5 Bulan di Belfast

Tepat lima bukan saya meninggalkan kampung halaman dan segala hiruk pikuk pekerjaan sebelumnya. Sebuah pekerjaan yang sangat saya suka. Mengajar dan belajar itulah yang suka. Mungkin banyak hal yang menyebabkan kenapa saya suka pekerjaan ini. Antara lain, bahwa darah seorang guru mengalir di diri saya. Ibu seorang guru yang bertugas lebih kurang 42 tahun lamanya. Mengajar mulai dari daerah pulau bengkalis yang jauh dari kampung kami dan akhirnya beliau mengajar di SD di kampung kami hingga pensiunnya. Kedua, karena kegiatan ini sudah saya mulai sejak awal, di surau, waktu kuliah saya sudah terbiasa mengajar baik mengajar mengaji (membaca alquran secara sederhana) sampai menjadi asisten di kampus. Karena itulah rasanya pekerjaan mengajar di kampus sangat saya nikmati. Suatu ketika seorang keluarga yang kebetulan seorang guru juga menjadi mahasiswa di kampus saya mengajar. Beliau sempatkan untuk mampir di lab saya yang merangkap ruang saya. Kami bercerita dan berbagi pengalaman. Tahulah saya setelah istri mengatakan bahwa keluarga tersebut merasa heran kenapa saya betah berada di lab yang paling ujung dan cukup sepi itu. Bagi saya bukan sedikit banyaknya orang yang menjadikan sunyi dan ramainya. Cukup 3-5 orang mahasiswa atau rekan saja di lab bagi saya sudah cukup selama mereka bisa diajak bekerja sama dan berbagi pengalaman dan pengetahuan.

Mengajar tak akan lengkap jika tak belajar. Maka terhitung sejak 16 September 2012, saya sudah berada di Belfast ini selama 5 bulan tepat. Belum banyak yang saya dapat selain belajar, belajar dan belajar terus. 5 bulan bukan waktu yang sebentar jika meninggalkan anak anak dan istri serta keluarga besar lainya. Karena koneksi internet yang kurang bagus di tanah air jadi saya tak pernah memakai skype untuk komunikasi dengan keluarga. Hanya menelpon dan text biasa saja. Foto dikirim melalui fasilitas whatsapp android. Jika amak datang menjenguk cucunya beliau selalu meminta istri saya agar saya mengirimkan foto via whatsapps. Foto saya kirim dan selalu beliau menangis. Dia kurus sekali, begitu kata amak kepada istri saya. Dan sejurus kemudian dia mencium satu persatu anak anak saya. Semoga kalian cepat menyusul ayah kalian, begitu mungkin yang ingin iya sampaikan kepada anak anak. Walau iya tak berucap. Sekarang saya sadar bahwa setelah menjadi orang tua saya menjadi bertambah tahu betapa orang tua menyayangi anak anaknya. Tentulah rindu saya ke anak anak saya sama seperti rindu yang telah dirasakan oleh amak kepada saya. Maafkan ananda yang telah membuat engkau susah menahan rindu. Maafkan saya karena telah membuat kalian istri dan anak anaku menahan rindu dan rindu itu pula yang kutahan. Cukuplah usaha dan kesabaran yang maksimum yang dilakukan setelah itu Ia yang akan memutuskan yang terbaik untuk kita. Hanya kepada Dialah kita berharap bimbinganNya. Dan hanya kepadaNya doa ini kupanjatkan agar apa yang aku jalani mendapat ridhoNya. Amiin ya rabb.

 

 

2 thoughts on “5 Bulan di Belfast

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s