Jembatan Gantung Pulau Payung-Kampung Tengah Kenegerian Rumbio bak Berselimut Kain Sarung

Ada kisah menarik yang masih terngiang ngiang ditelinga saya terkait pembangunan jembatan yang menghubungkan antara pasar Rumbio dan Pulau Payung. Kenapa tidak? Konon dulu batal dan ditundanya pembangunan jembatan tersebut dikarenakan sebagian warga menolak untuk dibangunya jembatan di sana. Alasan yang saya dengar adalah sebahagian masyarakat yang mempunyai mata pencaharian sebagai tukang rakit akan hilang. Tak heran karena seandainya jembatan itu jadi dibangun maka tak akan ada lagi orang yang mau menyeberang. Maka tukang rakit tak punya pekerjaan. Setiap hari tukang rakit yang berkerja sebanyak dua orang: 1 orang tukang kemudi dan 1 orang tukang galah. Beberapa tukang angkat juga menjajakan tenaga mereka untuk mengangkat barang namun tak begitu banyak saya rasa. Berapa pendapatan rakit? Saya rasa sangat besar dan berapa yang didapat pekerja rakit saya rasa tak jauh dari gaji harian normal. Jadi ada satu orang (satu koperasi atau kelompok usaha) yang akan sejahtera yaitu pengelola rakit. Pengelola ini biasanya ditentukan dari lelang untuk durasi waktu tertentu sedangkan pekerja rakit menerima upah dari apa yang mereka kerjakan.

Apa benar penolakan sebagian masyarakat tersebut alasannya sehingga tak jadinya dibangun jembatan tersebut? Dan semenjak kapan pula pemerintah ini begitu mau mendengar keluhan masyarakat. Seandainya alasan itu yang diterima kenapa pemerintah hanya mendengar keluhan sebagian kecil warga saja dan bagaimana dengan beberapa desa lama dan pemukiman transmigrasi di seberangnya yang betul betul butuh dengan jembatan itu. Apakah keinginan warga yang populasinya ribuan jiwa ini tak layak untuk didengar?

Entahlah, namun saya merasakan alasan itu hanya alasan yang dicari saja. Lihatlah, toh akhirnya dibangun juga jembatan yang agak ke hilir dari lokasi yang direncanakan kurang lebih 3 tahun yang lalu yang menghubungkan Kampung Tengah di satu sisi dan Pulau Payung di sisi lainya. Namun sayang beribu sayang keadaan jembatan gantung ini cukup memprihatinkan. Bagi anda yang pernah merasakan lalu di jembatan yang di hilir tersebut, maka anda tak akan berani untuk melewatinya berulang ulang. Kalau anda melakukan berulang ulang pastilah karena alasan yang sangat kuat, salah satu alasan adalah: terpaksa dan tak ada pilihan lain.

Terakhir saya melewati jembatan ini pada bulan Mei 2012. Saya mengendarai sebuah mobil kecil berpenumpang 4 orang. Semua berkomentar merasa was was saat mobil lalu di atas jembatan. Ada juga yang mengatakan lebih baik lewat di jembatan Air Tiris tak apa rugi bensin sedikit asalkan aman. Begitu kata mereka. Saya memahami rasa was was mereka yang persis dengan apa yang saya rasakan.

Betapa tidak, saat roda mulai menginjak jembatan maka terdengarlah bunyi derit derit paku paku yang ada pada badan jembatan seolah olah paku tercabut dari kayu. Makin ke tengah jembatan maka jeritan dan ayunan jembatan makin terasa. Bagi sebagian orang yang paham ilmu sipil konstruksi jembatan mungkin hal ini biasa. Mungkin, karena jembatan ini adalah jembatan gantung dan tentu akan lebih mudah berayun jika dibandungkan dengan jembatan kokoh lainya.

Namun, apapun alasannya jeritan paku dan ayunan jembatan ini telah membuat was was kami yang lalu di atasnya. Ditambah lagi kayu kayu yang digunakan sudah banyak yang lapuk dan dibagian bagian tertentu bahkan kayunya sudah tak ada lagi. Maka kalau kita melihat ke bawah dari bagian yang mengangah itu maka kita bisa langsung melihat jernih air sungai Kampar yang tenang itu namun tak menjamin bahwa kami akan selamat jika sewaktu waktu mobil ini terjun ke sungai Kampar bersama rubuhnya jembatan. Untunglah beberapa warga berinisiatip untuk memperbaikinya tentunya dengan sedikit berharap dapat untuk membeli kayu pengganti dan membayar keringat yang telah mereka keluarkan. Dan tak sedikit pula masyarakat disekitar berderma dan menyumbang demi perbaikan masyarakat. Sebuah tugas perawatan yang harusnya dikerjakan oleh pihak pemerintah namun dari pada terjelubus dan menanti perbaikan yang entah kapan datangnya maka warga yang baik ini berusaha sedini mungkin untuk memperbaikinya.

