Filem Bollywood serta Diskon 50%+20%

Tak perlulah kau tonton filem yang sedih seduh dan sedan itu untuk membuat hatimu tersentuh. Cukuplah berjalan dan pergilah sekitar 100 m menjauh dari rumahku ini, maka kau akan melihat betapa dahsyatnya hidup bahkan lebih dramatis daripada filem Bollywood yang ingin kau tonton itu.

Di gang sana ada bang Samin yang membuka bengkel tambal, dia tetanggaku, mengontrak di sebelah rumahku. Anaknya baru satu orang saja dan masih kecil namun nampaknya tak terlalu sehat. Gizi buruk kata petugas POSYANDU.

Lalu tak jauh dari mulut gang menjelang lebuh hitam yang aspalnya sudah berlobang lobang itu, akan kau temukan sebuah pohon besar. Di situ ada seorang pak tua tukang cukur keliling yang namanya tak banyak orang yang tahu. Iya tak bertinggal di sekitar sini, agaknya rumahnya tak terlalu jauh karena saban hari ia datang ke pohon itu menggunakan sepede kayuhnya yang sudah tua itu. Iya biasanya cukup ramah namun aku tak yakin apakah cukup penghasilan untuk memberi makan 5 anak dan seorang istrinya.

Dia orang aneh yang ku tahu. Jika yang bercukur ke sana orang perumahan sekitar atau anak sekolah maka mereka akan mendapat diskon. Sangat berbeza denga teknik berdagang modern saat ini. Memberi diskon ke barang yang sudah tak laku dan itupun konon didiskon setelah harganya dinaikan. Entahlah untuk urusan culas menculas ini saya tak tahu. Itu hanya kata orang dan saya tak berani membenar dan menidakkannya.

Suatu ketika memang saya merasakan. Kata istriku, ada diskon akhir tahun yang besar besaran. Diskonnya sampai 50% lalu ditambah 20% menjadi diskon 50%+20% namun itu tak sama dengan 70% bukan?. Harga diskon 70% akan menjadi lebih murah jika dibanding dengan diskon 50%+20%. Cobalah kau hitung tentu kau lebih baik dan faham dariku soal hitung menghitung ini. Sayang sampai di toko yang memberikan diskon itu tak ada satupun yang cocok dengan saya. Bukan karena saya pemilih. Dan bukan pula karena saya berselera tinggi namun sepatu yang mereka diskon bernomor besar semua. Rata rata nomor 44 ke atas. Dan itu sangat lapang untuk tapak kaki ku yang bernomor 41 ini. Saya pulang tak membawa apa apa hanya sepasang sandal jepit yang tak seragam karena tertukar di masjid sana. Sandal jepang yang sebelah kananya bertali biru sedangkan yang kirinya berwarna merah menyala. Aku tak malu memakainya karena aku tak mencuri hanya tertukar saja tentunya yang menukar itu tak bersengaja karena ia juga akan memakai sandal belang seperti saya.

Tak jauh dari situ ada sebidang tanah kosong. Tak seperti tanah lain yang sudah menjadi perumahan. Di sini tanahnya masih kosong. Hanya ada papan nama bertulis “Milik H.Miskin diwakafkan dan akan dibangun masjid Insyaallah”. Tulisannya sudah lusuh dan tiangnya sudah lapuk. Mungkin sudah bertahun tahun papan nama itu tegak di sana. Ah tak ada yang bersedekah untuk bakal rumah yang mampu menyejukan dan menenangkan hati itu tampaknya. Yah, kita cukup angkuh untuk mengancing saku kita sehingga tak ingat bahwa semua yang kita dapat tentulah dariNya.

Ilalang di lahan yang akan dibangun masjid itu sudah ditebas sekenanya tak menggunakan mesin potong rumput nampaknya. Namun karena banyak kaki yang memijak maka akhirnya lapang jua jadinya. Di situ akan kau lihat, banyak berjejer rapi belasan odong odong. Terlihat otot kaki yang kurus dan dengan urat singongownya yang menonjol mendayung lemah. Sedangkan matanya acuh memandang dan menghitung berulang ulang lembaran ribuan yang tak seberapa itu. Seolah olah semakin sering dihitung maka jumlahnya akan bertambah. Sekali kali ia melengong ke kiri dan kanan berharap ada anak kecil yang menarik narik tangan ayah dan ibunya agar diizinkan untuk naik odong odong tersebut. Tentunya harganya pasti murah. Untuk selama 5 putaran lagu anak anak yang cukup polos dan bersemangat itu hanya 5 ribu rupiah dan terkadang ia mendiskonya menjadi 4 ribu Karena telah main selama 5 putaran. Sebagai penglaris itu katanya.

Mereka yang berjejer di tanah lapang itu, sebahagianya akan pulang larut malam dan biasanya dan biasanya lagi, mereka memulai pada jam yang tak dipastikan. Kalau petugas lagi cuti, maka mereka bisa memulai agak sore kalau lagi tak bernasib baik maka tak jarang akan kau lihat mereka lari tunggang langgang seperti dikejar makhluk yang menakutkan karena takut akan ditangkap. Padahal yang mengejar mereka juga manusia biasa bukan???

Lalu, jadi juga kau menonton filem itu??? Aku tidak…untuk kau, maka, itu terserah kau lah.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s