2 Dua Beranak dan Persiapan Ke Tanah Suci

Saya mulakan tulisan ini dengan teka teki. “Jika ada 2 dua beranak berapakah jumlah orang 2 dua beranak tersebut?”. Pertanyaan ini sama dengan “Jika ada seorang bapak membawa kelapa dua sebelah dan dua sebelah berapakah buahkah jumlah kelapa yang dibawa olehnya?”.

Cerita nyata ini kudapatkan dari salah satu orang dari 2 dua beranak tersebut dan juga kudengar dari orang orang kampungku. Ibunya sudah tua, niat lama yang sudah dikandung oleh ibunya akhirnya terkabul juga. Yaitu menunaikan rukun ke lima di tahun depannya, waktu itu tahun 1985. Jadi ibunya akan naik haji pada tahun 1986. Naik haji di tahun tahun itu tak terbilang mudah namun tak terlalu sulit pula. Dibilang tak sulit karena antriannya tidak sepanjang saat ini. Dibilang tak mudah karena tidaklah seperti zaman saat ini. Tak banyak orang yang berduit dan untuk ongkos, jamaah harus menabung hingga waktu lama. Belasan tahun waktu yang diperlukan untuk menabung bahkan puluhan tahun kadang kala.

Dan ibunya ini mendapat ongkos itu dari anak pinaknya yang rajin memberikan uang belanja untuknya minggu ke minggu. Kebiasaan orang yang hidup di DAS Kampar salah satunya adalah anak lelaki memberikan infak dari hasil pencaharianya kepad ibunya. Dan ibunya ini bersyukur karena semua anaknya yang laki laki tak ada yang enggan untuk memberikan uang belanja kepadanya setiap minggu. Walau sebenarnya ibunya tak meminta namun saat diberi ia terima saja. Dan kebiasaan orang Kampar pula bahwa para ibu (yang sudah tak bersuami lagi) cenderung untuk tinggal bersama anak perempuan mereka yang sudah bekeluarga. Sedangkan tabungan dari hasil berkebun ibunya dikumpulkan pula sedikit demi sedikit lalu jika sudah terkumpul dan jumlahnya cukup untuk membeli emas seberat 1 emas (2,5 gr) maka dibelikan ke emas. Emas lebih berharga jika disimpan, begitulah kata ibunya. Ayahnya, almarhum pun juga bukan orang sembarangan. Setelah sepakat semua anak pinak tak ada satupun yang melintang, bahwa kebun getah yang ditinggalkan oleh ayahnya setuju untuk dijual buat ongkos ibunya itu menuju tanah haram. Selesai sudah persoalan ongkos ke tanah haram ini dan ka’bah sudah berada di pelupuk mata.

Enam bulan menjelang keberangkatan, tiba tiba ibunya tak bisa melihat tulisan tulisan yang ada di buku secara jelas walau ia sudah memakai kacamata yan biasa ia pakai namun tetap saja ia tak bisa membaca aksara aksara arab yang sudah sedari kecil ia pandai membacanya.

Semua keluarganya sedih karena untuk ke tanah suci setidaknya harus melafazkan doa doa yang sesuai tuntunan. Sebagian jamaah haji melafazkan doa ini dengan cara membaca buku doa berukuran kecil yang digantung dileher masing masing. Tentu hal ini mudah bagi jamaah yang masih memiliki mata terang. Namun bagi ibunya, tentulah hal ini tak mungkin ia lakukan karena matanya memang benar benar tak bisa melihat huruf huruf dengan jelas walaupun ia sudah bertukar kacamata yang baru. Mungkin ibunya menjadi rabun dekat yang parah karena ibunya itu masih melihat benda yang berada pada kejauhan tertentu dengan cukup jelas namun tak bisa melihat seukuran jarak membaca normal.

Maka ia lah yang mencari jalan untuk pemecahannya. Sehabis mengajar di SD yang berjarak 3 km dari kampungnya, setiap hari ia usahakan untuk pulang tepat waktu, yaitu persis setelah melaksanakan sholat zhuhur di sekolah lalu dengan kayuhan sepeda onta Raleigh 3 speed sturmey archer buatan Nottingham Inggris itu ia tergesa gesa mengejar rumah. Doa doa yan harus dibaca waktu ditanah suci nantinya ia bacakan dan perdengarkan kepada ibunya untuk selanjutnya diulang ulang kembali oleh ibunya. Ibunya menghafal berdasarkan apa yang ia bacakan. Terkadang umur tua ibunya menyebabkan ia harus mengulang berkali kali bacaan tersebut baris demi baris. Namun ia sabar untuk membacakannya. Demikianlah, akhirnya hampir semua doa yang harus dibaca di tanah suci sudah dihafal oleh ibunya berdasarkan apa yang ia bacakan dan perdengarkan setiap hari kepada ibunya itu selama enam bulan belakangan.

Tahun 1993, itu hari bahagia bagi dirinya. Ia dan suaminya akan berangkat haji. Ia berbahagia karena memilik suami yang penyayang dan 3 anak yang baik baik. Begitulah yang saya tahu. Tak terdengar anaknya berkelahi di mana di masa itu biasa saja anak anak laki laki berkelahi sesama kawan bermain. Sedangkan suaminya menjual semua apa yang ada untuk ongkos berkunjung ke ka’batullah itu. Uang hasil penjualan dari berternak suaminya serta penjualan emas yang ia kumpulkan dari upah menjahit setelah pulang mengajar di SD tahun demi tahun mencukupi sudah untuk ongkos mereka berdua.

Malang tak dapat ditolak dan mujur tak dapat diraih. Apa yang dialami oleh ibunya kinipun ia alami pula. Ia tak bisa membuka matanya dengan leluasa karena enam bulan menjelang keberangkatannya ia terkena stroke yang menyebabkan matanya tidak bisa melihat secara jelas huruf huruf kecil dikarenakan air matanya selalu meleleh. Bersyukur ia masih bisa melihat dengan jarak dekat jika huruf huruf yang dibaca berukururan besar.

Barang siapa menanam maka dia akan menuai. Salah satu anaknya ia hantarkan ke sekolah agama. Anaknya yang di sekolah agama yang pulang sekali seminggu itulah yang menuliskan kumpulan doa doa terkait ibadah haji dalam tulisan besar di karton manila. Anaknya menulis dengan spidol tebal untuk setiap doa sehingga sudah berhelai helai karton manila bertuliskan doa menumpuk di ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang keluarga itu. Jika ingin menghafal doa maka ia ambil lembar yang bertuliskan aksara yang sudah diperbesar itu untuk selanjutnya ia hafalkan.

Perbuatan baik yang ia perbuat ke ibunya dibalas olehNya dengan perbuatan baik serupa yang ia dapatkan dari anaknya. Beruntunglah Ibunya dan dia bahwa penyakit mereka itu akhirnya sembuh pula. Bisa jadi mereka memohon kesembuhan sembari menunaikan rukun haji dan Dia zat yang maha menyembuhkan itu mendengarkan itu. Dan tentulah semua kita tahu jika ia berkehendak itu akan mudah saja bagiNya tinggal mengakan Jadi maka Jadilah.

Lalu saya membayangkan, sekarang untuk menghafal tentu lebih mudah dibandingkan dengan mereka 2 dua beranak ini

Lalu apakah kamu tahu berapa jumlah orang 2 dua beranak itu? Empat atau tiga? Bagaimana dengan bapak membawa kelapa tersebut? Berapa buah kelapa yang dibawanya?

 

2 thoughts on “2 Dua Beranak dan Persiapan Ke Tanah Suci

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s