Lampe

Lampe

Lampe, begitulah cara ia marah dikala adik adiknya berulah. Beliau adik beradik ada 6 orang. 4 orang laki laki dan 2 orang perempuan. Ia adalah anak laki laki tertua, tepatnya anak nomor 2 tertua dalam keluarganya karena saudaranya yang pertamanya adalah seorang perempuan. Uwo, begitu mereka adik beradik memanggil kaka tertua mereka itu. Uwonya itu tak berumur panjang. Waktu anak uwonya yang paling bungsu bersekolah di lokal 2 SMP uwo itu meninggal untuk akhirnya bertemu dengan pemilikNya.

Sekarang ia menjadi anak tertua. Ayahnya, sebenarnya salah seorang yang cukup kaya. Mungkin paling kaya dibandingkan dengan orang se negeri. Ayahnya suka berdagang ke singapore dan termasuk salah seorang yang mimiliki kendaraan yang paling awal di negeri ini. Terakhir saya diperlihatkan surat pembelian mobil pelesiran yang di beli di kota Padang bermerek Ford buatan Amerika. Faktur penjualannya bertahunkan 1928. Ayahnya sudah punya mobil sebelum negara ini merdeka.

Ujung nama ayahnya itu selalu dibuat tambahan dengan sebutan sukunya Putopang. Sebuah suku asli yang mendiami daerah aliran sungai Kampar dan tentunya dengan tambahan gelar Nodo kayo selalu pula melekat pada ujung nama ayahnya itu. Nodo kayo ini bukanlah gelar adat suku ataupun ninik mamak namun ia adalah gelar yang diberi oleh orang kampung dan oleh kawan kawan ayahnya sesama berdagang. Nodo kayo, nakhoda kaya, karena ayahnya berdagang mengarungi liuk liku sungai kampar lalu menghilir menuju pesisir timur Sumatra. Dari pesisir itulah ayahnya mengarungi laut menuju singapura untuk berdagang kain di sana.

Tentulah ia adik beradik tidaklah bersuku putopang mereka adalah anak orang Piliang karena terlahir dari ibu yang piliang. Mengenai ibunya ini tak banyak cerita yang saya dapatkan. Tentunya bukan cerita tentang akal budi dari ibunya namun terlebih adalah cerita yang tertuju ke asal usulnya. Ayah dari ibunya, datuknya, adalah salah seorang tukang pedati. Membawa pedati dari negeri menuju ke negeri lain. Dari cerita yang aku dapatkan, dari orang orang, bahwa datuknya membutuhkan satu hari untuk sampai ke teratak buluh. Entahlah kenapa datuknya memiliki usaha pedati, padahal waktu itu aliran sungai kampar sangat mudah untuk dialiri daripada memacu pedati di tengah jalan sempit yang banyak penyamun itu.

Ada yang bilang, bahwa pedati digunakan untuk membawa hasil sadapan getah getah yang banyak ditanam para petani di ujung kampung, tepatnya di pinggir pinggir hutan kampung. Jika mereka membawa getah melalui jalur air maka mereka tetap butuh pedati untuk mengangkut getah itu dari pinggir pinggir hutan hutan menuju pinggir sungai Kampar. Mungkin agar tidak menjadi kerja dua kali, maka langsunglah getah itu diangkut ke teratak buluh menggunakan pedati itu. Dari hasil menambang pedati itulah datuknya mencari untuk kehidupan keluarga hari ke hari.

Di bawahnya ada tiga orang adiknya yang laki laki dan seorang yang perempuan. Tak lengkap kisah yang saya dapatkan tentang adik adiknya yang lain. Dari mereka yang hanya tinggal berlima itu hanya cerita tentang dialah yang saya dengar dari orang orang kampung. Dia mewarisi bakat dagang dari ayahnya, namun berbeda barang dagangan. Kalau dulu ayahnya berdagang kain main, maka ia berdagang barang tajam. Merantaulah ia ke ulak untuk melariskan dangannya. Tersebutlah di ulak di sekitaran Pula Mudo dan Sungai Apit. Daerah itulah tapak lapannya. Tempat pasar yang ramai orang membeli. Pulau mudo juga terkenal dengan getahnya. Maka tak heranlah benda tajam buatan orang negerinya yang terkenal itu sangat laku di daerah ia menggalas. Yang paling laris adalah canduong panjang, parang panjang untuk penebas, serta pisau motong, alat untuk menakik dan menyadap getah. Dari hasil inilah ia bisa menyekolahkan semua anak anaknya kelak dan menjadi orang pula.

Ia orang penyabar, itulah salah satu budinya yang banyak dikagumi orang. Terkait penyabar ini, saya dengar sendiri dari adik kandungnya yang paling bungsu. Dari laki laki 62 tahun itulah saya tahu sedikit tentang budi sabarnya. Adik bungsunya itu menceritakan, lazimnya orang orang yang hidup di negeri, sebelum merantau mereka selalu dipagari. Ada dua pagar yang ia pelajari selama di kampung. Pagar budi, yang selalu ia ingat adalah, berjalan lurus berkata benar. Sebuah hal yang sederhana diucapkan namun susah untuk dikatakan, begitulah yang disampaikan adik bungsunya kepada saya. Pagar kedua adalah pagar diri. Maka tak heran kenapa banyak gelanggang pencak di setiap negeri. Katanya rata rata guru godang berguru di kampau kighi dan pongean di dearah kuantan sana. Dua pencak inilah yang sangat terkenal di negerinya. Sayang, kata adik bungsunya, bahwa dia, abangnya itu, tak pernah ikut belajar pagar diri itu. Dia lebih banyak mendalami pengajaran tentang budi. Dan diakhirnya terbuktilah bahwa pagar budi ada selamanya sedangkan pagar diri tergerus seiring berkurangnya daya di badan.

Ditambahkan lagi oleh adiknya yang bungsu, karena mereka sudah pandai pencak selangkah dua, waktu itu berumuran 8 tahunan, maka tentulah ingin mencoba apakah pencak yang dipelajari itu sudah mangkus maka selalulah adiknya yang bungsu itu menghimbau dan mencari lawan untuk berkelahi dengan orang dari negeri sebelah. Jika adik bungsunya pulang dan melihat bekas perkelahian maka ia tak marah. Ia begitu sabarnya. Ia hanya membawa adik bungsunya ke sungai Kampar dan sambil menasehati agar tak berkelahi lagi. Maka tugas selanjutnya akan ia serahkan ke batu batu kesat seukuran telor ayam itu. Bantu itulah yang ia gunakan untuk malampe (mengusuk) punggung adiknya sambil menasehati agar tak berkelahi lagi. Waktu itu sabun cukup langka. Walaupun itu hanya sebuah sabun batang tak ada orang yang menjual. Batu batu kesat itulah yang selalu dijadikan orang kampung untuk membersihkan badan. Dan dia dengan sabar malampe punggung si bungsu. Aku merindukan ia, begitu kata si bungsu. Dia, abangku itu, adalah orang yang baik maka tak heran kehidupannya juga selalu baik dan anak anaknya menjadi orang semua.

@19-04-2013:hanya sebuah kisah yang didengar dengar dari orang terdahulu.

One thought on “Lampe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s