Balimau Kasai dan Penyambutan bulan Suci Ramadhan

Beberapa hari yang lalu, salah satu wartawati dari http://www.prioritasnews.com/ mengontak saya. Beliau ingin melakukan wawancara terkait kegiatan Balimau Kasai yang sangat terkenal itu. Saya jelaskan ke beliau, bahwa saya bukanlah orang yang tepat untuk menjawab terkait pelaksanaan kegiatan tersebut. Karena ini adalah perpaduan kegiatan kebudayaan dalam rangka menyambut ibadah keagamaan maka tentulah orang yang tepat menjawab adalah orang yang mengurus hal terkait agama dan terkait budaya. Beliau setuju dengan apa yang saya kemukakan setelah sebelumnya saya juga berikan kontak hubung orang maupun lembaga yang mungkin bisa menjawab terkait Balimau Kasai ini. Diakhir surat menyurat saya dengan beliau, akhirnya beliau menjanjikan jika wawancara-nya sukses maka saya akan diberikan link terkait wawancara ataupun liputan langsungnya terkait pelaksanaan Balimau Kasai di Kabupaten Kampar tersebut natinya.

Berawal dari itu tergerak pula tangan saya untuk menulis sependek pengetahuan yang saya miliki dan sesingkat pengalaman yang saya punyai terkait hal yang bersangkutan.

Tentu semua kita tahu dan sadar bawha, sekarang ini masih dalam suasan bulan Sya’ban di mana pada bulan ini rasul saw melakukan banyak puasa sunah dibandingkan dengan pada bulan bulan lain. Lepas sya’ban maka bulan ramadhan pun tiba, bulan yang mulia penghulu sekalian bulan.

Berbagai acara banyak ditaja oleh orang dalam rangkan menyambut bulan yang mulia ini, tersebutlah acara balimau kasai. Acara ini sudah dilakukan turun temurun oleh kebanyakan masyarakat yang mendiami daerah aliran sungai Kampar baik dari hulu maupun sampai hilir. Lalu pertanyaanya apakah hanya ini satu satunya kegiatan besar yang dilakukan oleh masyarakat Kampar menjelang Ramadahan tiba, terkhusus saat tanggal 30 Sya’ban. Lalu kenapa acara balimau kasai yang telah menjadi kegiatan andalan budaya Kampar menjadi sesuatu yang dirasa mulai meresahkan?.

Kampar adalah sebuah kabupaten di Riau yang beradat dan berbudaya dan sangat dikenal dengan sebutannya yaitu, adat bersendikan syara’ dan syara’ bersendikan kitabullah. Sebutan sederhananya adalah, Adat berlandaskan agama sedangkan agama berlandaskan al-qur’an. Makanya, tidaklah heran pula kenapa di kabupaten ini banyak dilahirkan ulama ulama sejak dulu bahkan hingga sekarang. Sehingga ada yang bilang begini, tak tepat rasanya mengaku orang Kampar kalau membaca al-qur’an saja patah patah. Karena banyaknya ulama yang lahir di sini maka anak anak terhutang nama. Seandainya mereka merantau setidaknya mereka harus sudah bisa membaca al-qur’an yang tempat pembelajarannya tersebut disetiap surau suarau kampung milik tiap tiap suku. Walau dari pantauan terungkap, kondisi sekarang malah anak anak mulai banyak yang tak bisa membaca al-quran. Zaman saya, pada umumnya anak anak bisa membaca al-qur’an karena surau bagian dari arena mereka bermain dan bersosialisasi. Sedangakan sekolah agama semua catatan pelajarannya diberikan dalam tulisan arab melayu. Tentulah, barang siapa yang bisa baca dan tulis arab melayu maka sudah pasti bisa baca tulis al-qur’an standard (tanpa tajwid). Kemudaian, tak heran pula kenapa kabupaten ini dijuluki dengan Serambi Makkah-nya Riau dan salah satu kenegriannya, yaitu kenegrian Bangkinang dan sekaligus menjadi ibukota kabutapen ini memiliki julukan kota “Bangkinang kota Beriman”.

Saya adalah salah satu dari sekian banyak anak jati Kampar yang merasakan kegiatan penyambutan menjelang ramadahan ini agak bergeser dari kondisi awalnya.

