Musim Rambutan dan Tanjakan batas Kampung

Siang sudah mulai terasa panjang di saat musim panas di Belfast ini. Magrib dimulai pada pukul 10 pm lebih sedangkan untuk subuhnya dimulai pada pukul 3 am lebih. Saya usahakan bangun pagi walaupun berat untuk berusaha berangkat subuh berjamaah di masjid. Masjid tidak terlalu jauh dari rumah. Kurang lebih 5 menit berjalan kaki. Berjalan subuh subuh ini mengingatkan saya masa lalu yaitu sebuah kenangan kecil yang indah bersama ayah tercinta.

Waktu itu saya masih kelas 4 SD sedangkan almarhum abang kelas 6 SD karena saya dengan dia beda 2 tahun. Musim rambutan dan musim durian melatih saya untuk bangun pagi. Setelah rambutan dipanen di kebun, lalu ayah akan mengurusnya setelah lepas sholat isya. Mulailah ia mengurusi rambutan itu. Rambutan harus ditape (diikat) dengan jumlah yang sudah diatur sebelumnya. Ada tape 10 buah dan 20 buah. Karena rambutan diikat maka diusahakan buahnya masih lengket pada rantingnya sedangkan buah yang lepas biasanya kami makan dan dibagikan ke tetangga. Terkadang sampai tengah malam ia mengerjakan sendiri ketika kami para anak anaknya sudah mulai ngantuk dan tanpa minta izin biasanya kami beringsut menuju pembaringan untuk tidur.

Sholat subuh di kampung halaman tak sepagi saat musim panas di Belfast ini. Saat musim rambutan, biasanya 1.5 jam sebelum sholat subuh amak sudah membangunkan kami untuk membantu ayah mengangkat rambutan yang sudah disusun rapi di dalam keranjang tersebut. Keranjang yang kalau ditimbang yang berat berpuluh puluh kilogram itu membutuhkan beberapa orang untuk memindahkannya makanya ayah butuh bantuan kami untuk mengangkatnya ke tempat duduk belakang sepeda yang sudah dibuat alas tambahan dari papan yang cukup lebar untuk meletakan keranjang tersebut.

Mata kami masih mengantuk dan sulit untuk dibuka namun panggilan amak membuat kami harus terbangun terkadang dengan berat hati saya berangsur ke kamar mandi untuk membersihkan muka seadanya. Lalu bersiap sedia membantu ayah untuk mengangkat keranjang ke sepeda yang sudah ia sandarkan pada sebatang kayu takut kalau kalau standar sepeda menjadi patah karena ditekan oleh beban yang berat itu.

Tidak hanya itu, kami harus mengiringi ayah sampai ke perbatasan kampung yang berjarak 1 km dari rumah. Diperbatasan ini terdapat sebuah tanjakan yang cukup tajam. Jika tanjakan ini dilewati dengan sepeda yang dipenuhi dengan beban berat niscaya akan sulit untuk didaki karena bisa membuat sepeda oleng namun yang terlebih lagi adalah sangat sulit untuk mendorong sepeda dengan bobot yang berat itu untuk mendaki tanjakan yang cukup curam itu. Di sinilah bantuan yang sangat diperlukan oleh ayah. 10 meter menjelang tanjakan tersebut kami sudah melakukan awalan. Ayah bersiaga disamping sepeda dengan memegang satu setang sebelah kiri dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan memegang pelana sepeda untuk memberi tenaga dorongan tambahan. Saya dengan almarhum abang berdua beradik akan mendorongnya sekuat tenaga dari belakang. Tangan kami akan bertumpu pada keranjang yang sudah diikat kokoh menggunakan ban dalam bekas yang digunting memanjang selebar dua jari orang dewasa itu. Setelah pendakian dilewati maka ayah akan meneruskannya ke pasar yang berlokasi ke seberang tentu di seberang beliau akan mengalami kesulitan yang sama yaitu saat menuruni tebing menuju rakit penyeberangan dan saat mendaki tebing saat keluar dari rakit penyeberangan ke bibir sungai di seberang. Namun biasanya petugas rakit dan penumpang lain pasti membantu beliau karena subuh subuh ini tidak hanya beliau yang memanfaat jasa rakit tersebut.

Mengingat akan hal itu barulah saya sadar bahwa masa masa kecil saya yang tak terlalu sesusah orang lain itu ternyata membawa manfaat baik. Cukup mudah bagi saya bangun subuh. Walau berdasarkan jadwal subuh di Belfast dimulai jam 3.10 namun masjid menetapkan sholat jamaah pada jam 3.45 jika saya bangun sebelum jam 3.10 am saya sempatkan sholat malam untuk melantunkan doa terutama keampunan bagi beliau lelaki yang tak pernah sekalipun marah itu agar Allah mengampuni dosa dan khilafnya dan amalanya digandakan jua adanya. Di penghujung malam tentu air mata mengalir tanpa terasa disebabkan berbagai rasa, karena rindu kepada sosok itu dan takut kepadaNya karena selama sehari banyak mengabaikanNya. Hanya yang dapat kukatan ke diri ini, kasih orang tua betul sepanjang jalan dan kasih yang maha kuasa tak terbilang. Dan kasih anak, saat si anak ingin membalas budi orang tua, mereka sudah keburu menghadapNya. Allahummaghfirlahum warhamhum.

2 thoughts on “Musim Rambutan dan Tanjakan batas Kampung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s