Keledai yang Bijak

Source: Oral Tradition (Sufi Tales from Attar to Rumi by Ali Kehyani, October 2009)

Translated by: Iswadi HR

 

Di sebuah kota yang bernama Kashan, yang berjarak 100 mile sebelah timur kota Qom, hiduplah seorang petani yang miskin yang bernama Ahmed. Kampung Ahmed terletak dipinggir sebuah gurun pasir, menghadap ke pegunungan tandus di sebelah utaranya. Di ketinggian gunung, yang selalu dihujani salju lebat yang yang terjadi dari Desember sampai Maret. Karena lelehan salju, maka air tetap mengalir di sebuah sungai yang mengalir menuju lembah yang terjadi sampai bulan Mei, dan kemudian mengalami kekeringan sampai akhir tahun. Para petani menggali sumur di lereng gunung, dan kemudian menghubungkan sumur tersebut dengan beberapa saluran, yang digunakan untuk mengalirkan air menuju lembah. Ahmed, seperti halnya petani yang lain, medapat bagian air untuk tanaman melon yang ia tanami di ladangnya. Setiap hari, ia bangun sebelum fajar, melaksanakan sholat Subuh, berzikir atas berkahNya, dan kemudian pergi bekerja di ladang, di bawah sengatan terik matahari. Dia bekerja dengan gembira walaupun keringat bercucuran di sekujur badanya. Dia mengumpulkan melon melon tersebut dalam sebuah karung goni, dan meletakannya di atas punggung keledainya, dan kemudian membawanya ke pasar.

 

Suatu hari, saat dalam perjalanan menuju pasar, Keledai tersebut terperosok ke dalam sumur tua. Ahmed duduk di pinggir sumur dan mendengarkan keledainya, yang sedang menangis menghiba-hiba. Mendengar suara tangisan keledainya, Ahmed menyangka bahwa keledai tersebut mungkin terluka dibagian kakinya, dan karena keledainya sudah tua, dia berfikir bahwa sudah seharusnya dia mengeluarkan keledai tersebut dari penderitaannya. Dia kemudian balik ke desanya dan meminta beberapa orang desa untuk menolongnya. Ahmed meminta setiap orang untuk menyekop tanah dan menimbunnya ke sumur. Karena tidak tahu apa yang sedang terjadi, keledai, berteriak dan menangis sedih mengira ia akan ditimbun. Namun para petani melihat ke dalam sumur and sangat kaget dengan apa yang mereka lihat. Dengan beberapa sekopan tanah di atas punggungnya, keledai tersebut melakukan sesuatu yang sangat mencengangkan. Keledai mengguncangkan badannya sehingga tanah yang dipunggungnya terjatuh. Karena para petani melanjutkan untuk menibunkan tanah ke sumur memungkinan Keledai untuk mencapai bibir sumur karena sumur menjadi bertambah dangkal. Kemudian ahmed berucap kepada para petani ” kita semua harus belajar dari keledaiku. Jika dalam kehidupanmu kami diterpa sesuatu yang kotor (tak mengenakan), cara untuk keluar dari kesulitan yang tidak mengenangakan tersebut adalah jangan membiarkan kotoran tersebut menenggelamkanmu. Buang jauh kesulitan tersebut dan tetaplah melangkah ke depan. Setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya. Seperti keledai tadi, kita timbun sumurnya, dan iya menghindari tanah yang mengenai punggungnya, sumur makin dangkal, setelah itu berdo’a kepada Allah”.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s