekali sekali ada pula 5 menit lamanya. Maka beliau akan gembira menerima telepon dari saya. Iya pasti terharu. Saya tahu dari paraunya suaranya saat memulai dengan sahutan salam di seberang sana yang berjarak beribuh ribuh kilometer jauhnya.

Lalu, beliau akan banyak bertanya. Bertubi tubi pertanyaan yang beliau sampaikan. Apakah kalian semuanya sehat sehat saja di sana. Apa kabar kalian semuanya di sana. Lalu pukul berapa sekarang di sana. Terkadang pertanyaan ini iya ulang berkali kali dan akupun akan mengulang jawaban yang sama pula untuk memuaskan hatinya.

Amak, kunasehati diri ini agar terhindar dari rasa bosan menjawab pertanyaanmu yang berulang ulang itu karena kutahu bahwa aku dan saudaraku yang lain sudah membuatmu dan ayah menjawab berulang ulang atas pertanyaan kami yang sama pula dulunya. Agaknya, jika kami mengulang pertanyaan yang setiap 5 menit maka dalam 1.5 jam untuk perjalanan yang satu itu, maka sudah mutlak dan pasti ayah telah menjawabnya sebanyak 18 kali adanya. Mulia sajalah hendaknya posisi ayah dan Uwo di hidup yang tak berakhir sana dan kepadaNya jua kutitip jiwa dan raga diri ini dan seluruh keluarga yang ada agar selalu berada di jalanya.

 

Dengan syair menyanyikan lagu

Dengan pena menuliskan kata

Takkan terbalas jerih payah ayah dan ibu

Walaupun membawa segudang harta

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s