Kecerdasan Otak Tengah

Waktu kelas 1 SMP di tahun 1991, aku masih berjalan menyusuri jalan di sisi sungai Kampar untuk menuju SMP sejauh 2 km. Setelah tebing dan Mokam yang berjejeran rapi itu mengalah atas hantaman arus sungai dan bahkan lapangan bola yang sangat terkenal itu pun ikut dibawah arus sungai. Di lapangan bola itu banyak klub bola yang terkenal yang pernah mencoba r umput lapanganya yang hijau. PSPS Pekanbaru, RUMPO Pekanbaru, dan SEMEN PADANG adalah klub beruntung dan pernah menjadi juara di sini. Namun hanya satu klub kebanggaan kami PORTIKA (Persatuan Olah Raga TIga KAmpung: Kubu Cubadak, Teratak, dan Pasubilah). PORTIKA adalah klub tua yang pernah ada di negeri kami. Pemain yang bermain di klub kecil tersebut diambil dari pemuda-pemuda tiga kampung yang pernah mengharumkan nama AMOR (Angkatan Mudah Olahraga Rumbio) yang merupakan klub sepak bola di kenegerian Rumbio. Melihat lapangan di kampung ini, berbeda dengan rumput sintesis lapangan eropa yang pernah ku lihat. Old Traford di Manchester tidak melebihi indahnya Gelora Bung Karno di Jakarta dan tentunya rumput alami lapangan PORTIKA di Kubu Cubadak lebih empuk di banding rumput sintetis di sana karena ia diberi pupuk alami. Kadang kerbau ayah lepas tandang sampai ke sana. Onggokan-onggokan kotoranya yang menghitam menjadikan rumputnya menghijau subur.

Karena tergerusnya jalan di sisi sungai Kampar tersebut, waktu aku kelas 2 SMP di tahun 1992, jalan pun di dipindah di antara daerah Pun Pokak dan Tebing sungai Kampar. Di jalan baru itu berkedailah Mak Sunah yang berjualan sate. Hmmmm, tabungan yang ku sisihkan di saku belakang bagian kiri tidak pernah menghuni celengan karena ia selalu ku “balanjokan” untuk menikamti rasa sate ayamnya yang khas itu.

Menjelang kelas 3 SMP pada akhir tahun 1994, ayah terpaksa membelikanku sebuah sepeda karena jalan di pindah ke Pun Pokak. Jalan baru yang membelah sawah ini lebih panas dari jalan di pinggir sungai karena di sana tidak ada pohon di kiri maupun di kanannya. Tentu itu akan membuat kulitku tambah legam dan lebih legam dari pada saat aku selesai mandi “balumbo” di sungai Kampar yang jernih itu. Dari amak lah aku tahu bahwa diam-diam ayah menindik hidung kerbaunya agar mudah untuk dituntun ke gelanggang Kamis di Rumbio seberang. Kerbau pun berpindah ke tangan seorang toke. Imbalnya ayah membawakan sebuah sepeda untuku dan sisanya untuk keperluan lain. Pria separoh baya itu, pria yang hebat yang saya kenal. Ia adalah ayahku. Membuat keputusan terbaik tanpa ragu adalah wataknya. Ia juga memiliki kecerdasan luar biasa. Konon hanya dengan menepuk paha depan kerbau ia bisa mengetahui berat bersih dagingnya. Tahun 2011 ini revolusi kecerdasan ditemukan bahwa manusia selain melatih otak kiri dan otak kanan ia juga harus melatih otak tengahnya. Apa yang dilakukan ayah dalam menaksir daging kerbau sebenarnya adalah terapan otak tengah. Sama halnya ketiak aku mencari durian di malam buta tanpa penerangan belaka dengan hanya mendengar desiran daun dan gedebuk di tanah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s