Sumber: ikpmr-malang-anakriaupunya.blogspot.com

Dulu ada beberapa rangkaian acara yang dilakukan oleh masyarakat Kampar dalam penyambutan ramadhan, namun acara ini sudah hilang dan yang tertinggal hanyalah balimau kasai-nya saja yang terasa dominan. Adapun acara yang sudah banyak ditinggalkan antara lain:

  1. Membuat lemang saat potang balimau. Seperti disebutkan sebelumnya, jika disebut kata potang balimau berarti adalah tanggal 30 sya’ban atau sehari menjelang 1 ramadhan. Dulu saat tahun 1980an akhir, pemandangan yang lazim yang terlihat adalah bahwa akan terlihat asap mengepul di halaman belakang rumah. Kebanyakan halaman belakang rumah orang orang di kampung yang terbilang luas, maka orang Kampar memanfaatkan halaman belakang yang luas ini untuk kegiatan memasak lemang. Lemang sendiri adalah jenis makanan khas Kampar yang menggunakan buluh sebagai wadah utamanya. Buluh yang dipotong seukuran 70 cm lalu diisi dengan bahan dasar lemang dan selanjutnya akan dimasak dengan menggunakan api dengan kayu bakar yang cukup banyak. Biasanya sekali masak bisa beratus ratus batang lemang jumlahnya. Ada dua jenis lemang, pertama lemang tepung atau tumbuok dan kedua lemang puluik (pulut/ketan). Keduanya menggunakan bambu yang berbeda, untuk lemang tepung bambu yang digunakan adalah bambua poghiong (periang/pring) sedangkan untuk lemang pulut menggunakan buluh tolang (talang). Waktu untuk memasak lomang tumbuok lebih lama dibandingkan dengan memasak lemang puluik.
  2. Manjalang adalah acara untuk menghormati yang dituakan, lazimnya adalah acara anak mengunjungi ibunya ataupun kemenakan mengunjungi mamaknya. Tujuan utamanya adalah satu, merajut silaturrahim dan memohon maaf jika ada khilaf dan salah. Jika ada yang tergeser saat naik maupun tertabrak saat turun. Jika ada kata dan perbuatan yang melukai hati dan fisik maka pada hari inilah mereka saling memaafkan. Saat acara manjalang, tambue kawah (buah tangan/jajanan) utama yang dibawa adalah lemang yang telah dimasak pada paginya, lemang yang masih hangat biasanya dibawa langsung kesebatangannya dan biasanya dibungkus wadah bambunya dengan koran atau kertas lebar lainya sehingga arang/jelaga bekas pembakarannya tidak mengenai ke badan.
  3. Mandi balimau kasai, jika anda mengunjungi acara mandi balimau kasai yang dipusatkan oleh pemda Kampar di desa Batu Belah kenegrian Air Tiris akhir akhir ini, maka pemandangan yang anda lihat adalah sekelompok orang dengan jumlah yang begitu banyak akan masuk ke sungai Kampar dengan berbagai atributnya. Ada yang menggunakan benan (ban dalam) ada yang menggunakan sampan dan ada yang menggunakan perahu hias namun pemandangan ganjil yang akan terlihat sekarang dan tak pernah saya lihat sebelumnya adalah bercampur baurnya muda mudi untuk mandi disungai (walaupun mereka berpakaian lengkap). Hal ini dulunya sangat tabu, jangankan mandi dilokasi yang sama untuk yang berbeda jenis sedangkan mandi satu tepian saja antar sumondo (ipar) dan adik laki laki istrinya maka ia akan kena denda. Inilah pergeseran yang banyak merisaukan para ulama yang banyak dinegeri ini, namun sayangnya mereka belum bisa berbuat banyak untuk mengembalikan tradisi balimau kasai ini ke bentuk muasalanya. Kebijakan yang sangat tepat untuk mengembalikan kegiatan ini ke bentuk awalnya dulu adalah, dengan memiliki pemimpin yang sekaligus ulama. Pemimpin yang lebih takut ke tuhannya dibandingkan takut jika dikatakan kolot, dsb.

Akhirnya, untuk yang menjalankan puasa wajid pada ramadhan, selamat berlomba lomba menuju titel taqwa dariNya. Lakukan qiyam pada malamnya dan siyam pada siangnya. Balimau kasai bagaimana? Kebetulan saya belum pernah melakukannya, namun saya rasa tak ada buruknya jika dilakukan sesuai dengan sepatutnya dan menghilangkan bagian yang tak patutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s