Sosok Ayah

Sosok almarhum ayah takkan terlupa. Beliau hidup kurang lebih 70 tahun lamanya. Lahir 22 Februari 1940 dan berpulang 03 Desember 2010. Sepanjang umurnya beliau jarang sakit. Memang diakhir hayatnya beliau sakit selama lebih kurang 27 hari sebelum ia dijemput sang khalik. Yang membuat kami kehilangan.

Yang saya rasakan adalah bahwa belum sempat rasanya Kami berbakti ke beliau tanpa terasa ia sudah meninggalkan Kami. Banyak rasanya sosok beliau yang saya jadikan teladan. Kerja keras dalam mencari nafkah dan kecintaan beliau akan ilmu.

Sering sekali beliau berangkat di pagi hari lalu baru menjelang magrib beliau pulang ke rumah. Pekerjaan sebagai peternak harus dilakukan dengan sabar. Kerbau kerbau harus digembalakan dengan baik agar tak mengganggu sawah ladang orang. Pagi hari harus membuka kandang dan sore harinya harus memasukan ke kandang. Saat musim berladang tiba saat itulah yang paling berat karena kerbau memang harus benar benar digemabalakan agar tak sampai masuk ke tanaman orang.

Rindu Kami kepada sosok beliau terobati saat malam tiba. Rutin tiap malam dan setiap habis mengaji di surau kami selalu makan bersama. Saat itulah Kami bercengkerama. Saling bercerita dan bertukar kisah. Saat malamlah saya selalu banyak bertanya ke ayah. Terlebih pelajaran sekolah. Bahkan saya masih bertanya soal matematika ke beliau bila tak bisa menemukan jawabannya. Terkadang saya sampai menangis (penasaran) seandainya jawaban itu belum saya temukan. Saya memang mencintai pelajaran ini sejak kecil. Konon ayah dari ayah saya (datuk) adalah salah satu ahli falaq. Mungkin bakat beliau ini menurun ke ayah dan menjadi kegemaran bagi saya.

Selain itu hampir tiap malam beliau membuka buku. Rangkaian kegiatan malam beliau setelah mengajar Kami adalah menyalakan TV dan mendengarkan berita “Dunia dalam Berita” dari TVI lalu ia lanjutkan dengan membaca buku. Saat itu hanya penerangan lampu pelita semprong yang kami gunakan karena belum ada listrik yang masuk ke kampung (listrik masuk 1994). Kursi yang ia gunakan saat membacapun bukan kursi yang empuk, sebuah kursi bundar tanpa ada sandaran. Namun ia betah membaca seolah olah tak terpengaruh oleh penerangan dan fasilitas lain yang sederhana. Begitu yang ia lakukan hampir setiap malam bahkan kalau ada pekerjaan lain di malam hari yang ia lakukan maka setelah pekerjaan itu selesai biasanya beliau tetap melanjutkan membaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s