Ceritanya akan bertambah miris jika kita bandingkan bagaimana Kenegerian Air Tiris dan Kenegerian Kuok memperoleh jembatan yang begitu molek dan kokoh. Kalau tak percaya cobalah tanya ke orang orang Kenegerian Rumbio. Mana yang akan mereka pilih untuk menyeberang? di jembatan gantung Kenegerian Rumbio atau Kenegerian Air Tiris? Kemungkinan besar jawaban mereka adalah mereka akan memilih menyeberang di jembatan Kenegerian Air Tiris yang sangat bagus dan kokoh itu yang telah begitu berhasil menghubungkan lalu lalang orang dari bibir sungai Kampung Panjang di satu sisi dan bibir sungai Pasar Air Tiris di sisi lainya. Biarlah jauh sedikit, bensin tentu lebih banyak habis, namun lebih aman dan cepat. Ya, tentu lebih cepat karena jika anda menyebarang di jembatan gantung Kenegerian Rumbio, maka Anda harus bergantian karena lebar badan jembatan ini hanya muat untuk satu mobil. Itupun kalau lancar. Lalu, bagaimana kalau ada mobil yang mogok ditengah jembatan dan bagaimana pula kalau masing masing pengguna di tiap tiap sisi sungai bersikeras agar mereka didahulukan. Tak terbayangkan, akan bertambah begitu lama.

Konon ada juga yang mengatakan orang Kenegerian Rumbio tak ada duduk di pemerintahan. Maka apa yang mereka dapan tentulah sisa sisa pembangunan dari daerah lain. Ah, sebuah alasan yang tak pantas untuk dijadikan alasan. Bukankah saat pemimpin ini mendeklarasikan diri mereka sebagai pemimpin dan mereka dikukuhkan sebagai pemimpin Kampar, maka kampung halaman mereka adalah semua yang terbentang di geografis Kampar ini. Kampung pemimpin tersebut tak terbatas hanya kampung tempat mereka lahir dan bukan pula kampung istri mereka. Sekali lagi kampung halaman mereka adalah seluas daerah Kampar yang terbentang begitu luas ini. Jadi, tentulah tak layak bagi mereka menganak tirikan daerah yang satu sedangkan daerah yang lain mereka kandungkan. Agaknya, jika ada tipe pemimpin seperti ini maka mereka bukanlah anak jati Kampar karena ia belum sempat mengenyam dan memahami kearifan lokal masyarakat Kampar. Jangankan ke sesama anak kandung sedangkan anak dan kemenakan saja tak boleh dibedakan bukan? Bukankah kita punya bidal “Pucuk Paku Kacang Belimbing, Anak di Pangku Kemenakan pun dibimbing”. Lalu dari mana pula muncul kesenjangan jika kearifan lokal ini diwujudkan. Tentunya pemerintah Kampar bukan tipe seperti itu dan mereka tak akan membuat negeri ini seperti membelah bambu, yang satu dipijak dan yang lain dianjung. Tentunya harus kita tunggu kebenarannya untuk dugaan yang satu ini.

Lalu, bukankah sekarang sudah ada beberapa anggota DPRD berasal dari kawasan Kenegerian Rumbio? Apakah harapan pembenahan pembangunan itu tak bisa dititipkan ke mereka. Tentunya dititipkan yang dimaksud di sini adalah dititipkan secara baik: sesuai dengan aturan anggaran dan perundangan yang berlaku. Bukankah mereka di sana ada sebagai wakil orang orang yang telah memilih mereka? Sesuai dengan nama mereka Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Jadi tugas mereka adalah mewakili rakyat. Mewakili apa yang dirasa oleh rakyat dan mewakili apa yang ingin disampaikan oleh rakyat. Salah satunya adalah sudah layaknya jembatan gantung Pulau Payung ke Kampung Tengah di Kenegerian Rumbio untuk dibangun dengan sebaik baiknya. Sempurnakan pembangunanya seperti kita berselimutkan kain panjang jangan seperti berselimutkan kain sarung ditarik ke bawah kepala terbuka dan ditarik ke atas kaki kedinginan pula. Wallahu a’lam.

5 thoughts on “Jembatan Gantung Pulau Payung-Kampung Tengah Kenegerian Rumbio bak Berselimut Kain Sarung

    • Betul🙂
      Saya browse website Pulau Tidung kemarin. Cantik sekali alam di sana ya. Suatu saat mudahan bisa singgah di sana menikmati alam negeri yang begitu indah ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s