Kejadian Lama Seolah Kemarin

Waktu berjalan dengan cepat sekali. Kejadian lama seolah baru terjadi kemarin.

Baru kemarin rasanya saya lepas dari air (sunat al rasul). Dan serasa baru petang kemarin saya berulang ke tepian sungai Kampar. Sungai yang mengalir dan melewati Kampung saya. Di Kubu Cubadak. Di kenegerian Rumbio. Di negeri yang dikenal dengan julukannya tahan panjung. Konon dulunya memang banyak anak negeri ini yang tahan akan tusukan koghi (keris) dan bacokan gadubang (parang pendek) atau pun tebasan canduong (parang) panjang. Sungai yang airnya begitu sangat jernih. Kadang ke sungai itu hanya untuk sekedar mandi dan bermain di pinggirannya dengan teman. Seperti kebiasan orang Kampar lainya saya tak lepas dari sungai ini. Permainan yang kami mainkan tak jauh dari sungai. Sadundo (gulat), perang air, terjun ciwok (loncat indah), bermain lolang (layang), balapan renang, lempar si lancuik (melembar batu yang tipis di permukaan air sehingga batu itu melompat lompat sebanyak mungkin), balapan selam (menyelam selama mungkin), menangkap ikan dan banyak sekali yang tak dapat diperinci.

Rasanya baru kemarin saya berangkat ke Semarang dengan menumpang bus AKAP PT.ALS untuk melanjutkan sekolah di sana. Dan masih terasa waktu meriah pesta pernikahan dan sekarang saya sudah mempunyai anak tiga. Saya belum lama jadi pengajar dan ternyata sudah ada beberapa orang alumni yang memanggil saya Bapak. Bandung kota sejuk dan nyaman. Sangat tepat untuk belajar. Namun sulit menilai mana yang terbaik antara bandung dan semarang. Dua duanya sangat memberi kesana.Dan dua duanya serasa baru kemarin.

Sekarang saya sudah berada di sini. Di Belfast, Irlandia Utara. Di negeri yang jauh sebenarnya. Harus ditempuh selama 27 jam dengan pesawat udara dan menyinggahi 2 bandar udara Changi, Singapore dan Heathrow, London. Dan ia terasa sangat jauh saat yang kita kasihi tak di sisi. Terbayang senyum ayahanda yang sangat penyayang dan bertanggung jawab dan terkenang senyum abang yang selalu memberikan dorongan agar saya sekolah lagi. Padahal mereka berdua sudah berbilang tahun meninggalkan kami karena dipanggil yang maha kuasa yang maha memiliki. Namun serasa baru tadi kepergian mereka itu. Belum kering air mata saya rasanya menangisi mereka.

Terbayang senyum ibunda. Seorang ibu yang tak pernah berhenti memberikan kasih. Sangat panjang kasihnya. Sepanjang jalan…jalan tak berujung dan tak pernah berhenti. Hanya nyawa titik hentinya. Terkenang senyum tulus istri. Anak anak dia yang mengurus. Tentu dia begitu sibuk. Mengurus tiga anak bukan perkara mudah. Ah…tawa riang ketiga anak yang baik itu seolah terngiang ngiang di telinga. Ini membuat rindu menjadi jadi tak terperih.

 

Belfast@21:19;08112012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s