Selama kau tak mengerti akan seseorang maka selama itu pula kau akan mencurigai dan tak mempercayainya

Selama kau tak mengerti akan seseorang maka selama itu pula kau akan mencurigainya. Kekek, begitu dia dipanggil waktu itu ia seorang pemuda yang bernama asli Rusli namun lazimnya orang orang Kampar mereka memiliki nama panggilan khasnya masing masing dan kekek lah yang melekat pada dirinya.

Usianya kira kira 5 tahun di atasku namun karena ia mudah bergaul maka aku bisa pula berkawan dengan dia. Suatu ketika tak ada satupun diantara orang kampung yang percaya bahwa dia sangat ahli mencari durian yang jatuh. Durian yang enak adalah durian yang langsung jatuh dari batangnya dan bukanlah durian yang tua lalu diperam beberapa hari. Biasanya durian jatuh pada dini hari disaat tampuk durian mengering maka saat itulah durian tersebut jatuh.

Kisah inilah yang menjadikan Kekek menarik untuk diceritakan. Sudah tersebar berita bahwa dia adik beradik paling pandai mencari durian yang jatuh tersebut. Ini membuat orang yang tak faham menjadi bingung terutama anak anak kecil. Mana mungkin malam kelam bersipek tanpa ada penerangan ia bisa menemukan durian. Bukankah ia membutuhkan suluh maupun senter untuk melihat dalam gelapnya malam.

Setelah saya coba sendiri apa yang dia lakukan tahulah saya bahwa memang hal yang aneh di mata orang lain menjadi tidak aneh kalau kita melakukan dengan pendekatan yang berbeda. Pokok durian yang tersebar merata di pekarangan belakang rumah tiap penduduk ternyata sudah ia hafal pada saat siangnya. Jadi seandainya berjalan di kegelapan malam maka ia tak akan tersandung walau tanpa penerangan sekalipun. Insting dan ingatanya waktu siang hari bermain. Dan itu ia gunakan pada malam harinya.

Sedangkan bagaimana pula ia bisa menemukan durian dalam waktu sekejap. Ini pula tambahan ceritanya. Ia tak membutuhkan cahaya karena ia tak mencari durian dengan matanya namun menggunakan pendengaran dan rabaan kaki untuk merasakan posisi durian. Desiran durian yang menyentuh dahan dan daun durian yang jatuh sebelum menuju tanah ia dengarkan baik baik dan ia gunakan untuk mereka reka kira kira dimana posisi durian bakal jatuh. Mudik, Ulak, depan atau belakang. Lalu, bunyi gedebuk ditanah adalah tanda bagi dia seberapa jauh posisi durian jika diukur dari pokok durian. Terakhir kakinya yang ia gunakan untuk menguakan semak semak yang rendah dan kecil untuk meraba raba kira kira dimana tepatnya durian itu berada. Hidung dipertajam dan aroma durian yang jatuh karena masak dibatang akan menambah informasi di mana posisi durian itu berada dan akhirnya dia akan mendapatkan durian tanpa menggunakan penerangan sama sekali di saat malam buta.

Lalu tak percaya juga kau bahwa Kekek bisa mencari durian di malam buta. Saya percaya, karena ia mencari tidak dengan matanya namun mencari menggunakan telinga, kaki dan hidungnya sehingga ia tak butuh cahaya untuk itu.

Kau tak akan pernah mau mempercayai seseorang saat kau belum mencoba mengerti akan seseorang itu. Selama itu kau selalu akan curiga. Seseorang berbuat baik kau curiga. Seseorang minta tolong kau pun curiga jangan jangan ingin menipu. Sesorang ingin menolong kau pun curiga jangan jangan ada udang di balik batu. Entahlah….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s