Paghabun (Perabun)

Paghabun

Badannya kekar, ia memiliki tulang tangan tunggal. Begitulah selalu dikatakan oleh orang kampungku tentang dirinya. Orang yang tulang tangannya tunggal selalu dilahirkan sebagai jawara dan makanya sejak kecil sebelum ia mengenal ilmu pencak diapun sudah menjadi orang bagak. Tangannya yang selalu gatal itu, setiap pagi yang ia lakukan adalah menghantam dinding reban ayam yang induknya tak seberapa ekor itu yang terbuat dari papan seukuran tebal 2.5 cm tersebut. Papan dari kayu meranti itu tercabut dari bingkai dindingnya saat ia menghantam kepalan tinjunya. Karena setiap pagi ia melakukan itu maka tak heranlah kalau dia tidak merasakan sakit apapun saat menghayunkan tangannya bahkan ke benda keras sekalipun. Kepalan tinjunya sudah bertapak. Begitulah kata orang kampungku, karena ia tak merasakan lagi sakit diruas jari jarinya yang mengepal saat ia meninju bidang keras sama halnya seperti kita memukul dengan telapak tangan kita.

Suatu saat, waktu masa mudanya, di saat ia berumur 17 tahun. Ia dihimbau jantan oleh orang seberang sungai untuk bacubo. Musim kemarau yang datang teratur seperti musim musim sebelumnya menyebabkan sungai Kampar menjadi dangkal. Tepi tepi sungai yang agak melandai dan dengan taburan kerikil halusnya menghampar seperti tanah lapang. Saat saat kemarau seperti inilah banyak orang basaghuo lolang. Orang orang yang umunya anak muda berkumpul di kedua sisi sungai. Mereka berkumpul di sisi seberang sungai dan sisi sebelah kampungku. Orang seberang melawan orang kampungku dalam peratandingan tak resmi namun penuh gengsi akan keberadaan kampung, basaghuo lolang. Pemisah mereka adalah sungai Kampar yang mendangkal itu. Pemenangnya adalah orang yang bisa memutus layangan lawannya dan layangan itu jatuh terendam ke sungai sehingga kertas layangan basah dan rontok dan akhirnya hanya tinggal tulang yang terbuat dari bilah bilah yang telah diraut halus itu. Makanya jika ada layangan yang putus maka seseorang yang berenangnya paling cepat akan terjun dari dua sisi sungai. Yang layangannya putus ingin menyelamatkan agar layangan itu tak sampai terendam dan terbenam ke sungai. Sebaliknya, yang memutuskan layangan lawanya, bertujuan untuk menghalangi orang untuk menyelamatkan layangan itu. Biasanya adu layangan akan berlanjut dengan adu dari dua orang bagak ini. Mereka akan bacubo di pinggiran sungai. Dan pemenangnya adalah mereka yang masih bisa berdiri dan yang kalah adalah dia yang terkapar di kerikil sungai yang sudah mendangkal itu.

Ketika itu, layangan orang kampungku putus. Layangan itu meliuk liuk ditiup angin musim barat. Perlahan dan pasti, berat layangan dan ditambah dengan gaya tarik bumi membuat layangan yang putus itu akan mencapai aliran sungai. Saat itulah ia membuka pakaiannya. Dia terjun secepat kilat berenang ke arah layangan yang sudah ia perkirakaan jatuhnya. Dia berpacu dengan waktu. Berusaha secepat mungkin untuk menggapai layangan agar tak menyentuh air sungai dan terbenam serta dihanyutkan oleh aliran sungai. Dari bibir seberang sana, orang sebaya dengannya juga melakukan hal yang sama namun dengan tujuan yang berbeda, menghalangi penyelamatan layangan.

Akhirnya karena ia memang perenang cepat maka dia berhasil menyelamatkan layangan itu. Kebanggan kampung berada di genggamannya kini. Layangan berada ditanganya dan tak jadi ditelan oleh aliran sungai Kampar.

Tak puas orang seberang salah satu dari mereka yang terkenal bagak itu menghimbau jantan siapa saja diantara orang kampungku untuk bacubo. Dan memang seperti itulah aturanya. Senja sudah menjelang dan cacing cacing tanah sudah bersahutan pertanda magrib akan menjelang. Dan pemenang diantara kedua kampung harus ditentukan. Beradu bagak diantara perwakilan orang bagak masing masing kampung. Sayang orang seberang memang berani dengan menawarkan terlebih dahulu untuk menghimbau jantan namun mereka agak licik, begitulah analasisa orang orang yang menyaksikan peristiwa itu. Mereka menghimbau jantan, namun lokasi bertinju harus di seberang. Bisa dibayangkan kalau hanya satu orang yang menyeberang maka menang atau kalau dia akan binasa. Kenapa tidak, di seberang sudah banyak orang berkerumuman. Mungkin ada 40 hingga 50 orang agaknya. Namun perwakilan negeriku hanya satu orang yang akan menyeberang sungai.

Darah mudanya menggelegak, tak terima dihimbau jantan. Orang orang kampung yang bermain layang dan ada di tepain sungai waktu itu sebenarnya sudah melarang agar ia tak usah menjawab tantangan tersebut karena akan berisiko. Namun ia tak peduli. Sampan kecil ia dayung sekuat tenaga lalu dia sampai ke seberang.

