Sayang adik dan anak

Hari ini ibu mereka mengadu lagi ke saya. Bukti aduannya ia lengkapi dengan gambar nyata. Alifah sedang makan jajan bawaan dari kakak azkiya. Itulah aduannya, bahwa setiap pulang kakak selalu membeli jajan dan jajan itu dimakan bersama adik adiknya, Syafiq dan Alifah.

Anak anak, pada dasarnya mereka menyayangi satu sama lain. Terkadang waktu jua yang membuat sayang itu makin bertambah dan seiring waktu pula sayang itu bisa luntur. Tentunya yang diharapkan adalah rasa sayang satu dengan lain itu dipupuk seriring bertambahnya usia dan sebaiknya ia dilandasi sayang karenaNya.

Ungkapan sayang bisa dengan cara berbagi apa yang kita miliki namun terkadang ungkapan sayang bisa diungkapkan dengan cara lain. Ada yang mengungkapkan sayangnya tidak secara langsung, melainkan melalui perentara. Seorang suami mengungkapkan sayangnya kepada mertua terkadang ia wakilkan ke istrinya. Caranya memberi kesempatan tak terbatas kepada istrinya untuk mengabdi ke orang tua (mertua si suami). Ini menurut saya juga cara yang patut diapresiasi.

Seorang suami rela ditinggalkan oleh istri 2-3 minggu dengan anak anaknya karena si istri lagi menjenguk orang tuanya. Tentu kalau bisa semua keluarga diajak serta merta semuanya, namun terkadang itu tak memungkinkan, entahlah karena suami bekerja, dan karena anak anak belum musim liburan sekolah sehingga tak memungkinkan untuk menjenguk orang tua bersama sama.

Itulah salah satu cara suami memberikan rasa sayang mereka ke mertua, yaitu dengan merelakan istri mereka mengabdi kepada orang tua mereka sedangkan urusan rumah tangga dan anak anak waktu itu diuruskan oleh suami.

 

Alifah: makan jajan oleh oleh dari kakak Azkiya.

 

Saya selalu ingat dengan perisitiwa masa kecil. Setiap ada perpisahan kelulusan kelas 6 SD biasanya para guru akan mendapat jatah nasi bungkus 1 orang satu. Acara tahunan itu selalu amak ikuti, namun ajaibnya beliau tidak pernah membawa nasi bungkus yang utuh. Sebagian ia makan di kantor bersama rekan rekan, dan sisanya ia bawa pulang lalu kami makan bersama sama di rumah dengan kami: suami dan para anak anaknya. Terkadang ayah hanya maka sesuap saja pertanda ia berpartisipasi dalam makan bajambau tersebut. Mungkin beliau maklum, nasi bungkus yang tak utuh itu tak akan cukup bagi kami anaknya yang semua laki laki ini dengan selera makan yang sedang naik itu. Jika kami minta tambah maka pada bungkus yang sama ditambahkan dengan nasi yang ada di rumah dan makan tetap pada nampan/talam. Tangan beradu satu sama lain. Terkadang kami saling kejar kejaran untuk mendapatkan lauk yang lebih banyak. Namun tak pernah kami berbantah di waktu itu.

Sungguh indah momen itu. Sungguh putih hati para wanita yang mulia itu.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s