Bersikap lemah lembut ke Anak Anak

Saya baru pindahan ke rumah baru. Kurang lebih lima hari setelah idul fitri 2012 M. Pindah ke perumahan UNRI. Setiap ke masjid Syafiq selalu minta ikut. Khususnya sholat magrib. Iya selalu membonceng di sepeda Raleigh milik almarhum ayah. Tempat duduk anak anak saya cantolkan di stang sepeda. Di situlah syafiq (2 thn 7 bulan) duduk. Kalau hari libur dan masih berada di perumahan maka saya sholat zhuhurnya di perumahan.

Kejadian zhuhur waktu itu agak sedikit aneh. Seperti biasa sampai masjid saya tunaikan solat sunah. Syafiq menyusul dari belakang. Setelah itu duduk di samping saya. Sesaat menjelang iqomah zhuhur tak sengaja tangannya mengenai kotoran cicak yang berada di lantai di dekat dinding depan. Lalu saya suruh dia untuk membersihkan tangannya. ‘Syafiq bisa cuci tangan sendiri nak?”. Lalu dia katakan “Bisa Ayah”.

Sesaat menjelang takbir lalu terdengar ia menjerit keras. Lalu lari masuk masjid dan menuju shaf pertama tempat saya sholat karena jamaah zhuhur tidak terlalu banyak waktu itu. Takut jamaah lain merasa terganggu lantas dia saya bawa keluar. Saya lihat seorang bapak lagi berjalan menuju masjid dari motor yang ia parkirkan yang tak jauh dari tempat wuduk. Ia jamaah masjid perumahan juga nampaknya. Karena berkain sarung. Kalau orang lalu biasanya sholat tak pakai sarung namun pakai celanan panjang. Saya tak kenal karena saya warga baru. “Anak bapak? Ia tadi buang buang air…memutar kran” katanya sambil menjelaskan. Dengan suara cukup tinggi saya jelaskan ke bapak tersebut bahwa anak saya tak buang buang air dan dia mencuci tangan. Karena ada kotoran ditangannya maka saya suruh ia membasuh tanganya.

Spontanitas saya dalam membela syafiq dengan menunjukan suara bernada tinggi (namun bukan perkataan yang tidak baik) ada dua penyebab: pertama, saya masih dalam suasana terkejut mendengar Syafiq menjerit karena sebelum sebelumnya dia tidak pernah menjerit sehebat itu dan yang kedua saya merasakan bahwa orang tua tak boleh sembarangan memberitahukan ke anak-anak sehingga si anak merasa ketakutan yang ini harus saya ingatkan agar tidak ia ulang lagi ke anak lain karena itu bisa menyebabkan si anak sedih dan ketakutan (hampir tiga hari setelah Syafiq tak mau ikut ke masjid dan di hari berikutnya ia ke masjid matanya seolah olah mencari sosok sesorang). Ia sempat membela diri bahwa ia hanya melarang jangan buang air karena selama ini anak anak murid MDA di kawasan masjid selalu membuang air. Saya bertanya: apa anak saya mebuang air? Dia tidak bisa menjawab. Lalu saya bergegas dan menjadi jamaah masbuk.

Teringat dengan sabda rasul “Fatimah adalah separuh dari diriku. Siapa yang menyakiti hatinya berarti menyakiti hatiku”. Saya hanya mau agar hati anak saya tak disakiti dengan ketakutan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s