Pedagang Kecil

Tujuan belanja saat ini identik dengan supermarket dan mall mall sehingga terkadang membuat pedagang kecil menjadi sepi peminat. Pekanbaru salah satu kota di pulau Sumatera yang memiliki perkembangan kota yang cukup pesat. Tak heranlah kita banyak supermarket (brand nasional dan internasional) yang bertebaran di kota Bertuah ini. Hampir di setiap penjuru mata angin supermarket dan mall mall ini ada dan berada pada simpang dan jalan yang sangat strategis. Walau sebenarnya diukur dengan jarak berjalan kaki cukup jauh dari lokasi perumahan yang berada di pinggir pinggir kota.

Ada hal yang menarik pada diri kita yang cukup menggelitik saya bahkan hal inipun terkadang saya lakukan. Pilih kasih karena beda harga dan alasan memanjakan mata. Bukankah, selain supermarket dan mall mall yang bertebaran tersebut juga banyak terdapat pedagang kecil dengan kedai kedai kecilnya. Pedagang yang membuka usaha mereka di sebuah perumahan misalnya. Perumahan dengan bangunan dan lahan yang tidak seberapa luas itu disulap si pemiliknya. Laluu didirikan bangunan tambahan dengan luas sederhana dan bentuk yang sederhana, sebuah kedai. Di kedai itu bisa untuk memajangkan dagangan kebutuhan rumah tangga dari kebutuhan dapur sampai kebutuhan khusus lainya.

Namun selama yang saya rasakan, kita masih cenderung untuk berbelanja ke tempat yang lebih besar, seperti supermarket dan mall mall tersebut. Alasannya: harganya lebih murah dan sekaligus untuk penyegaran karena bisa menghibur mata untuk melihat barang barang yang beraneka bentuk dan rupa serta mengajak keluarga berkeliling.

Jadilah para pedagang kecil dengan kedai kecilnya hanya menampung pembeli yang tidak begitu banyak karena para pelanggang beralih ke supermarket dan mall mall besar. Pelanggan sudah mengagendakan waktu tertentu dan terkadang menjadi janji kepada anak anak mereka untuk berkunjung ke sana. Mereka para penggerak usaha kecil ini sepi peminat dan lengang. Dan tentu berdampak ke penghasilan pemilik kedan dan berkemungkinan untungnya juga tidak seberapa. Belum tentu bisa untuk modal belanja selanjutnya apalagi memberikan hasil lebih buat diri dan keluarga mereka. Permasalahan sebenarnya bukan dari jumlah konsumen, karena kalau ditilik dari konsumen sebenarnya tidak jadi masalah. Setidaknya pada lokasi di sebuah perumahan yang ada di Pekanbaru paling tidak ada ratusan unit rumah berbagai tipe didirikan di sana. Perumahan tempat saya tinggal pun lebih dari 600 unit. Artinya jika semua unit dihuni maka sudah ada 600 kk yang bertinggal di sana. Sebuah potensi pasar yang sangat besar tentunya.

Saya yakin bahwa harga pedagang kecil yang sedikit mahal dibanding supermarket ini bukan karena mereka mengambil untuk besar. Namun karena pedagang kecil ini memperoleh barang dagangannya dengan modal yang lebih besar. Mereka harus mengikuti rantai distribusi yang cukup panjang sehingga harga beli mereka lebih tinggi dibanding dengan harga beli supermarket yang bisa berhubungan langsung ke Pabrik atau distributor besar. Jadinya, agar mendapat sedikit untuk mereka terpaksa menjual di atas harga modal yang sudah tinggi itu dan tentunya lebih tinggi dari harga supermarket dan mall mall.

Beda harga memang tak terlalu besar antara supermarket dan kedai kedai ini. Kadang 300-2.000 rupiah. Namun itulah sifat kita manusia selalu mencari untuk dari segi hitung dan angka. Angka 300-2.000 rupiah bukanlah harga besar sebenarnya. Bukankah seandainya itu walau sebuah angka yang besar namun kita niatkan untuk membantu mereka pedagang kecil maka itu lebih berguna. Bisa jadi itu untuk membiaya hidup mereka, sekolah anak mereka, dsb.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s