Mengurus Schengen Visa

Jumat bagi sebagian PhD student adalah waktu awal untuk memulai libur karena sabtu dan ahad adalah hari libur secara penuh. Beberapa student menyikapi dengan cara berbeda. Ada yang pulang lebih awal, yaitu sebelum jam lima petang dan ada yang masih bertahan karena mereka mungkin masih punya perkerjaan yang tanggung untuk diselesaikan pada Senennya. Agar waktu libur mereka pada sabtu dan ahad tak terganggu jadi mereka berusaha menyelesaikan targetnya pada hari jumatnya .

Saya tidak punya pola baku untuk menyikapi saat saat menjelang akhir pekan. Terkadang saya berada di lab sampai sore dan terkadang juga sampai malam. Karena magrib di Belfast baru mulai jam 8.15 pm maka saya masih memilih bertahan di lab dan akan pulang menjelang magrib dengan didahului singgah di masjid untuk menunaikan sholat.

Istirahat dari pekerjaan penelitian beralih ke menulis pada blog ini. Kemarin hari Kamis saya mendapat paket yang saya tunggu bahwa visa Schengen yang saya urus di vfs London sudah saya terima. Tak ada persiapan yang istimewa untuk mengurus visa tersebut kecuali membaca dengan detail terkait syaratnya serta bertanya kepada student lain yang banyak bersekolah di seantero UK yang pernah mengurus visa tersebut sebelumnya. Saya menghubungi student tersebut melalui email maupun facebook. Sebagian dari mereka tak saya kenal namun mereka berbagi pengalaman secara tulus. Saat di London saya menginap di rumah seorang PhD student, mas Iqbal yang sedang studi PhD Electrical Engineering di Brunel University. Lagi lagi ini adalah kisah betapa kompaknya student dari Indonesia. Memberi tempat teduh bagi student lainnya yang tentu kondisi ekonomi seperti pelajar lainnya.

Namun ada beberapa hal yang dapat diambil hikmahnya. Antara lain, pertama penuhi syaratnya dan usahakan untuk dipersiapkan secara benar sesuai dengan yang tertulis. Kedua, cari tahu info yang tak tertulis di website. Saya menggunakan paspor dinas, namun dari seorang rekan saya dapatkan informasi bahwa untuk pemegang paspor dinas maka biaya pengurusan visa Schengen adalah nol dengan syarat harus ada pengantar dari KBRI di London. Maka visa Schengen yang saya miliki tidak gratis karena saya tidak mengurus surat tersebut ke KBRI. Jika dapat syarat tersebut maka biaya 51 pound akan gratis.

Ada yang aneh menurut saya. Saat aplikasi, saya mengisi form dengan isian single entry dan durasi yang saya isikan hanyalah 9 hari untuk berkunjung ke Germany namun setelah visa saya terima ternyata visa saya disetujui untuk multi entry dan valid untuk selama 3 bulan. Padahal asuransi yang saya sediakan hanya asuransi yang mengcover perjalanan selama 9 hari. Mungkin karena saya memakai paspor dinaskah? Lagi lagi saya tidak menemukan jawabannya.

Selamat sore dan selamat menunaikan shalat magrib.

4 thoughts on “Mengurus Schengen Visa

    • insyaallah bulan depan ingin mengunjungi sebuah kota kecil di sana cak. Gomaringen namanya, kl 2 jam dari stuttgart menggunakan kereta. Disuruh belajar lagi di sana, insyaallah selama satu pekan. Mohon doanya agar perjalanan ini lancar adanya.
      Ayo cepat urus visa schengennya, kan dekat toh. Kalau saya harus nyeberang untuk urus visanya karena ternyata kalau urus visa perdana harus langsung. Namun untuk ke-2 mungkin boleh via post.

  1. Pak, terkait pembuatan visa schengen dgn surat pengantar kbri London, bias diinfokan applynya lewat embassy mana agar bebas biaya? Trims

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s