Serakah dan Lika liku kesuksesan

Banyak orang bersemangat membeberkan kesuksesan dan jalan hidup yang mereka tempuh namun hanya sedikit yang sadar bahwa jalan mereka tempuh belum tentu pas untuk orang lain. Seorang kawan yang belum tahu latar belakang saya sangat bersemangat mengatakan bahwa Ia sebisa mungkin meraih pendidikan setinggi mungkin baru setelah itu menikah. Saran itu ia katakan ke saya dan seolah menyarankan agar saya melakukan hal yang sama. “Tak mungkin” jawab saya singkat dan padat. “Saya sekarang sudah 34 tahun punya istri 1 dan dikaruniai tiga orang putra dan putri yang sangat lucu sekali, dan baru saja memulai studi saya. Jadi saya tak akan pernah merasakan apa yang bakal anda rasakan kecuali saya harus surut ke waktu yang terdahulu”. Namun sayang bahwa waktu bukan milik kita dan Dialah yang bisa mengatur sekejap maupun lamanya waktu itu.

Tanpa bermaksud agar dia meniru langkah saya bahwa saya memang memilih sebaliknya. Saya beberkan pula kisah hidup saya yang tak berapa lama dan hanya pendek ini. Setelah saya memiliki pekerjaan “tetap” maka saya akan meminang dan menikahi seorang perempuan yang saya inginkan. Menurut saya cita cita saya tersebut cukup berhasil karena saya bisa mencapai target yang saya buat tersebut: saya dapat pekerjaan, punya istri dan memiliki anak. Cukup untuk saat itu dan dan berhasil menurut saya sesuai target yang sudah saya pasang.

Tak ada salahnya untuk memiliki jalur kesusksesan kita masing masing namun tentunya kisah sukses orang terdahulu tentu kita jadikan pelajaran pula. Hidup ini akan terasa indah jika lika liku dan gaya yang tiap orang berbeda. Ada yang betah menjadi tambal ban namun tak mau serakah menjual bensin eceran dikarenakan kaki lima di sebelahnya juga menjual hal yang sama. Ada yang bekerja tanpa mematok harga bahkan saat bayaran kerjaanya dilebihkan maka ia buru buru mencari kembaliannya karena ia merasa penghasilan yang ia dapat dari sepuluh jarinya akan lebih indah untuk dinikmati ketimbang berharap “pemberian” orang lain.

Terkadang kita sangat serakah tidak hanya urusan harta dan benda serta kemewahan lainya. Bahkan terkadang kita juga menginginkan orang lain memilih jalur hidup seperti kita seolah jalur hidup orang tersebut salah. Kita tidak tahu bukan, bahwa bisa jadi jalur hidup yang ia tempuh memang itulah yang cocok untuknya. Maka tak heranlah kita melihat sesuatu yang ganjil di mata kita, seperti: Saya kira dia tak akan lulus SD karena bodoh sekali eh sekarang malah jadi profesor yang terkenal. Saya kira dia akan melanjutkan ke SMA binaan ternyata dia melanjutkan ke pesantren yang tak terkenal dan meraih PhD nya di Mesir, dan banyak contoh lain yang jika kita fikir ini cocok namun itu tak cocok untuk seseorang namun yang berlaku malah sebaliknya.

Menurut saya, orang memiliki lika liku dan jalan suksesnya masing masing. Tambahan, sejarah orang hanyalah menjadi bahan pengajaran. Namun, sejarah manusia panutan akan selalu menjadi tuntunan dan teladan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s