Tak banyak orang kampungku bisa bercerita karena mereka tidak menyaksikan secara dekat. Perkelahian terjadi di seberang sedangkan orang orang kampungku yang melihat kejadian waktu itu berada di bibir sungai sebelah kampungku. Yang mereka tegaskan hanya satu, lawan dia yang orang bagak dari seberang itu membutuhkan capa untuk menampung muntah darah dari mulut dan lelehan dari hidungnya. Ada yang mengatakan begini, kalaupun melihat perkalian dari dekat niscaya mereka juga tak akan melihat kejadian perkelahian itu, begitulah pengakuan orang yang melihatnya mengingat sangat cepatnya kejadian itu.

Terungkaplah cerita dari kawan dekatnya. Bahwa dia salah satu pewaris silat tiga langkah terkenal itu. Tangan, kaki dan liukan badanya bukan main cepatnya. Konon di sebuah sansuduong tenggi yang sangat sempit dia dapatkan keputusan dari guru pencaknya. Guru yang berbekal parang panjang dan jurusan jurusan pencaknya yang maut itu telah ia lewati dan dia telah lulus ujian keputusan di dalam ruang sempit.

Sekali pukul saja ternyata lawannya yang di seberang itu pinsan seketika. Orang seberang yang banyak menyaksikan secara dekat waktu itu diam hanya membisu tak percaya selanjutnya tak bisa berbuat apa apa. Semenjak kejadian itu ia pun merantau, dan ke Siak lah, sebuah negeri yang berada di ulak itulah pelabuhan yang akan ia singgahi.

Sekarang sudah tahun terakhir dia berada di siak ranjung. Ia akan pulang. Dan tentunya orang seberang sudah melupakan persitiwa puluhan tahun lalu saat ia bercubu di usia 17 tahun. Sekarang dia sudah 40 tahun. Sudah 23 tahun negeri ia tinggalkan dan ia rindu untuk pulang menemui ayah dan amaknya yang sudah begitu tua dan banyak handai taulannya di negeri.

Sesampai di kampung tabiatnya tak seperti dua puluh tiga tahun lalu. Ia tidak penaik darah lagi. Agaknya usia menyebabkan orang berubah atau karena ia mendapat pengajaran yang baru?. Orang orang pada bertanya apa sebenarnya yang menyebabkan ia bisa berubah.

Sekarang dia menjadi lebih rajin sholatnya. Terkadang saat muadzin tak datang mengumandangkan azan dialah yang menggantinya. Begitupula imam, jika berhalangan dia pulalah yang maju ke depan untuk memimpin sholat. Suaranya memang tidak terlalu bagus, namun kata beberapa orang yang pernah menjadi makmum di belakangnya, bacaanya cukup tepat walaupun bacaannya hanya datar saja namun, peran pengganti yang ia lakukan saat imam tak bertugas cukup memuaskan orang kampung.

Dari informasi orang kampung yang didapat dari ibunya, tahulah saya kenapa ia berubah. Hal itu bermula dari persitiwa awal awal pelarian dia dari kampung menuju Siak. Di pelabuhan sungai duku Pekanbaru. Ia merasa ingin mengerjai tukang tiket. Ia tak senang dengan tukang tiket karena tak pandai melayan orang dengan cara baik. Maka dia keluarkanlah lemu yang dia dapat saat di kampung dulu. Paghabun, ilmu dapat merabunkan mata orang dan orang itu tidak akan merasakan kehadirannya. Masuk pelabuhan sungai duku ia tak perlu membayar. Tiket menjadi gratis tentunya karena petugas tiket tak menyadari kebaradaannya. Saat dia melewati petugas tiket tak menoleh sama sekali ke arahnya. Maka melengganglah ia masuk ke pompong yang terbuat dari kayu itu dan sampailah ia di negeri Siak.

Sudah satu jam ia duduk di kedai kopi itu. Saatnya ia melanjutkan perjalananya. Saat ia ingin membayar kopi ternyata dompet yang dicari sudah tak ada lagi. Dia dicopet orang. Disitulah ia sadar bahwa yang satu itu tak pernah tidur dan tak bisa dikicuo. Tiket gratis sekarang berganti dengan dompetnya yang berisi uang sebesar enam kali lipat harga resmi tiket. Semenjak itulah asal mulanya taubat dan ia semakin rajin untuk dekat denganNya dengan selalu berkunjung ke rumahNya. Namun selalu saja dia mudah menangis. “Janganlah kalian seperti aku” katanya kepada anak anaknya suatu ketika. “Aku berubah menjadi sadar akan kesalahanku di masa lalu setelah mendapat musibah, sebaiknya kalian sadar akan keberadaNya sebelum kalian diberi musibah tentu akan lebih baik dibandingkan dengan saya”. “Saya baru belajar agama setelah musibah datang, andaikan saja saya belajar agama dari awal tentu saya tak se bodoh ini dengan agama”.

@Begitulah cerita yang kudengar dari orang orang. Dan dia sekarang masih hidup adanya. Jangan kau coba pula untuk bercubo dengannya. Karena walaupun ia sudah membuang semua lemunya. Tangan tunggalnya memang masih sepertia sedia kala adanya.

Bagak=Jawara, dihimbau jantan=ditantang, bacubo=berkelahi, basaghuo lolang=adu layangan, sansuduong tenggi=dangau/saung panggung, capa = baskom

 

 

 

2 thoughts on “Paghabun (Perabun)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s