Kuliah Tingkat I dan Sekolah SD Kelas I

Kemarin Kamis 13 Desember 2012, saya mengikuti pelatihan sebagai demonstrator project transformator untuk level I undergarduate student di SoEEECS Queen’s Univeristy Belfast. Peserta pelatihan adalah semua PhD student dan narasumber adalah research fellow, post doctoral student serta teknisi.

Pelatihan singkat dimulai dengan perancangan dasar pembuatan trasformator daya. Semua perhitungan menggunakan spread sheet (excell). Hasil perancangan ini nantinya akan dilanjutkan dengan pembuatan transformatornya. Pekerjaan yang agak rumit nanti adalah pekerjaan melilit. Namun hal ini ternyata tak menjadi kendala karena dilakukan dengan automatic winding machine.

Langkah tiap langkah proses pelaksaan project ini dijelaskan dengan sederhana dan dapat diserap dengan mudah. Khususnya bagi PhD student yang pernah jadi dosen. Tugas selanjutnya adalah mengawal mahasiswa undergraduate level I pada semester depan. Kurang lebih akan ada 60 mahasiswa yang akan melaksanakan project ini. Tiap kelompok akan terdiri dari 2 orang sehingga akan ada 30 kelompok dengan project yang sama, yaitu project transformator. Agar berbeda maka variabel perancangan diubah ubah baik dari segi teknis maupun biaya.

Saat pelatihan singkat diwanti wanti agar pelaksanaan nantinya sebaik mungkin terutama menyangkut keamanaan mahasiswa karena akan menggunakan peralatan tertentu. Dari sekian banyak alat yang dipandang membahayakan adalah cutter yang digunakan untuk meraut isolasi kawat lilitan. Kenapa tak memakai api saja, lalu teknisi mengatakan bahwa ia tak mau fire alarm berbunyi maka diputuskan untuk menggunakan cutter serta mewanti wanti agar mahasiswa tidak akan melukai tanganya saat meraut.

Pengujian yang dilakukan juga sederhana. Dihimbau agar tidak melakukan pengujian yang belum diberikan teori sebelumnya. Intinya mahasiswa dibuat menikamti project yang akan mereka lakukan.

Saya menjadi terkenang dengan anak saya yang kelas I SD. Sudah 5 hari dia melaksanakan ujian dan setiap harinya ada 2 ujian. Ini akan ditambah dengan ujian dari Dinas karena iya bersekolah di sekolah swasta. Walau saya belum melihat keluhan dari anak saya namun dari laporan istri nilainya cukup baik. Pelajaran yang iya sukai mendapat nilai baik semua. Menggambar, berhitung dapat angka 10. Pelajaran bahasa dan Moral kurang dari itu. Apakah ada korelasi antara nilai dengan banyak beban mata pelajaran? Atau dengan ketertarikan mata pelajaran? Saya merasakan bahwa anak saya memang menyukai pelajaran berhitung serta pelajaran seni namun akan kesulitan menjawab pilihan ganda ilmu ilmu sosial (moral, bahasa, dll). Mungkin saja pertanyaanya yang membuat bingung? Atau penguasaan materi yang kurang? Sudahlah, saya tak akan mempermasalahkannya. Bagi saya bukan nilai itu yang menjadi “kebanggaan”. Terlebih yang saya inginkan adalah saat iya menjadi tahu apa apa yang baik yang ingin iya ketahui.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s